Pengertian Istiqomah
Istiqomah menurut bahasa adalah pendirian yang teguh atas jalan yang
lurus. Sedangkan menurut istilah, istiqomah adalah bentuk kualitas batin
yang melahirkan sikap konsisten (taat asas) dan teguh pendirian untuk
menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi
yang lebih baik, sebagaimana kata taqwim merujuk pula pada bentuk yang
sempurna.
اهدنا الصراط المستقيم
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Mustaqiim adalah ragkaian kata dari istiqomah. Kalau jalan yang lurus, shirotha mustaqiim telah diberikan, tercapailah sudah istiqomah.
Mengenai pengertian istiqomah itu sendiri, para ulama berbeda
pendapat. Menurut Abu al-Qasim al-Qusyairi, istiqomah adalah sebuah
tingkatan yang menjadi pelengkap dan penyempurna segala urusan. Lantaran
istiqomahlah segala kebaikan berikut aturannya dapat terwujud. Orang
yang tidak istiqomah dalam melakukan urusannya pasti akan sia-sia dan
mengalami kegagalan.
Adapula yang berpendapat, istiqomah hanya mampu dilakukan oleh
orang-orang besar karena istiqomah itu keluar dari kebiasaan,
bertentangan dari tradisi, dan melakukan hakikat kejujuran di hadapan
Allah SWT. Berangkat dari inilah Nabi bersabda, “istiqomahlah, sekalipun
kalian tetap tidak akan mampu.” (HR. Ahmad)
Lain halnya dengan al-Wasithi, menurut beliau istiqomah adalah sifat
yang bisa menjadikan sempurnanya kebaikan. Apabila ia hilang,
kebaikan-kebaikan menjadi buruk.
Para ulam berbeda pendapat dalam menentukan istiqomah. Abu Bakar
menafsirkan bahwa meraka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan
Allah SWT dengan sesuatupun. Ada yang menafsirkan bahwa mereka adalah
yang masuk Islam lalu tidak menyekutukan Allah SWT dengan susuatupun
hingga mereka menghadap kepada-Nya. Yang lainnya menafsirkan bahwa
mereka istiqomah di atas kalimat syahadat, dan tafsiran yang lainnya
bahwa mereka istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya.
Menurut Abu Ali ad-Daqqaq, ada tiga derajat pengertian istiqomah,
yaitu menegakkan atau membentuk sesuatu ( taqwiim ), menyehatkan dan
meluruskan ( iqomah ), dan berlaku lurus ( istiqomah ). Taqwim
menyangkut disiplin jiwa, iqomah berkaitan dengan penyempurnaan, dan
istiqomah berhubungan dengan tindakan mendekatkan diri pada Allah SWT.
Sikap istiqomah menunjukkan kekuatan iman yang merasuki seluruh jiwa,
sehingga seseorang tidak akan mudah goncang atau cepat menyerah pada
tantangan atau tekanan. Mereka yang memiliki jiwa istiqomah itu adalah
tipe manusia yang merasakan ketenangan luar biasa walau penampakkannya
di luar bagai seorang yang gelisah. Dia merasa tenteran karena apa yang
dia lakukan merupakan rangkaian ibadah sebagai bukti mahabbah. Tidak ada
rasa takut apalagi keraguan.Kegelisahan yang dimaksud janganlah ditafsirkan sebagai resah. Ia adalah metafora ( tamsil ) dari sikap dinamis atau sebuah obsesi kerinduan untuk mengerahkan seluruh daya dan akal budinya agar hasil pekerjaannya berakhir dengan baik atau sempurna.
Dengan demikian, istiqomah bukanlah berarti sebuah sikap yang jumud, tidak mau adanya perubahan, namun sebuah kindisi yang tetap konsisten menuju arah yang diyakininya dengan tetap terbuka terhadap gagasan inovatif yang akan menunjang atau memberikan kontribusi positif untuk pencapaian tujuannya. Mengomentari masalah ini, Dr. Nurcholis Madjid berkata, “Kesalahan itu timbul antara lain akibat persepsi bahwa istiqomah mengandung makna yang statis. Memang istiqomah mengandung arti kemantapan, tetapi tidak berarti kemandekkan, namun lebih dekat kepada arti stabilitas yang dinamis”, maka itulah yang disebut istiqomah.
Pribadi muslim yang profesional dan berakhlak memiliki sikap
konsisten yaitu kemampuan untuk bersikap pantang menyerah, mampu
mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan
resiko yang membahayakan dirinya. Mereka mampu memngendalikan diri dan
mengelola emosinya secara efektif. Sikap konsisten telah melahirkan
kepercayaan diri yang kuat dan memiliki integritas serta mampu mengelola
stres dengan tetap penuh gairah. Seorang yang istiqomah tidak mudah
berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya.
Dia tetap pada niat semula.
Istiqomah berarti berhadapan dengan segala rintangan, konsisten
berarti tetap menapaki jalan yang lurus walaupun sejuta halangan
menghadang. Iman dan istiqomah akan membuahkan keselamatan dari segala
macam keburukan dan meraih segala macam yang dicintai. Orang yang
istiqomah juga akan dianugerahi kekokohan dan kemenangan, serta
kesuksesan memerangi hawa nafsu. Beruntunglah orang yang mampu istiqomah
dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Khususnya pada zaman seperti
ini, saat cobaan, ujian, dan godaan selalu menghiasi kehidupan. Siapa
saja yang kuat imannya akan menuai keberuntungan yang besar. Dan siapa
saja yang lemah imannya akan tersungkur di tengah belantara kehidupan
dan mengecap pahitnya kegagalan.
Maka mari kita senantiasa meningkatkan iman dan memohon kepada Allah
SWT agar bisa istiqomah dalam beramal shaleh. Terlebih dalam dua hal,
yaitu istiqomah dalam keikhlasan dan mengikuti ajaran Allah SWT dan
Rasul-Nya.
Dalil-dalil Istiqomah
QS. Huud (11): 112
Artinya: Maka konsisitenlah sebagaimana telah diperintahkan kepadamu
dan juga orang yang telah taubat bersamamu, dan janganlah kamu
melalampaui batas. Sesungguhnya dia menyangkut apa yang kamu lakukan,
maha melihat.
Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammmad SAW untuk konsisten dalam
melaksanakan dan menegakkan tuntunan wahyu-wahyu Illahi sebaik mungkin
sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana mestinya. Tuntuna wahyu
bermacam-macam, ia mencakup seluruh persoalan agama dan kehidupan dunia
maupun akhirat. Denagn demikian, perintah tersebut mencakup perbaikan
kehidupan dunia dan ukhrowi, pribadi, masyarakat dan lingkungan. Karena
itu, perintah ini sungguh sangat berat. Itu sebabnya sahabat Nabi Ibnu
Abbas ra. berkomentar, tidak ada ayat yang turun kepada Nabi Muhammd SAW
lebih berat dari ayat ini dan agaknya itu pula sebabnya sehingga Nabi
Muhammad SAW bersabda bahwa surah Huud menjadikan beliau beruban. Ketika
ditanya apa yang terdapat pada surah Huud yang menjadikan beliau
beruban, beliau menjawab, “Perintah-Nya, fastaqim
kamaa umirta ”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika turunnya
ayat ini beliau bersabda, ”Bersunggguh-sungguhlah,
Bersunggguh-sungguhlah”. Dan sejak itu beliau tidak pernah lagi terlihat
tertawa terbahak. (HR. Ibn Abi Hatim dan Abu asy-Syaikh melalui
al-Hasan)
Ayat sebelum ini berbicara tentang kitab Nabi Musa as dan pertikaian
umatnya tentang kitab suci Taurat. Ayat ini melarang umat Islam bertikai
seperti halnya pertikaian itu dan memerintahkan untuk konsisten
memelihara dan mengamalkan kitab suci. Semua sepakat tentang Al-Quran
yang dimulai dengan surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas
QS. Fushilat (41): 30-32
Artinya:
30. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan
turun kepada mereka (dengan berkata) “Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kanu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan memperoleh
surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidpan dunia dan akhirat di
dalamnya surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh
apa yang kamu minta.
32. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Inilah lanjutan dari bisikan malaikat yang disampaikan kedalam jiwa
orang yang telah mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya dan tetap teguh
memegang pendirian, tidak berubah dan tidak beranjak, sebab hanyalah
Allah tempat berlindung, tidak ada yang lain. Allahlah tempat memohonkan
pertolongan, yang lain tidak. Maka selain dari ketenteraman hati diatas
dunia ini sebagai alat paling penting untuk pertahanan jiwa dalam
menghadapi serba-serbi gelombang kehidupan, dijanjikan pula bahwa kelak
akan dimasukkan ke dalam surga.
Sambungan bujukan malaikat-malaikat itu yakni bahwasanya dengan izin
dan perintah dari Allah mereka memberikan jaminan perlindungan bagi
orang yang teguh memegang pendirian bertuhan kepada Allah itu, baik
semasa hidupnya di dunia terutama di akhirat kelak. Maka bertambah
condonglah kita kepada pendapat yang telah kita kemukakan diatas tadi,
yaitu bahwa malaikat datang bukanlah semata-mata dikala orang yang teguh
pendirian itu akan meninggal saja bahkan pada masa hidup dalam kondisi
apapun. Fahruddin menulis dalam tafsirnya tentang maksud ayat ini,
malaikat memberikan perlindungan atau pimpinan ialah bahwa kekuatan
malaikat itu ada pengaruhnya atas orang yang beriman denagn membukakan
keyakinan yang penuh dalam suatu pendirian, dan memberikan ketegakkan
yang hakiki, yang tidak meragukan lagi, sehingga jiwa itu berani
menghadapi segala kemungkinan apapun.
Segala kepayahan dan penderitaaan mempertahankan pendirian itu dikala
hidup di dunia terobatlah pada masa itu. Tercapaiklah sudah apa yang
telah diperingatkan oleh Allah SWT bahwa Dia adalah Maha Pengampun.
Sehingga orang yang telah terlanjur berbuat dosa selama inin asalkan dia
betul-betul taubat, dosanya diampuni dan amalnya diterima. Dia Maha
Penyayang, yaitu lebih senang dan memberikan ganjaran yang penuh kasih
sayang terhadap hambanya yang patuh dan taat.
QS. Al-Ahqaaf (46): 13-14
Artinya:
13. Sesungguhnya orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah
kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan mereka tiada pula berduka cita.
14. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Orang-orang yang mengaku bahwa Allah SWT adalah Tuhannya dan
menjadikan Allah SWT sebagai sentral dalam segala sesuatu. Lalu mereka
istiqomah, teguh, yang merupakan derajat tinggi. Derajat itu berupa
ketenangan jiwa dan ketenteraman hati serta keistiqomahan perasaan.
Sehingga tidak galau dan ragu-ragu karena adnya berbagai pengaruh yang
keras, bervariasi dan banyak. Derajat itu berupa keistiqomahan perbuatan
dan perilaku yang bersifat stabil dan dinamis meskipun banyak bisikan.
QS. Al-Furqon (25): 32
Artinya: Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan
Al-Qur’an itu kepada Muhammasd dengan sekaligus?”. Diturunkan Al-Qur’an
dengan cara demikian karena menetapkan hatimu (wahai Muhammad)
dengannya, dan kami nyatakan bacaannya kepadamu dengan teratur satu
persatu.
Ayat ini berkaitan dengan istiqomah hati, yakni senantiasa teguh
dalam mempertahankan kesucian iman dengan cara menjaga kesucian hati
daripada sifat syirik, menjauhi sifat-sifat cela seperti riya dan
hendaknya menyuburkan hati dengan sifat terpuji, terutamanya ikhlas,
dengan kata-kata lain istiqomah hati mempunyai maksud keyakinan yang
kukuh terhadap kebenaran.
QS. Ibrahim (14): 27
Artinya: Allah menetapakan (pendirian) orang-orang yang beriman
dengan kalimat yang tetap teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
Ayat ini berkaitan dengan istiqomah lisan, yaitu dengan memelihara
lisan atau tutur kata daripada kata-kata supaya senantiasa berkata benar
dan jujur setepat kata hati yang berpegang pada prinsip kebenaran dan
jujur, tidak berpura-pura, tidak bermuka-muka, dan tidak berdolak-dalik.
Istiqomah lisan terdapat pada orang yang beriman berani menyatakan dan
mempertahankan kebenaran dan hanya takut kepada Allah SWT.
Karakteristik Perilaku Istiqomah
a. Mempunyai Tujuan
Sikap istiqomah hanya mungkin memasuki jiwa seseorang bila mereka
mempunyai tujuan atau ada sesuatu yang ingin dicapai, mereka mempunyai
visi yang jelas dan dihayatinya dengan penuh kebermaknaan. Merekapun
sadar bahwa pencapaian tujuan tidaklah datang begitu saja, melainkan
harus diperjuangkan dengan penuh kesabaran, kebijakan, kewaspadaan dan
perbuatan yang memberikan kebaikan semata dengan menetapkan tujuan,
mereka mampu merencanakan setiap tindakannya serta mengelola aset
dirinya agar bekerja lebih efisien dan efektif. Dalam bidang pekerjaan,
mereka menghayati benar apa yang menjadi batas tugas dan
tanggungjawabnya dan mereka harus berperan melaksanakan tugas-tugasnya
tersebut. Mereka tidak pernah menunda atau membengkalaikan
tugas-tugasnya karena merasa ada tenggang waktu yang harus dikejar,
karena hal itu akan menghambat bahkan menyimpang dari arah tindakan
untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.
b. Kreatif
Orang yang memiliki istiqomah akan tampak dari kreatifitasnya, yaitu
kemampuan untuk menghasilakan sesuatu melalui gagasan-gagasannya yang
segar dan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar serta tidak takut
terhadap kegagalan, melainkan ia takut terhadap kemalasannya untuk
mencoba.
Ciri-ciri orang yang kreatif diantaranya memiliki kekuatan motivasi untuk berprestasi, komitmen, serta inisiatif dan optimis.
c. Menghargai Waktu
Waktu adalah aset Illahiah yang paling berharga, bahkan merupakan
kehidupan yang tidak dapat disia-siakan, sebagaimana yang difirmankan
dalam QS. Al-Ashr.
Ciri-ci orang yang menghargai waktu diantaranya tanggungjawab dan
disiplin dan tidak menunda-nunda waktu. Kedua tanda tersebut adalah
salah satu ciri orang yang mempunyai kecerdasan ruhaniyah dan etos kerja
yang mengillahi, menepati waktu dengan penuh rasa waspada dan
hati-hati, mempunyai tanggungjawab dengan tidak menyia-nyiakan waktu
melaikan ia menjadikan waktu sebagai lapangan untuk berbuat kebaikan
sebanyak-banyaknya karena suatu saat hak pakai akan segera dicabut oleh
Sang Pemilik Waktu.
e. Bersikap Sabar
Sabar merupakan suasana batin yang tetap tabah, istiqomah pada awal
dan akhir ketika menghadapi tantangan dan mengemban tugas dengan hati
yang tabah dan optimis, sehinnga dalam jiwa orang yang sabar terkandung
beberapa hal, yaitu menerima dan menghadapi tantangan dengan tetap
konsisten dan berpengharapan, tetap mampu mengendalikan dirinya, tidak
monoton dalam menilai sesuatu.
Contoh Perilaku Istiqomah
Kita harus mampu mengambil sikap sikap keteladanan dari Rasulullah
SAW dalam hal keteguhan beliau membawa misi risalah dakwahnya. Suatu
saat Abu Thalib membujuk Rasulullah SAW agar berhenti berdakwah.
Rsulullah SAW dengan percaya diri dan teguh pendirian menjawab, “Wahai
pamanku, demi Allah, kalau mereka meletakkan matahari di tangan kananku
dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan agama ini
(dakwah) tidaklah aku akan meninggalkannya sehingga Allah memberi
kemenangan agama ini atau aku hancur di dalamnya.”
Istiqomah berarti konsisten pada jalan yang lurus walaupun sejuta
halangan menghadang. Ini bukan idealisme, tetapi sebuah karakter yang
melekat pada jiwa pribadi seorang muslim yang memiliki semangat tauhid
laa ilaaha illallahu. Sebagaimana Bilal seorang mu’adzin yang tetap
mengucapkan, “Ahad..Ahad..Ahad ..!” walaupun dicambuk dan klitnya
melepuh karena dibakar di atas pasir panas dan ditindih batu yang besar
di atas perutnya. Istiqomah tangguh menghadapi badai berjalan sampai ke
batas, berlayar sampai ke pulau. Kuliah sampai diwisuda dan kalau perlu
berdagang sampai menjadi konglomerat, mengapa tidak?
Untuk mencapai semua itu, maka kuncinya adalah istiqomah.
Sikap keteguhan ini mulai pudar diantara kita. Sebaliknya, semangat
serta mutiara akhlak Rasulullah telah menjadi sumber inspirasi
bangsa-bangsa lain yang justru bukan muslim.
Misalnya, sikap konsisten mempertahankan pendirian atau istiqomah itu
ditunjukkan oleh seorang ilmuwan yang kita kenal, yaitu Galileo Galilei
(lahir di kota Pisa tahun 1564). Dia menemukan pendulum sebagai alat
untuk mengatur jam. Ketika ia mengunjungi Venesia pada usia 45 tahun,
suatu kejadian lain mengubah hidupnya. Ia mendengar mengenai peralatan
baru yang disebut teleskopdan bergegas pulang untuk merancang sebuah,
dimulai dengan pembesaran 3 kali dan meningkatnya menjadi 32 kali
pembesaran. Teleskop buatannya sendiri itu ternyata sangat bagus dan
merupakan teleskop pertama yang digunakan untuk astronomi, sehingga
kemudian banyak diminta di seluruh Eropa. Dengan kelebihan teknologi
itu, ia kemudian menyumbangkan banyak penemuan penting seperti
terungkapnya permukaan Mars ternyata tidak halus atau datar (melainkan
berlubang-lubang) serta galaksi Bima Sakti benar-benar merupakan gugusan
bintang. Galileo juga menemukan setelit-satelit Yupiter dan cincin
Saturnus.
Dukungannya terhadap teori Nikolaus Copernicus yang menyatakan bumi
bukan merupakan pusat alam semesta, serta mengejutkan peradaban manusia.
Dewan pimpinan Gereja Katolik yang menuduhnya melakukan pelecehan,
mengadilinya pada tahun 1633 dan menjebloskannya ke dalam tahanan rumah.
Dia menimbulkan perdebatan besar di kalangan ilmuwan ketika dia
menerbitkan bukunya yang berjudul
Dialog Mengenai Dua Sistem Utama Dunia
( Dialogue on the Two System of the World ) yang diterbitkan pada
tahun 1632. Bukunya mendukung teori yang diajukan oleh Copernicus yang
menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Galileo tidak
surut atau melacurkan diri untuk mengubah hasil penemuannya kendati dia
harus menghadapi hukuman dari Kerajaan Gereja Vatikan melalui penjara
dan dikucilkan ( excomunicatio). Dia tidak menyerah pada kekuasaan demi
kebenaran walaupun Kardinal Bellarmine telah memperingatkannya enam
belas tahun sebelumnya mengenai hal-hal yang dapat terjadi kepadanya
jika berani menyatakannya. Paus sendiri lantas memerintahkan agar iia
ditahan, dia kemudian diadili di Roma, dan dia menghabiskan delapan
tahun dari hidupnya berada dalam tahanan rumah. Vatikan tidak pernah
menyatakan bahwa mereka melakukan kekeliruan sampai tahun 1984,
sekalipun mereka kemudian membatalkan tuntutan terhadapnya. Galileo
telah membuktikan bahwa bumi hanyalah sebuah titik dalam suatu alam
semesta yang sangat besar dan tentu bukan merupakan pusat darinya. Yang
tidak banyak dikenal oleh umat Islam bahwa semangat itu pada awalnya
diilhami oleh para ilmuwan muslim pada saat kejayaannya di Andalusia.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Hafidz, Imam al-Faqih Abi Zakariya Muhyiddin Yahya an-Nawawi. Riyaadh ash-Sholihin . Surabaya.
Mu’is, Fahrur dan Muhammad Suhadi. 2009.
Syarah Hadits Arbain an-Nawawi . Bandung: MQS Publishing
Suar, Teja. (ed.). 2004. Islam Saja! Bekal Bagi Pemuda Muslim . Bandung: Kalam UPI Press.
Tasmara, Toto. 2001. Kecerdasan Ruhaniyah (Transcedental Intellegence). Jakarta: Gema Insani Press.
Tasmara, Toto. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islami . Jakarta: Gema Insani Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar