Sikap Lemah Lembut dan Rendah Hati
Sahabat Ibn ‘Abbās r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah
berkata kepada al-Asyjī: “Kamu mempunyai dua sifat yang membuat Allah
dan Rasul-Nya senang; Lemah lembut dan murah hati.” (H. R. Muslim).
Sayyidah ‘Ā’isyah r.a. menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺭَﻓِﻴﻖٌ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﺮِّﻓْﻖَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻛُﻠِّﻪِ
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Lemah Lembut dan suka
terhadap sikap lemah lembut dalam segala hal.” (H. R. al-Bukhārī dan
Muslim).
Sifat pemarah merupakan sifat tercela yang muncul pada diri manusia
akibat dorongan amarah dan hawa nafsu . Islam selalu menekankan pada
umatnya untuk menjauhkan diri daripada sifat tercela ini. Sebaliknya,
Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Karena sifat
lemah lembut adalah kebalikan sifat pemarah, maka untuk memahami secara
baik sifat tersebut, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu sifat
pemarah.
Marah mempunyai banyak tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah di
saat seseorang tidak mempunyai apapun naluri pemarah, sehingga dia sama
sekali tidak dapat emosi. Keadaan separti ini adalah keadaan yang kurang
baik.
Tingkatan yang paling buruk lainnya adalah di saat naluri pemarah
seseorang tidak dapat dikawal oleh akal dan ajaran agamanya, sehingga
dia tidak mempunyai pertimbangan yang matang dan pilihan yang jelas
ketika marah. Sifat ini dapat timbul karena faktor dalam yang berupa
tingginya naluri kemarahan dan juga faktor luar yang berupa lingkungan
masyarakat yang menganggap kemarahan sebagai sikap pemberani.
Sikap pemarah seperti ini jelas tidak dibenarkan oleh agama, karena
ia dapat menyebabkan seseorang menjadi “buta”, tidak dapat membedakan
antara kebenaran dan kesalahan dan juga menyebabkan seseorang menjadi
“tuli”, tidak mau mendengar nasihat dan bimbingan. Akhirnya yang
mengendalikan tingkah laku mereka adalah hawa nafsu bukan akalnya dan
yang keluar dari lisan mereka adalah kata-kata kotor.
Kebencian akan muncul di dalam hatinya sehingga timbul keinginan
untuk memukul atau bahkan membunuh. Kalau dia tidak sanggup melampiaskan
kekesalannya, maka dirinya akan merasa terhina, atau dia akan mencari
pelampiasan lain, separti dengan menghacurkan barang-barang yang
terdapat di hadapannya. Belum lagi, orang yang sedang marah raut mukanya
akan berubah menjadi buruk dan menyeramkan, badannya gemetar,
langkahnya tidak terkendali dan matanya berwarna merah. Seandainya
ketika marah dia melihat dirinya sendiri, maka ia akan menghentikan
kemarahan tersebut, kerana malu melihat raut muka dan sikapnya itu.
Adapun tingkatan yang terpuji adalah di saat terdapat keseimbangan
antara naluri sikap pemarah dan sikap lemah lembut. Kemarahan model ini
adalah kemarahan yang masih berada dalam kendali akal, dan jika ia
munculpun kerana didorong oleh sikap sensitifi dan emosi keberagamaan
untuk membela agama. Hal ini sebagaimana yang dipraktikkan oleh
Rasulullah s.a.w., jika Beliau melihat ada larangan-larangan Allah
s.w.t. dilanggar, Beliau marah. Namun di saat lain sikap lemah lembut
harus selalu muncul menghiasi dirinya. [1]
Setakat ini, maksud dari sikap lemah lembut belum juga terungkap
dengan jelas. Oleh kerana itu berikut ini akan dipaparkan beberapa
pendapat ulama. Imam al-Ghazālī mendefinisikan sikap lemah lembut dengan
terkalahkannya potensi kemarahan terhadap bimbingan akal. Menurut
al-Ghazālī, tumbuhnya sifat lemah lembut dalam diri manusia dapat
dimulakan dengan melatih diri menahan amarah. Allah s.w.t. berfirman
dalam surah Ālī Imrān, 3: 134, yang artinya: “Orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.”
Hal ini dapat didapat dengan pelatihan, iaitu dengan cara berusaha
sedaya upaya untuk menahan setiap amarah yang sedang bergejolak. Jika
seseorang telah terbiasa dengan sikap separti ini maka sikap lemah
lembut akan menjadi akhlaknya, dan amarahnya tidak akan bergejolak,
seeandainya bergejolakpun dia tidak akan kesulitan mengendalikan. [2]
Sehingga dapat dikatakan bahawa sikap lemah lembut merupakan parameter kesempurnaan akal dalam mengendalikan nafsu amarah. [3]
Terdapat sebahagian orang yang beranganggapan bahawa sifat lemah
lembut adalah sikap menahan nafsu. Pendapat ini kurang tepat, kerana
nafsu yang harus ditahan jumlahnya banyak sangat, tidak hanya kemarahan
sahaja. Menahan nafsu adalah akhlak utama yang paling asas dan harus
dimiliki setiap manusia. Dengan menahan nafsu, seseorang akan banyak
mendapatkan keutamaan-keutamaan. Kerana sikap itu dapat menjaga
seseorang dari melakukan bermacam tindakan tercela yang melenceng dari
tuntunan agama. Sikap ini juga dapat melindungi seseorang dari
ketundukan terhadap hawa nafsu, menjauhkan dari perbuatan zalim, terlena
sehingga melanggar batas-batas yang telah ditetapkan agama.
Sikap lemah lembut sangat berhubung kait dengan sifat sabar. Dua
sifat ini memang hampir sama, oleh kerana itu kedua kata ini (al-Hilm
dan al-S)abr ) sering digunakan untuk menunjuk satu makna yang sama,
sebagaimana dalam firman Allah s.w.t dalam surah Āli Imrān, 3: 186, yang
artinya: “Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari
orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang
mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika
kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk
urusan yang patut diutamakan.”
Ayat ini menegaskan bahawa menghadapi gangguan dengan tenang dan
tabah dapat disebut dengan kesabaran dan juga dapat disebut sebagai
sikap lemah lembut ( al-Hilm)
Begitu juga dalam ayat berikut ini: “Dan jika kamu memberikan
balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah
yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (al-Nahl, 16: 126) Tidak
membalas dendam dapat disebut sebagai sikap lemah lembut dan juga dapat
disebut sebagai sikap sabar.
Dalam ayat yang lain juga disebutkan: “Dan bersabarlah terhadap apa
yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”
Sabar dan lemah lembut merupakan salah satu akhlak mulia yang
dimiliki oleh Rasulullah s.a.w.. Pada suatu hari, Rasulullah s.a.w.
membagi harta pampasan perang. Kemudian terdapat seorang yang berkata:
“Pembagian ini tidak adil dan tidak kerana Allah.” Mendengar ucapan ini,
pipi Rasulullah s.a.w. memerah dan Beliau berkata: “Semoga Allah
mencurahkan kasih sayang-Nya kepada Mūsā. Dia menghadapi gangguan yang
lebih menyakitkan hati dari pada ini, namun dia tetap bersabar.”
Walaupun sabar dan lemah lembut mempunyai persamaan, namun ada sisi perbezaan di antara kedua istilah tersebut;
Lemah lembut adalah menahan diri untuk tidak membalas dendam atas
perlakuan buruk orang lain yang menyakitkan hati dengan balasan yang
sama. Sedangkan sabar adalah menerima dengan lapang dada keadaan yang
tidak menyenangkan, separti kehilangan orang yang dicintai, sakit parah,
tartimpa musibah atau kehilangan harta.
Jadi lemah lembut berkaitan dengan hal-hal yang manusia masih mampu
melakukan aksi balas dendam. Manakala sabar berkaitan dengan hal-hal
yang berada di luar kemampuan manusia.
Perbezaan lain adalah, lemah lembut merupakan kebalikan sifat pemarah
yang merupakan pemberontakan jiwa kerana tidak kuasa menahan amarah
dengan disertakan dengan sikap menentang.
Sedangkan sabar adalah kebalikan sifat mengeluh yang merupakan sikap
tidak berdaya menghadapi keadaan yang menimpa dan tidak disertai sikap
menantang.
Al-Qur’an meminta Rasulullah s.a.w. untuk menghiasi diri dengan sifat
lemah lembut, supaya Beliau menjadi teladan bagi umat manusia. Allah
s.w.t. berfirman dalam surah al-A‘rāf, 7: 199-201, yang artinya:
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma‘ruf, serta
berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa
sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang
bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat
kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat
kesalahan-kesalahannya.”
Pada ayat lain Allah s.w.t. berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada
ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (iaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan)
orang. Allah menyukakan orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Āli
Imrān, 3: 133-134).
Berkaitan dengan dua rangkaian ayat di atas, ada salah seorang
ulama[4] yang menerangkan bahwa: “Pada rangkaian ayat pertama terdapat
perintah untuk menghiasi diri dengan sifat lemah lembut dan meminta
perlindungan kepada Allah s.w.t. dari keinginan untuk marah dan balas
dendam. Sedangkan dalam rangkaian ayat kedua diterangkan bahawa menahan
amarah, melakukan perbuatan-perbuatan fi sabīllillah dan juga memaafkan
orang lain adalah sama (pentingnya).”
Jika kita mengetahui bahawa menahan amarah menempati posisi di bawah
sikap lemah lembut, maka kita dapat menyimpulkan bahawa sikap lemah
lembut adalah sikap yang sangat mulia. Menahan amarah adalah usaha untuk
menjadi lemah lembut. Hanya orang yang mempunyai amarah bergejolak
sajalah yang memerlukan usaha untuk menahan amarah. Jika seseorang
selalu berusaha menahan amarah maka sikap separti ini akan menjadi
kebiasaan dan amarahnya tidak akan sering bergejolak, apabila bergejolak
pun dia tidak akan kesulitan untuk mengendalikan.
Lembut, ternyata Alloh mencintai kelembutan dan itu tercermin dari
perilaku Rasululloh SAW semasa hidup beliau. Berikut contoh-contoh sifat
lemah lembut Rasul dalam beberapa hal :
1. Lembut terhadap istri/keluarga
Sangat banyak hadits yang menceritakan betapa Rasul sangat lemah
lembut terhadap istri-istri nya. Rasul tidak pernah melotot, menaikkan
nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau biasa memanggil
istri-istrinya, dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah.
Separti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Rasul juga adalah orang yang
paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau
sakit. Banyak teladan Rasul yang bisa menjadi inspirasi kita dalam
bersikap lemah lembut terhadap istri.
2. Lembut terhadap pembantu
Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang membantu mengurus
kebutuhan rumah tangga Rasul. Selama 10 tahun bekerja kepada Rasul, ia
tidak pernah mendapati Rasulullah mengumpat, atau menyalah-nyalahkan
pekerjaan yang telah ia lakukan.
3. Lembut terhadap anak-anak
Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sementara Al-Aqra’ bin
Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku
memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium.’
Kemudian Rasulullah memandangnya, lalu bersabda, ‘Siapa yang tidak
menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.’ (HR. Bukhari Muslim).
4. Lembut terhadap orang jahil/belum paham islam
Ada seseorang yang berbicara di dalam shalatnya. Dia mengira, bahwa
ketika sedang mengerjakan shalat diperbolehkan berbicara. Karena orang
ini jahil (tidak mengetahui hukumnya) dan mukhthi’ (keliru), maka
shalatnya tidak batal. Dia telah melakukan sebuah kesalahan, namun tanpa
maksud yang disengaja. Secara khusus, terdapat dalil yang menunjukkan
perbuatan separti ini. Yaitu hadits Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami
Radhiyallahu ‘anhu , yang cukup panjang, tentang diharamkannya berbicara
ketika seseorang sedang shalat.
Kisah ringkasnya, tatkala Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami
Radhiyallahu ‘anhu shalat berjama’ah bersama Rasulullah, ia mendengar
orang bersin. Dan orang yang bersin itu berkata “alhamdulillah,”
sehingga ia pun berkata (menjawab) “yarhamukallah”. Akhirnya,
orang-orang di sekitarnya memandang kepadanya. Dia pun berteriak. Lalu
orang-orang di sekitarnya memukul-mukul paha mereka sebagai isyarat agar
ia diam. Maka Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu pun
terdiam. Begitu shalat usai, manusia yang paling berakhlak mulia (yaitu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) memanggilnya. Akhirnya,
Mu’awiyah bercerita tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketika mengajarkan dan membimbingnya: Aku belum pernah melihat
seorang pendidikpun sebelumnya maupun setelahnya yang lebih baik
darinya. Demi Allah, ia tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak
mencaciku.
5. Lembut terhadap orang yang meminta-minta
Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang
meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada
pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”
Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa
dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan
serahkan ke saya!”
Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan
kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan
cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin
membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”
Rasulullah SAW menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang
ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya
dengan harga dua dirham.
Rasulullah SAW memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu
menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya
dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah SAW berkata,
“Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku
tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah SAW pun
memberinya uang untuk ongkos.
Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah
SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu.
Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan
untuk keluarganya seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena
meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti.
Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir
miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa
terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“
6. Lembut ketika amar ma’ruf nahi munkar
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat
radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab
badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya.
Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam
masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras.
Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk
menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang
tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk
dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui
tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:
“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis
(separti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun
sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al
Qur’an.” (HR. Muslim)
Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian
lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati
‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka
ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah
Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
7. Lembut terhadap orang kafir yang memusuhi kita
Kisah Nabi ketika berdakwah ke Bani thaif, lalu beliau dicaci maki,
dihina dan dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah. Akhirnya
beliau menjauh dari thaif dan berdoa
” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan
kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha
Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan
menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya
urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu.
Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya
mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang
gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari
Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku
azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak
ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”
Demikianlah doa Baginda Rasulullahu yang penuh dengan kepasrahan dan
keikhlasan kepada Allah s.w.t. Mendengar doa NabiNya ini, Allah s.w.t
menurunkan Jibril AS yang langsung turun berhadapan dengan Rasulullah
dan mengucapkan salam seraya berkata:” Allah s.w.t.. mengetahui apa yang
telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah
menyediakan malaikat digunung-gunung disini khusus untuk menjalankan
segala perintah kamu.”
Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat penjaga
gunung-gunung itu dimuka Baginda s.a.w, kata Malaikat ini: “Wahai
Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau
dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung yang berada sebelah
menyebelah di kota ini berbenturan sehingga penduduk-penduduk
dikedua-dua belah mati tartindih. Kalau tidak, Tuan perintahkan apa saja
hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”
Namun apa jawab Rasulullahu mendengar janji-janji Malaikat itu yang
sesuai dengan nafsu amarah ini? Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan
sifat rahim dan belas kasihan ini tidak mengiakan tetapi berkata:
”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan
kehendak Allah s.w.t., keturunan-keturunan mereka, pada satu masa nanti,
akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”
8. Lembut terhadap orang ahli maksiat
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan di dalamnya disebutkan:
“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
tiba-tiba datang seseorang dan berkata: “Ya Rasulullah, celaka aku!”
Beliau berkata: “Ada apa dengan kamu?”
Ia berkata: “Aku menyetubuhi istriku, sedang aku dalam keadaan berpuasa.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu memiliki budak yang bisa kamu merdekakan?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Beliau bersabda: “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”
Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah kamu bisa memberi makan enam puluh orang miskin?”
Sekali lagi ia menjawab: “Tidak.”
Lalu diamlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika kami masih
berada dalam keadaan hening (terdiam), didatangkanlah kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah keranjang yang berisi kurma. Beliau
bersabda: “Mana orang yang bertanya tadi?” Ia berkata: “Saya.” Beliau
bersabda: “Ambillah ini dan sedekahkanlah dengannya.” Orang tersebut
berkata: “Apakah ada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah? Demi
Allah tidak ada di antara dua kampung ini rumah yang lebih fakir dari
rumahku.” Tertawalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai nampak
gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Berikan ini kepada
keluargamu.”
9. Lembut terhadap kesabaran dan kesusahan
Pada tahun kesepuluh kenabian, istri Rasulullah, Khadijah binti
Khuwailid, dan pamannya, Abu Thlaib, wafat. Berkata Ibnu Sa’d dalam
Thabaqat-nya: Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu
Thalib hanya satu bulan lima hari.
Khadijah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam adalah menteri
kebenaran untuk Islam. Pada saat-saat Rasulullah menghadapi
masalah-masalah berat, ia-lah yang selalu menghibur dan membesarkan
hatinya. Akan halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada
Rasulullah dalam menghadapi kaumnya.
Berkata Ibnu Hisyam: Setelah Abu Thalib meninggal, kaum kafir Quraisy
bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah, sampai
orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala
Rasulullah. Sehingga pernah beliau pulang ke rumah berlumuran tanah.
Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit dan membersihkan kotoran
dari atas kepalanya sambil menangis. Tetapi Rasulullah, berkata
kepadanya, “Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah
akan menolong bapakmu.“
10. Lembut terhadap Makhluq Alloh
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk
berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah
dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan
cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan
pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan menyenangkan sembelihannya.”
(HR. Muslim)
Itulah sepuluh sikap lemah lembut Rasul dalam kehidupan, jika kita
melakukan nya karena mengikuti Rasul maka sikap lemah lembut kita
bernilai ibadah. Setelah mengetahui ilmu dan dalil nya, tidak ada alasan
bagi tiap muslim untuk tidak bersikap lemah lembut.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”. (QS: Al Ahzab
[33] : 21).
Namun, yang perlu diperhatikan bahwa sifat Ar-Rifq tidaklah
menunjukkan kelemahan atau ketidaktegasan seseorang dalam berkata dan
bartindak. Bahkan dalam sifat Ar-Rifq sendiri, sebenarnya telah
mengandung sikap tegas dalam amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan
kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Dan tidaklah sikap tegas
itu identik dengan sikap keras atau kasar. Dalam keadaan tertentu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras.
Diantara contohnya:
Celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan
memanjangkan sholat tanpa memperhatikan keadaan orang-orang yang
berma’mum. (HR. Al Bukhari)
Sikap keras beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang
makan menggunakan tangan kiri ketika diperintah untuk makan menggunakan
tangan kanan. (HR. Muslim)
Perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celaka kamu”
terhadap orang yang berlambat-lambat melaksanakan perintah beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menaiki unta. (HR. Al Bukhari)
Kerasnya sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang
(laki-laki) yang memakai cincin emas, setelah ia tahu bahwa perkara itu
adalah perkara yang diharamkan. (HR. Muslim)
Sifat Ar-Rifq dalam menghadapi kerasnya problem kehidupan
Diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh dalam
menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah hendaknya
kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut), At-Ta’anni
(tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).
Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak
tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah
marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq,
karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang
itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat
ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.
[1] Ihyā’ Ulūm al-Dīn.
[2] Ihyā’ Ulūm al-Dīn, (3/154).[3] Ihyā’ Ulūm al-Dīn, (2/153).
[4] Dr. Ahamd al-H!ūfī dalam kitabnya Min Akhlāq al-Nabī s.a.w.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar