Pandangan islam mengenai kecerdasan
1. A. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan (dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab
disebut al-dzaka ) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan
kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami
secara sempurna.
J.P chaplin merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan
menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru dengan cepat dan
efektif; (2) Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif yang
meliputi empat unsur seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan
mengkritik; (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar
dengan cepat sekali.
Willian stern mengemukakan bahwa intelegensi berarti kapasitas umum
dari seorang induvidu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya
dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohani secara
umum yang disesuaikan dengan problema-problema kehidupan.
B. Macam-macam Kecerdasan
1. Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah yang berhubungan dengan proses kognitif
seperti berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau mempertimbangkan
sesuatu. Atau, kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemexahan
masalah dengan menggunakan logika. Menurut Thurstone, dengan teori
faktornya, menentukan 30 faktor yang menentukan kecerdasan itelektual,
tujuh diantaranya yang dianggap paling utama untuk elabilitas
-ebiliatsan mental, yaitu :
(1) mudah dalam mempergunakan bilangan;
(2) Baik ingatan;
(3)Mudah menangkap hubungan-hubungan percapakan;
(4) Tajam Penglihatan;
(5) Mudah menarik kesimpulan dari data yang ada;
(6) Cepat mengamati; dan
(7) cakap dalam memecahkan berbagai problem. Kecerdasan ini disebut
juga kecerdasan rasio ( rational intelligence ), sebab ia menggunakan
potensi rasio dalam memecahkan masalah.
Dengan kehadiran konsep-konsep baru tentang kecerdasan, maka IQ tidak
lagi bermakna intelligence quotient , melainkan intellectual quotient .
Perubahan ini sebagai bandingan dengan istilah EQ ( emotional quotient
), MQ ( Moral quotient), dan SQ ( spiritual quotient ).
2. Keceradan Emosional
Goleman mendefinisikan emosi dengan perasaan dan pikiran-pikiran
khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak. Emosi juga merupakan reaksi kompleks yang
mengkait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara
mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling) yang kuat atau
disertai keadaan efektif.
Crow and Crow mendefinisikan emosi dengan suatu keadaan yang
mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum,
keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang
dapat dilihat melalui tingkah laku.
Salovey dan Meyer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk
menggambarkan sejumlah kemampuan mengenali emosi dari sendiri, mengenali
orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain. Ciri utama pikiran
emosional adalah respons yang cepat tetapi ceroboh, mendahulukan
perasaan daripada pemikiran, realitas simbolik yang seperti anak-anak,
masa lampau di posisikan sebagai masa sekarang, dan realitas yang
ditentukan oleh keadaan.
Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja dari otak kanan, sedangkan
kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut
Deporter dan Hernacki, otak kanan manusia memiliki cara kerja yang
logis, sekuensial, rasional, dan linier.
Kendala yang sering menghalangi kecerdasan emosi adalah rasa malu,
tidak mampu mengekspresikan perasaan, terlalu emosional, perasaan yang
mendua, frustasi, tidak ada motivasi diri, sulit berempati, dan sulit
berteman.
3. Kecerdasan Moral
Robert Coles mengemukakan bahwa kecerdasan moral seolah-olah bidang
ketiga dari kegiatan otak setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan
emosional) yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan
untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan
menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator
kecerdasan moral adalah bagaimana seseorang memiliki pengetahuan tentang
moral yang benar dan yang buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan
moral yang benar ke dalam kehidupan nyata, dan menghindarkan diri dari
moral yang buruk. Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan
moral, sedangkan orang yang jahat merupakan orang yang “idiot” moral.
Poedjawijatna mendefinisikan moral dengan “sikap dan tindakan yang
mengacu pada baik dan buruk. Normanya adalah menentukan benar salah
sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik dan buruknya.
Sementara Bourke mendefinisikan moral (sebagai pandangan etika) dengan
sudut pandang studi sistematis tentang tindakan manusia dari sudut
pandang benar-salah, yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai
kebahagiaan puncak. Objek material adalah tindakan manusia, sebagai
objek formalnya adalah kualitas kebenaran dan kesalahan dalam perilaku.
4. Kecerdasan Spiritual
Zohar dan Marshall mendefenisikan kecerdasan spiritual sebagai puncak
kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan
kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan
spiritual dan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spiritual lebih
dalam, lebih luas dan lebih transenden daripada kecerdasan moral.
Kecerdasan spiritual merupakan konsep yang berhubungan dengan bagaimana
sseorang ‘cerdas’ dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna,
nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan
spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna ( the will to
meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencarai
makan hidup dan mendambakan hidup yang bermakna.
5. Kecerdasan beragama
Kecerdasan beragama adalah kecerdasan qalbu yang menghubungkan dengan
kualitas beragama dan ketuhanan. Kecerdasan ini mengarahkan pada
seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya menghasilkan
ketaqwaan secara mendalam, denagn dilandasi oleh eman kompetensi
keimanan, lima kompetensi keislaman, dan multi kompetensi ihksan.
C. Bentuk-bentuk kecerdasan intelektual, emosional, moral, spiritual, dan agama dalam psikologi islam
Bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah seperti kecerdasan intelektual,
emosi, moral, spiritual, dan beragama sulit dipisahkan, sebab semuanya
merupakan perilaku qalbu. Barangkali yang dapat membedakannya adalah
niat dan motivasi yang mendorong perilaku qalbiah, apakah perilaku itu
berasal dari insaniah atau ilahiah. Adapun bentuk-bentuk kecerdasan
qalbiah yaitu :
Pertama , kecerdasan ihkbat, yaitu kondisi qalbu yang memiliki
kerendahan dan kelembutan hati, merasa tenang dan khusyu dihadapan
Allah, dan tidak menganiaya orang lain. Kecerdasan ikhbat dapat
diartikan sebagai kondisi qalbu yang kembali dan mengabdi denagn
kerendahan hati kepada Allah, merasa tenang jika berzikir kepada-Nya,
tunduk dan dekat kepada-Nya. Kondisi ikhbat merupakan dasar bagi
terciptanya kondisi jiwa yang tenang, yakin dan percaya kepada Allah.
Kedua , kecerdasan zuhud. Secara harfiah zuhud berarti berpaling,
menganggap hina dan kecil, serta tidak merasa butuh terhadap sesuatu.
Kecerdasan zuhud memiliki tiga tingkatan : pertama, zuhud dari hal-hal
yang syubhat. Kedua, zuhud dari penggunaan harta yang berlebihan. Dan
ketiga, zuhud dalam zuhud.
Ketiga, kecerdasan wara’. Wara’ adalah mejaga diri dari perbuatan
yang tidak baik, yang dapat menurunkan derajat dan kewibawaan diri
seseorang.
Keempat , kecerdasan dalam berharap baik (Raja’). Raja’ ialah
berharap terhadap sesuatu kebaikan terhadap Allah SWT dengan disertai
usaha yang sungguh-sungguh dan tawakkal. Hal itu tentunya berbeda dengan
al-Tamanni (angan-angan), sebab merupakan harapan dengan
bermalas-malasan tanpa disertai dengan usaha.
Raja’ dapat berupa harapan seseorang terhadap pahala setelah ia
melakukan ketaatan kepada Allah SWT, atau harapan ampunan darinya
setelah ia bertobat dari dosanya. Menurut Ibnu Qayim raja’ memiliki tiga
tingkatan; pertama harapan yang mendorong seseorang untuk berusaha
dengan sungguh-sungguh, sehingga melahirkan kenikmatan batin dan
meninggalkan larangan. Kedua, harapan orang-orang yang mengadakan
latihan, agar ia dapat membersihkan hasratnya dan terhindar dari
kemudhorotan masa depan. Ketiga, harapan kalbu seseorang untuk bertemu
pada Tuhannya dan kehidupannya dimotivasi oleh kerinduan kepadanya.
Kelima, kecerdasan Ri’ayah. Ialah memelihara pengetahuan yang pernah
diperoleh dan mengaplikasikannya dengan perilaku nyata. Ilmu tanpa amal
ibarat pohon tanpa buah, ilustrasi ini menunjukkan bahwa pendekatan
perolehan ilmu bukan hanya melalui fakultas piker belaka, tapi juga
harus menyertakan fakulta dzikir. Gabungan keduanya akan melahirkan ulu
al-bab , yaitu orang yang beriman dan beramal shaleh. Dan kecerdasan ini
merupakan bentuk kecerdasan intelektual-qalbiah.
Menurut Ibnu Qayyim, orang yang telah berilmu memiliki tiga tingkat;
pertama, Riwayah yaitu seseorang yang hanya sekedar menerima dan
meriwayatkan ilmu pengetahuan dari orang lain. Kedua, Dirayah, yaitu
orang yang berusaha memahami, menganalisa, mengkritisi, dan memikirkan
maknanya. Ketiga, Riayah, yaitu orang yang mengaplikasi apa yang
diketahui melalui perbuatan nyata.
Keenam, kecerdasan Muqorrobah. Yaitu berarti kesadaran seseorang
bahwa Allah SWT mengetahui dan mengawasi apa yang dipikirkan, dirasakan,
dan diperbuatnya baik lahir maupun batin. Sehingga tidak sedetikpun
waktu yang terbuang untuk mengingat-Nya.
Ketujuh, kecerdasan Ikhlas. Yaitu kemurnian dan ketaatan yang
ditujukan kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan baik
lahir maupun batin. Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, ikhlas
dikaitkan pada kondisi ibadah seseorang yang terhindar dari perbuatan
penyekutuan Tuhan dengan sesuatu. Sedangkan menurut Qayyim, ikhlas
dibagi kedalam tiga tingkat; pertama, tidak menganggap bernilai lebih
terhadap perbuatan yang dilakukan. Kedua , merasa malu terhadap
perbuatan yang telah dilakukan sambil berusaha sekuat tenaga untuk
memperbaikinya. Ketiga, berbuat dengan ikhlas melalui keihklasan dalam berbuat yang didasarkan atas ilmu dan hukum-hukum-Nya.
Kedelapan, kecerdasan istiqomah. Ialah berarti melakukan suatu
pekerjaan baik melalui prinsip kontinuitas dan keabadian. Ibnu Qoyyim
membagi istiqomah dalam tiga tingkatan; Pertama, istiqomah dalam arti
kesederhanaan dalam bersungguh-sungguh sehingga tidak melampaui batas
pengetahuan, ikhlas dan sunnah. Kedua, Istiqomah keadaan, dengan
menyaksikan hakikat sesuatu berdasarkan ilmu dan cahaya kesadaran.
Hakikat ini meliput hakikat Kauniyah dan hakikat Diniyyah. Ketiga,
istiqomah dengan cara tidak menganggap berarti istiqomah yang pernah
dilakukan, sehingga ia terus berusaha untuk beristiqomah pada jalan yang
benar.
Kesembilan, kecerdasan Tawakkal, yaitu menyerahkan diri sepenuh hati,
sehingga tiada beban psikologis yang dirasakan. Dalam hal ini tawakkal
yang dimaksud adalah mewakili atau menyerahkan semua urusan kepada Allah
SWT, sebagai Zat yang mampu menyelesaikan semua urusan.
Tawakkal menghindarkan seseorang dari sikap meterialis, dikatakan
demikian karena tawakkal menuntut seseorang untuk menggunakan harta
benda secukupnya, meskipun batas kecukupan itu relatif. Untuk memperoleh
tawakkal yang sesungguhnya, Ibnu Qayyim memberikan ketentuan-ketentuan
sebagai berikut; >memiliki keyakinan yang benar tentang kekuasaan dan
kehendak Allah, mengetahui hokum sebab akibat akan urusan yang
dikerjakan, memperkuat qalbu dengan tauhid, menyandarkan qalbu kepada
Allah SWT dan merasa tenang disisinya, memiliki persangkaan yang baik
terhadap Allah SWT, menyerahkan Qolbu sepenuhnya kepada Allah dan
menghalau apa saja yang merntanngi, pasrah atau menyerahkan segala
urusan kepada-Nya.
Ibnu Qayyim lebih lankut mengemukakan tiga tingkatan tawakkal;
pertama,tawakkal yang disertai dengan permohonan dan menempuh
sebab-sebab memperoleh permohonan tersebut. Kedua, tawakkal yang tidak
disertai dengan permohonan sehingga ia meninggalkan sebab-sebabnya.
Ketiga, tawakkal dengan mengetahui hakikat tawakkal, sehingga dapat
membebaskan dari penyakit dan menambah kepercayaan akan keagungan Tuhan.
Kesepuluh , Kecerdasan Sabar. Berarti menahan, maksudnya menahan diri
dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar tidak mengeluh. Sabar
dalam pandangan ibnu Qayyim terbagi atas dua macam pengertian; Pertama,
sabar adalah menahan diri dari segala yang tidak menyenangkan, Kedua
sabar adalah ketabahan yang disertai sikap berani, melawan dan menentang
terhadap sesuatu yang mnimpah.
Ibnu Qayyim selanjutnya mengemukakan tiga terminology sabar yang
mencerminkan stratifikasinya. Pertama, stratifikasi al-tashabbur, yaitu
sabar terhadap kesulitan dan tidak merasakan adanya kesedihan. Kedua,
al- shabr yaitu sikap yang tidak merasa terbebani terhadap adanya
musibah dan kesulitan. Ketiga, al-ishtibar yaitu menikmati musibah
dengan perasaan gembira.
Lebih lanjut Ia menyebut tiga jenis sabar; petama, sabar bi-Allah
yaitu sabar yang lazim diperankan oleh kebanyakan orang, yang selalu
mengharap pertolongan dari-Nya. Kedua, sabar li-Allah yaitu sabar yang
diperankan oleh al-muridin yang motif sabarnya tidak lain karena Cinta
kepada Allah. Ketiga sabar ma’a-Allah yaitu sabar yang dilakukan oleh
orang-orang yang menempuh jalan spiritual dengan cara tunduk dan senang
melaksanakan perintah-Nya.
Kesebelas, kecerdasan Ridho, adalah rela terhadap apa yang dimiliki
dan diberikan. Ridho merupakan kedudukan spiritual seseorang yang
diusahakan setelah ia melakukan tawakkal. Untuk mengukur benar tidaknya
ridho seseorang, Ibnu Qayyim memberikan batasan-batasan, tiga
diantaranya adalah; Pertama, sebagai pihak yang pasrah seorang hamba
harus rela terhadap pilihan Allah SWT karena hal itu mengandung hikmah.
Kedua, hamba yakin bahwa takdir Allah SWT baik tentang nikmat atau
cobaan tidak akan berubah. Ketiga, sebagai hamba, seorang tidak boleh
benci atau marah terhadap pilihan atau pemberian Tuhannya.
Keduabelas, kecerdasan Syukur, adalah menampakkan nikmat Allah SWT.
Syukur dilakukan dengan tiga tahap; pertama, mengetahui nikmat, dengan
cara memasukkan dalam ingatan bahwa nikmat yang diberikan oleh pemberi
telah sampai pada penerima. Kedua, menerima nikmat dengan cara
menampakkan pada pemberi bahwa ia sangat butuh terhadap pemberian-Nya
dan tidak minta lebih. Ketiga, memuji pemberian-nya dengan cara membaca
hamdalah.
Ibnu Qayyim membagi syukur kedalam tiga tingkatan; pertama, sukur
terhadap sesuatu yang dicintai. Kedua, syukur terhadap sesuatu yang
dibenci. Ketiga, syukur tanpa mengenal objek yang diterima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar