PEMBAHASAN SYUKUR
1. Pengertian syukur
Kata syukur diambil dari kata syakara, syukuran, wa syukuran,dan wa
syukuran yang berarti berterima kasih keapda-Nya .Bila disebut kata
asy-syukru, maka artinya ucapan terimakasih, syukranlaka artinya
berterimakasih bagimu, asy-syukru artinya berterimakasih, asy-syakir
artinya yang banyak berterima kasih .
Menurut Kamus Arab – Indonesia, kata syukur diambil dari kata
syakara, yaskuru, syukran dan tasyakkara yang berarti mensyukuri-Nya,
memuji-Nya . Syukur berasal dari kata syukuran yang berarti mengingat
akan segala nikmat-Nya .
Menurut bahasa adalah suatu sifat yang penuh kebaikan dan rasa
menghormati serta mengagungkan atas segala nikmat-Nya, baik
diekspresikan dengan lisan, dimantapkan dengan hati maupun dilaksanakan
melalui perbuatan.
Dalam kamus besar Bahasa indonesia, memiliki 2 arti:
1. Rasa berterima kasih kepada allah.
2. Untunglah atau merasa lega senang dll.
Ada tiga ayat yang dikemukakan tentang pengertian syukur ini, yaitu sebagai berikut disertai penafsirannya masing-masing.
1. Surah al-Furqan, ayat 62
ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﻭَﺍﻟﻨَّﻬَﺎﺭَ ﺧِﻠْﻔَﺔً ﻟِﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳَﺬَّﻛَّﺮَ ﺃَﻭْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺷُﻜُﻮﺭًﺍ
artinya:
“Dan Dia(pula)yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi
orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur ”.
(QS. Al-Furqan: 62).
Ayat ini ditafsirkan oleh al-Maragi sebagai berikut bahwa Allah telah
menjadikan malam dan siang silih berganti, agar hal itu dijadikan
pelajaran bagi orang yang hendak mengambil pelajaran dari pergantian
keduanya, dan berpikir tentang ciptaan-Nya, serta mensyukuri nikmat
tuhannya untuk memperoleh buah dari keduanya. Sebab, jika dia hanya
memusatkan kehidupan akhirat maka dia akan kehilangan waktu untuk
melakukan-Nya. Jadi arti syukur menurut al-Maragi adalah mensyukuri
nikmat Tuhan-Nya dan berpikir tentang cipataan-Nya dengan mengingat
limpahan karunia-Nya.
Hal senada dikemukakan Ibn Katsir bahwa syukur adalah bersyukur dengan mengingat-Nya.
Penafsiran senada dikemukakan Jalal al-Din Muhammad Ibn Ahmad
al-Mahalliy dan Jalal al-Din Abd Rahman Abi Bakr al-Suyutiy dengan
menambahkan bahwa syukur adalah bersyukur atas segala nikmat Rabb yang
telah dilimpahkan-Nya pada waktu itu.
Departemen Agama RI juga memaparkan demikian, bahwa syukur adalah
bersyukur atas segala nikmat Allah dengan jalan mengingat-Nya dan
memikirkan tentang ciptaan-Nya.
2. Surah Saba, ayat :13
ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﻣَﺤَﺎﺭِﻳﺐَ ﻭَﺗَﻤَﺎﺛِﻴﻞَ ﻭَﺟِﻔَﺎﻥٍ
ﻛَﺎﻟْﺠَﻮَﺍﺏِ ﻭَﻗُﺪُﻭﺭٍ ﺭَﺍﺳِﻴَﺎﺕٍ ﺍﻋْﻤَﻠُﻮﺍ ﺁَﻝَ ﺩَﺍﻭُﻭﺩَ ﺷُﻜْﺮًﺍ
ﻭَﻗَﻠِﻴﻞٌ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱَ ﺍﻟﺸَّﻜُﻮﺭُ
artinya:
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari
gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang
(besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).
Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit
sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”. (QS. Saba: 13).
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyebut-nyebut apa yang pernah Dia
anugrahkan kepada Sulaiman as,. Yaitu mereka melaksanakan perintah
Sulaiman as untuk membuat istana-istana yang megah dan patung-patung
yang beragam tembaga, kaca dan pualam. Juga piring-piring besar yang
cukup untuk sepuluh orang dan tetap pada tempatnya, tidak berpindah
tempat. Allah berkata kepada mereka “agar mensyukuri-Nya atas segala
nikmat yang telah Dia limpahkan kepada kalian”.
Kemudian Dia menyebutkan tentang sebab mereka diperintahkan bersyukur
yaitu dikarenakan sedikit dari hamba-hamba-Nya yang patuh sebagai rasa
syukur atas nikmat Allah swt dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai
kehendak-Nya.
Menurut al-Maragi arti kata asy-Syukurdi atas adalah orang yang
berusaha untuk bersyukur. Hati dan lidahnya serta seluruh anggota
tubuhnya sibuk dengan rasa syukur dalam bentuk pengakuan, keyakinan dan
perbuatan. Dan ada pula yang menyatakan asy-syukur adalah orang yang
melihat kelemahan dirinya sendiri untuk bersyukur.
Sementara itu Ibn Katsir memberikan arti dari kata asy-syukur adalah
berterima kasih atas segala pemberian dari Tuhan yang maha Pemurah lagi
Maha Penyayang.
Penafsiran yang senada dikemukakan oleh jalal al-Din Muhammad Ibn
Ahmad al-Mahalliy dan Jalal al-Din Abd al-Rahman Ibn Abi Bkar al-Suyutiy
dengan menambahkan bahwa rasa syukurnya itu dilakukan dengan taat
menjalankan perintah-Nya.
3. Surah al-Insan, ayat 9
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻧُﻄْﻌِﻤُﻜُﻢْ ﻟِﻮَﺟْﻪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ ﻧُﺮِﻳﺪُ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺟَﺰَﺍﺀً ﻭَﻟَﺎ ﺷُﻜُﻮﺭًﺍ
artinya:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu
dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS. Al-Insaan: 9)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak meminta dan mengharapkan dari
kalian balasan dan lain-lainnya yang mengurangi pahala, kemudian Allah
memperkuat dan menjelaskan lagi bahwa Dia tidak mengharapkan balasan
dari Hamba-Nya, dan tidak pula meminta agar kalian berterimakasih
kepada-Nya.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa syukur menurut
istilah adalah bersykur dan berterima kasih kepada Allah, lega, senang
dan menyebut nikmat yang diberikan kepadanya dimana rasa senang, lega
itu terwujud pada lisan, hati maupun perbuatan.
2. Cara mensyukuri nikmat dan karunia Allah.
Rasulullah shollallahu Alaihi Wa Sallam dikenal sebagai abdan
syakuura (hamba Allah yang banyak bersyukur). Setiap langkah dan
tindakan beliau merupakan perwujudan rasa syukurnya kepada Allah.Suatu
ketika Nabi memegang tangan Muadz bin Jabal dengan mesra seraya berkata :
“Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu”. Beliau
melanjutkan sabdanya, “Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu
tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo’a : Allahumma a’innii
`alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (Ya Allah,tolonglah aku
agar senantiasa ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan baik dalam
beribadat kepada-Mu)”.
Mengapa kita perlu memohon pertolongan Allah dalam berdzikir dan
bersyukur ? ., Tanpa pertolongan dan bimbingan Allah amal perbuatan kita
akan sia-sia. Sebab kita tidak akan sanggup membalas kebaikan Allah
kendati banyak menyebut asma Allah; Menyanjung, memuja dan
mengaungkan-Nya. Lagi pula, hakikat syukur bukanlah dalam mengucapkan
kalimat tersubut, kendati ucapan tersebut wajib dilakukan
sebanyak-banyaknya.
Al Junaid seorang sufi, pernah ditanya tentang Makna (hakikat)
syukur. Dia berkata, “Jangan sampai engkau menggunakan nikmat karunia
Allah untuk bermaksiat kepada-Nya”.
Kita taat dengan menggunakan karunia dan izin Allah. Bahkan ketaatan
itu sendiri merupakan karunia dan hidayah Allah. Sebaliknya, seseorang
yang melakukan maksiat pun sudah pasti dengan menyalahgunakan nikmat
Allah dan akibat kesalahannya sendiri.
Ketika kita menerima pemberian Allah kita memuji-Nya, tetapi ini sama
sekali belum mewakili kesyukuran kita. Pujian yang indah dan syahdu
saja belum cukup, dia baru dikatakan bersyukur bila diwujudkan dalam
bentuk amal shaleh yang diridhai Allah.
Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata, “Perumpamaan orang yang memuji
syukur kepada Allah hanya dengan lidah, namun belum bersyukur dengan
ketaatannya, sama halnya dengan orang yang berpakaian hanya mampu
menutup kepala dan kakinya, tetapi tidak cukup menutupi seluruh
tubuhnya. Apakah pakaian demikian dapat melindungi dari cuaca panas atau
dingin ?”
Syukur sejati terungkap dalam seluruh sikap dan perbuatan, dalam amal perbuatan dan kerja Nyata.
Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah.
1. bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar
dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya
sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan
detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh
nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari
Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.
2. Bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata.
Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah
adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa
mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca
la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca
alhamdu li Allah, maka baginya 30 kebaikan.
3. Bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh.
Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk
hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh
yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga,
lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan
Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk
mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat
yang kita rasakan. Allah berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu,
hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).“ (QS Aldhuha [93]:
11).
3. Hikmah bagi orang-orang yang mau bersukur
Adapun hikmah bagi orang bersyukur sangat banyak diberikan oleh Allah
swt, bahkan Allah sangat mengetahui tanda-tanda orang yang bersyukur.
balasan yang diberikan Allah di dunia dan diakhirat. Ada banyak
ayat-ayat al-qur’an yang memaparkan tentang apa yang akan diperoleh atau
didapatkan bagi orang yang beryukur, diantaranya seperti dalam surat
Ali-Imran ayat 144 dan 145 sbb : ‘’ Muhammad itu tidak lain hanyalah
seorang Rasul, yang sebelumnya telah berlalu beberapa orang Rasul.
Apakah jika wafat atau terbunuh kamu berbalik kebelakang.
Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka tidaklah ia memberi
mudarat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberikan balasan
kepada orang-orang yang bersyukur. setiap diri tidaklah akan mati
kecuali seizin Allah sebagai ketentuan yang telah ditetapkan waktunya.
Barang siapa yang menghendaki pahala dunia, Kami akan memberikan itu
kepadanya dan barang siapa yang menghendaki pahala diakhirat, Kami
berikan pula kepadanya dan Kami akan memberi balasan bagi orang-orang
yang bersyukur.’’(Ali-Imran: 144-145) .
‘’ Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia
bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji.’’ ( Lukman : 12).
Ayat ini merupakan Makiyah, tema utamanya adalah mengajarkan ajakan
kepada tauhid dan kepercayaan akan niscaya Kiamat serta pelaksanaan
prinsip-prinsip dasar agama. Adapun tafsiran ayat-ayat diatas menunjukan
al-qur’an yang penuh hikmah dan Muhsin yang menerapkan hikmah dalam
kehidupanya, serta orang-orang kafir yang bersikap sangat jauh dari
hikmah kebijaksanaan. Dan sesungguhnya Kami Yang Maha Perkasa dan
Bijaksana telah menganugerahkan dan mengajarkan juga mengilhami hikmah
kepada Lukman, ‘’ Bersyukurlah Kepada Allah, dan barang siapa yang
bersyukur kepada Allah , maka sesungguhnya ia bersyukur untuk
kemaslahatan dirinya sendiri, dan barang siapa yang kufur yakni yang
tidak bersyukur, maka akan merugi adalah dirinya sendiri. Dia sedikit
pun tidak merugikan allah, sebagaimana yang bersyukur tidak
menguntungkan-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha Kaya tidak butuh
kepada apapun, Lagi Maha Terpuji oleh Makhluk di langit dan di bumi.’’
Kata syukur yang berasal dari kata syakara berarti pujian atas
kebaikan serta penuhnya sesuatu. Syukur manusia kepada Allah dimulai
dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat
dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang
melahirkan rasa cinta kepada-Nya, dan dorongan untuk memuji-Nya dengan
mengfungsikan anugerah yang diterima sesuai dengan tujuan
penganugerahnya, ia adalah menggunakan nikmat sebagaimana yang
dikehendaki oleh penganugerahnya, sehingga penggunaannya mengarah
sekaligus menunjuk penganugerah. Tentu saja untuk maksud ini,yang
bersyukur perlu mengenal siapa penganugerahnya (Allah swt) mengetahui
nikmat yang dianugerahkan kepadanya, serta fungsi dan cara menggunakan
nikmat itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya, sehingga yang dianugerahkan
nikmat itu benar-benar menggunakan sesuai dengan apa yang dikehendaki
oleh Peangugerah. Hanya dengan demikian, anugerah dapat berfungsi
sekaligus menunjuk kepada Allah, sehingga ini pada giliranya mengantar
kepada pujian kepada-Nya yang lahir dari rasa kekaguman atas diri-Nya
dan kesyukuran atas anugerah-Nya. Firmannya :usykur lillah adalah hikmah
itu sendiri yang dianugerahkan kepadanya itu. Dari kata ‘’ Bersyukurlah
kepada Allah.’’ Sedangkan menurut Al-Biqa’I yang menulis bahwa
‘’Walaupun dari segi redaksional ada kalimat Kami katakana kepadannya,
tetapi makna akhirnya adalah Kami anugerahkan kepadanya syukur.’’ Sayyid
Qutub menulis bahwa ‘’ Hikmah, kandungan dan konsekuensinya adalah
syukur kepada Allah.’’ Bahwa hikmah adalah syukur, karena dengan
bersyukur seperti diatas, seseorang mengenal Allah dan mengenal
anugerah-Nya. Dengan mengenal Allah seseorang akan kagum dan patuh
kepada-Nya, dan dengan mengenal dan mengetahui fungsi anugerah-Nya,
seseorang akan memiliki pengetahuan yang benar lalu atas dorongan
kesyukuran itu, ia akan melakukan amal yang sesuai dengan
pengetahuannya, sehingga amal yang lahir adalah amal yang tepat pula
.‘’
Dan tanah yang baik , tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin
Allah yang tidak subur, tanaman-tanaman yang tidak subur,
tanaman-tanaman hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulanngi
tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.’’
(Al-A’raf : 58) ‘’
(Dan demikianlah telah Kami uji) Kami telah coba (sebagian mereka
dengan sebagian lainnya) yakni orang yang mulia dengan orang yang
rendah, orang yang kaya dengan orang yang miskin, untuk Kami lombakan
siapakah yang berhak paling dahulu keimanan, (supaya mereka berkata: )
orang-orang yang mulia dan orang-orang kaya yaitu mereka yang ingkar
(‘’Orang-orang semacam inikah) yakni orang miskin (diantara kita yang
diberi anugerah oleh Allah kepada Mereka???’’) hidayah artinya jika apa
yang sedang dilakukan oleh orang-orang miskin dan orang-orang rendahan
itu dinamakan hidayah, niscaya orang-orang mulia dan orang-orang kaya
itu tidak akan mampu mendahuluinya.(’’Tidaklah Allah lebih mengetahui
orang-orang yang bersyukur (Kepada)Nya.’’) Kepada-Nya, lalu Dia
memberikan hidayah kepada mereka. Memang betul. (Al-An’am : 53).
Ayat ini termasuk ayat Makiyah. Berdasarkan asbabun nuzul ayat ini
diturunkan berkenaan enam orang periwayat tentang Abdullah Ibnu Mas’ud
dan empat orang lainnya. Mereka (kaum musyrikin) berkata kepada kepada
Rasulullah saw :
‘’Usirlah mereka (yakni para pengikut Nabi) sebab kami merasa malu
menjadi pengikutmu seperti mereka.’’ Akhirnya hamper saja Nabi saw
terpengaruh oleh permintaan mereka,akan tetapi sebelum terjadi Allah swt
menurunkan Firman-Nya :
‘’Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya s/d
Firman-Nya : ‘’ Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang
bersyukur (kepada-Nya) . ‘’ Dan (ingatlah juga), tatkala tuhan mu
mema’lumkan : ‘’ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan
menambah (nikmat) kepada mu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku) maka
sesungguhnya azabku sangat pedih.’’ (Ibrahim : 7).
4. Sebab-sebab kurang bersyukur.
Allah menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa makhluk tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmatNya kepada mereka. Allah befirman:
“Dan seandainya kalian menghitung nikmat Alloh, kalian tidak akan (mampu) menghitungnya.” (an-Nahl: 18)
Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Allah
dengan cara yang dituntut. Karena orang yang tidak mampu menghitung
nikmat Allah, bagaimana mungkin dia akan mensyukurinya?
Barangkali seorang hamba tidak dikatakan menyepelekan jika dia
mengerahkan segenap usahanya untuk bersyukur, dengan mewujudkan ubudiyah
(penghambaan) kepada Alloh, Robb semesta alam, sesuai dengan firmanNya,
“Maka bertakwalah kalian kepada Alloh, menurut kemampuan kalian.” (at-Taghobun: 16)
Sikap meremehkan yang kami maksudkan adalah, jika seorang manusia
senantiasa berada dalam nikmat Allah siang dan malam, ketika safar
maupun mukim, ketika tidur maupun terjaga, kemudian muncul dari
perkataan, perbuatan dan keyakinannya sesuatu yang tidak sesuai dengan
sikap syukur sama sekali.
Sikap peremehan inilah yang kita ingin mengetahui sebagian
sebab-sebabnya. Kemudian kita sampaikan obatnya dengan apa yang telah
Allah bukakan. Dan taufiq hanyalah di tangan Allah.
Di antara sebab-sebab ini:
1. Lalai dari nikmat Allah.
Sesungguhnya banyak manusia yang hidup dalam kenikmatan yang besar,
baik nikmat yang umum maupun khusus. Akan tetapi dia lalai darinya. Dia
tidak mengetahui bahwa dia hidup dalam kenikmatan. Itu karena dia telah
terbiasa dengannya dan tumbuh berkembang padanya. Dan dalam hidupnya,
dia tidak pernah mendapatkan selain kenikmatan. Sehingga dia menyangka
bahwa perkara (hidup) ini memang seperti itu saja. Seorang manusia jika
tidak mengenal dan merasakan kenikmatan, bagaimana mungkin dia
mensyukurinya? Karena syukur, dibangun di atas pengetahuan terhadap
nikmat, mengingatnya dan memahami bahwa itu adalah nikmat pemberian
Alloh kepadanya.
Sebagian salaf berkata, “Nikmat dari Alloh untuk hambaNya adalah
sesuatu yang majhulah (tidak diketahui). Jika nikmat itu hilang barulah
dia diketahui.” [Robii’ul Abror 4/325].
Sesungguhnya banyak manusia di zaman kita ini senantiasa berada dalam
kenikmatan Allah, mereka memenuhi perut mereka dengan berbagai makanan
dan minuman, memakai pakaian yang paling indah, bertutupkan selimut yang
paling baik, menunggangi kendaraan yang paling bagus, kemudian mereka
berlalu untuk urusan mereka tanpa mengingat-ingat nikmat dan tidak
mengetahui hak bagi Allah.
Maka mereka seperti binatang, mulutnya menyela-nyela tempat makanan,
lalu jika telah kenyang dia pun berlalu darinya. Dan semacam ini pantas
bagi binatang.
Jika kenikmatan telah menjadi banyak dengan mengalirnya kebaikan
secara terus-menerus dan bermacam-macam, manusia akan lalai dari
orang-orang yang tidak mendapatkan nikmat itu. Dia menyangka bahwa orang
lain seperti dia, sehingga tidak muncul rasa syukur kepada Pemberi
nikmat.
Oleh karena itu, Alloh memerintahkan hambaNya untuk mengingat-ingat
nikmatNya atas mereka – sebagaimana telah dijelaskan. Karena
mengingat-ingat nikmat akan mendorong seseorang untuk mensyukurinya.
Allah berfirman:
Yang artinya:
“Dan ingatlah nikmat Alloh padamu, dan apa yang telah diturunkan
Alloh kepadamu, yaitu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah). Alloh memberi
pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkanNya itu.” (al-Baqarah:
231)
2. Kebodohan terhadap hakikat nikmat
Sebagian orang tidak mengetahui nikmat, tidak mengenal dan tidak
memahami hakikat nikmat. Dia tidak tahu bahwa dirinya berada dalam
kenikmatan, karena dia tidak mengetahui hakikat nikmat. Bahkan mungkin
dia memandang pemberian nikmat Allah kepadanya sangat sedikit sehingga
tidak pantas untuk dikatakan sebagai kenikmatan. Maka orang yang tidak
mengetahui nikmat, bahkan bodoh terhadapnya, tidak akan bisa
mensyukurinya.
Sesungguhnya ada sebagian manusia yang jika melihat suatu kenikmatan
diberikan kepadanya dan juga kepada orang lain, bukan kekhususan
untuknya, maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Karena dia memandang
dirinya tidak berada dalam suatu kenikmatan selama orang lain juga
berada pada kenikmatan tersebut. Sehingga banyak orang yang berpaling
dari mensyukuri nikmat Allah yang sangat besar pada dirinya yang berupa
anggota badan dan indera, dan juga nikmat Allah yang sangat besar pada
alam semesta ini.
Ambilah sebagai contoh, nikmatnya penglihatan. Ini merupakan nikmat
Allah yang sangat agung yang banyak dilalaikan oleh manusia. Siapakah
yang mengetahui kenikmatan ini, memperhatikan haknya dan menyukurinya?
Alangkah sedikitnya mereka itu. Seandainya seseorang mengalami kebutaan,
lalu Allah mengembalikan penglihatannya dengan suatu sebab yang Allah
takdirkan, apakah dia akan memandang penglihatannya pada keadaan yang
kedua ini sebagaimana kelalaiannya terhadap yang pertama? Tentu tidak,
karena dia telah mengetahui nilai kenikmatan ini setelah dia kehilangan
nikmat tersebut.
Maka orang ini mungkin akan bersyukur kepada Allah atas nikmat
penglihatan ini, akan tetapi dengan cepat dia akan melupakannya. Dan ini
adalah puncak kebodohan, karena rasa syukurnya bergantung kepada hilang
dan kembalinya nikmat tersebut. Padahal sesuatu (kenikmatan) yang
langgeng lebih berhak disyukuri dari pada (kenikmatan) yang
kadang-kadang terputus. [Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hlm 288].
3. Pandangan sebagian manusia kepada orang yang berada di atasnya
Jika seorang manusia melihat kepada orang yang diatasnya, yaitu
orang-orang yang diberi kelebihan atasnya, dia akan meremehkan karunia
yang Allah berikan kepadanya. Sehingga dia pun kurang dalam melaksanakan
kewajiban syukur. Karena dia melihat bahwa apa yang diberikan kepadanya
adalah sedikit, sehingga dia meminta tambahan untuk bisa menyusul atau
mendekati orang yang berada diatasnya. Dan ini ada pada kebanyakan
manusia. Hatinya sibuk dan badannya letih dalam berusaha untuk menyusul
orang-orang yang telah diberi kelebihan atasnya berupa harta dunia.
Sehingga keinginannya hanyalah untuk mengumpulkan dunia. Dia lalai dari
bersyukur dan melaksanakan kewajiban ibadah, yang sebenarnya dia
diciptakan untuk hal tersebut (ibadah).
Telah datang suatu hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,Jika salah seorang di
antara kalian melihat orang yang diberi kelebihan atasnya dalam masalah
harta dan penciptaan, hendaknya dia melihat kepada orang yang lebih
rendah darinya, yang dia telah diberi kelebihan atasnya.” [Riwayat
Muslim (2963) dan lihat Jami’ul Ushul (10/142)]
4. Melupakan masa lalu
Di antara manusia ada yang pernah melewati kehidupan yang menyusahkan
dan sempit. Dia hidup pada masa-masa yang menegangkan dan penuh rasa
takut, baik dalam masalah harta, penghidupan atau tempat tinggal. Dan
tatkala Allah memberikan kenikmatan dan karunia kepadanya, dia enggan
untuk membandingkan antara masa lalunya dengan kehidupannya sekarang
agar menjadi jelas baginya karunia Robb atasnya. Barangkali hal itu akan
membantunya untuk mensyukuri nikmat-nikmat itu. Akan tetapi dia telah
tenggelam dalam nikmat-nikmat Allah yang sekarang dan telah melupakan
keadaannya terdahulu. Oleh karena itu engkau lihat banyak orang yang
telah hidup dalam kemisinan pada masa-masanya yang telah lalu, namun
mereka kurang bersyukur dengan keadaan mereka yang engkau lihat sekarang
ini.
Setiap manusia wajib untuk mengambil pelajaran dari kisah yang ada
dalam hadits shohih [Hadits panjang dari Abu Huroiroh, “Sesungguhnya ada
tiga orang dari kalangan Bani Isroil, orang yang punya penyakit kusta,
orang yang botak dan orang yang buta…” diriwayatkan oleh al-Bukhori
(3277) dan Muslim (2946)] (yang maknanya).
Sesungguhnya ada tiga orang dari kalangan Bani Isroil yang ingin
Alloh uji. Mereka adalah orang yang punya penyakit kusta, orang yang
botak dan orang yang buta. Maka ujian itu menampakkan hakikat mereka
yang telah Allah ketahui sebelum menciptakan mereka. Adapun orang yang
buta, maka dia mengakui pemberian nikmat Allah kepadanya, mengakui bahwa
dahulu dia adalah seorang yang buta lagi miskin, lalu Allah memberikan
penglihatan dan kekayaan kepadanya. Dia pun memberikan apa yang diminta
oleh pengemis, sebagai bentuk syukur kepada Allah. Adapun orang yang
botak dan orang yang berpenyakit kusta, mereka mengingkari kemiskinan
dan buruknya keadaan mereka sebelum itu. Keduanya berkata tentang
kekayaan itu, ‘Sesungguhnya aku mendapatkannya dari keturunan.
Inilah keadaan kebanyakan manusia. Tidak mengakui keadaannya
terdahulu berupa kekurangan, kebodohan, kemiskinan dan dosa-dosa, (tidak
mengakui) bahwasanya Allah lah yang memindahkan dia dari keadaannya
semula kepada kebalikannya, dan memberikan kenikmatan tersebut.
Kesimpulan
Dalam sebuah hadist dikatakan :
`Sungguh aneh perkara orang mu´min, ketika diberi cobaan ia bersabar dan ketika diberi nikmat ia bersyukur`
Syukur berarti tidak hanya dalam hati mengakui tapi juga dalam ibadah dan amal perkataan.
Agar dapat bersyukur diperlukan:
1. Ilmu
2. Kondisi spiritual
3. Amal perbuatan
Pemberi segala nikmat adalah ALLAH, namun seringkali kita menganggap
bahwa semua itu karena diri sendiri dan mengenyampingkan Allah.
Bersyukur bukan tentang nikmat yang diberikan, tapi bersyukur kepada
pemberi nikmat itu sendiri. Kita memberikan kegembiraan kita kepada
pemberi nikmat akan nikmat tsbt. Namun seringkali syukur kita masih
ditempatkan kepada nikmat & pemberian nikmat tsbt, bukan kepada
ALLAH.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad warson al-munawwir. kamus al-munawwir Arab-Indonesia,(Surabaya pustaka progresif,1984), hal 785-786.
Mahmud yunus, Kamus Arab-Indonesia,(Jakarta:Hidakarya Agung,1972) hal 201.
Departemen Agama RI, Alquran dan terjemah,(Jaakarta: Intermass 1992) hal 409.
Imam Jalaludin Al-mahalli & Imam Jalaludin As-suyuthi, 1996,
Tafsir Jalalalain Berikut Asbabun Nuzul, Surat AL-Fatihah s-d surat
al-an’am, bandung: sinar baru al-gensindo, hal:399
M.Quraish shihab,2002,tafsir al-misbah:pesan, kesan dan keserasian al-qur’an, jakarta:lentera hati, surat lukman: 12 hal:120
Imam jalaluddin al-mahalli & imam jalaluddin as-suyuthi, 1996,
tafsir jalalin berikut asbabunnuzul,surat al-fatihah s-d surat al-an’am,
Bandung: sinar baru algesindo:555
Tidak ada komentar:
Posting Komentar