Jumat, 06 Maret 2020

AKHLAK TERPUJI 24 | SIKAP LEMAH LEMBUT


​Sikap Lemah Lembut dan Rendah Hati
Sahabat Ibn ‘Abbās r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada al-Asyjī: “Kamu mempunyai dua sifat yang membuat Allah dan Rasul-Nya senang; Lemah lembut dan murah hati.” (H. R. Muslim).
Sayyidah ‘Ā’isyah r.a. menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺭَﻓِﻴﻖٌ ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟﺮِّﻓْﻖَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻛُﻠِّﻪِ

Maksudnya: “Sesungguhnya Allah adalah Maha Lemah Lembut dan suka terhadap sikap lemah lembut dalam segala hal.” (H. R. al-Bukhārī dan Muslim).
Sifat pemarah merupakan sifat tercela yang muncul pada diri manusia akibat dorongan amarah dan hawa nafsu . Islam selalu menekankan pada umatnya untuk menjauhkan diri daripada sifat tercela ini. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk bersikap lemah lembut. Karena sifat lemah lembut adalah kebalikan sifat pemarah, maka untuk memahami secara baik sifat tersebut, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu sifat pemarah.
Marah mempunyai banyak tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah di saat seseorang tidak mempunyai apapun naluri pemarah, sehingga dia sama sekali tidak dapat emosi. Keadaan separti ini adalah keadaan yang kurang baik.
Tingkatan yang paling buruk lainnya adalah di saat naluri pemarah seseorang tidak dapat dikawal oleh akal dan ajaran agamanya, sehingga dia tidak mempunyai pertimbangan yang matang dan pilihan yang jelas ketika marah. Sifat ini dapat timbul karena faktor dalam yang berupa tingginya naluri kemarahan dan juga faktor luar yang berupa lingkungan masyarakat yang menganggap kemarahan sebagai sikap pemberani.
Sikap pemarah seperti ini jelas tidak dibenarkan oleh agama, karena ia dapat menyebabkan seseorang menjadi “buta”, tidak dapat membedakan antara kebenaran dan kesalahan dan juga menyebabkan seseorang menjadi “tuli”, tidak mau mendengar nasihat dan bimbingan. Akhirnya yang mengendalikan tingkah laku mereka adalah hawa nafsu bukan akalnya dan yang keluar dari lisan mereka adalah kata-kata kotor.
Kebencian akan muncul di dalam hatinya sehingga timbul keinginan untuk memukul atau bahkan membunuh. Kalau dia tidak sanggup melampiaskan kekesalannya, maka dirinya akan merasa terhina, atau dia akan mencari pelampiasan lain, separti dengan menghacurkan barang-barang yang terdapat di hadapannya. Belum lagi, orang yang sedang marah raut mukanya akan berubah menjadi buruk dan menyeramkan, badannya gemetar, langkahnya tidak terkendali dan matanya berwarna merah. Seandainya ketika marah dia melihat dirinya sendiri, maka ia akan menghentikan kemarahan tersebut, kerana malu melihat raut muka dan sikapnya itu.
Adapun tingkatan yang terpuji adalah di saat terdapat keseimbangan antara naluri sikap pemarah dan sikap lemah lembut. Kemarahan model ini adalah kemarahan yang masih berada dalam kendali akal, dan jika ia munculpun kerana didorong oleh sikap sensitifi dan emosi keberagamaan untuk membela agama. Hal ini sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah s.a.w., jika Beliau melihat ada larangan-larangan Allah s.w.t. dilanggar, Beliau marah. Namun di saat lain sikap lemah lembut harus selalu muncul menghiasi dirinya. [1]
Setakat ini, maksud dari sikap lemah lembut belum juga terungkap dengan jelas. Oleh kerana itu berikut ini akan dipaparkan beberapa pendapat ulama. Imam al-Ghazālī mendefinisikan sikap lemah lembut dengan terkalahkannya potensi kemarahan terhadap bimbingan akal. Menurut al-Ghazālī, tumbuhnya sifat lemah lembut dalam diri manusia dapat dimulakan dengan melatih diri menahan amarah. Allah s.w.t. berfirman dalam surah Ālī Imrān, 3: 134, yang artinya: “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.”
Hal ini dapat didapat dengan pelatihan, iaitu dengan cara berusaha sedaya upaya untuk menahan setiap amarah yang sedang bergejolak. Jika seseorang telah terbiasa dengan sikap separti ini maka sikap lemah lembut akan menjadi akhlaknya, dan amarahnya tidak akan bergejolak, seeandainya bergejolakpun dia tidak akan kesulitan mengendalikan. [2]
Sehingga dapat dikatakan bahawa sikap lemah lembut merupakan parameter kesempurnaan akal dalam mengendalikan nafsu amarah. [3]
Terdapat sebahagian orang yang beranganggapan bahawa sifat lemah lembut adalah sikap menahan nafsu. Pendapat ini kurang tepat, kerana nafsu yang harus ditahan jumlahnya banyak sangat, tidak hanya kemarahan sahaja. Menahan nafsu adalah akhlak utama yang paling asas dan harus dimiliki setiap manusia. Dengan menahan nafsu, seseorang akan banyak mendapatkan keutamaan-keutamaan. Kerana sikap itu dapat menjaga seseorang dari melakukan bermacam tindakan tercela yang melenceng dari tuntunan agama. Sikap ini juga dapat melindungi seseorang dari ketundukan terhadap hawa nafsu, menjauhkan dari perbuatan zalim, terlena sehingga melanggar batas-batas yang telah ditetapkan agama.
Sikap lemah lembut sangat berhubung kait dengan sifat sabar. Dua sifat ini memang hampir sama, oleh kerana itu kedua kata ini (al-Hilm dan al-S)abr ) sering digunakan untuk menunjuk satu makna yang sama, sebagaimana dalam firman Allah s.w.t dalam surah Āli Imrān, 3: 186, yang artinya: “Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
Ayat ini menegaskan bahawa menghadapi gangguan dengan tenang dan tabah dapat disebut dengan kesabaran dan juga dapat disebut sebagai sikap lemah lembut ( al-Hilm)
Begitu juga dalam ayat berikut ini: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (al-Nahl, 16: 126) Tidak membalas dendam dapat disebut sebagai sikap lemah lembut dan juga dapat disebut sebagai sikap sabar.
Dalam ayat yang lain juga disebutkan: “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”
Sabar dan lemah lembut merupakan salah satu akhlak mulia yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w.. Pada suatu hari, Rasulullah s.a.w. membagi harta pampasan perang. Kemudian terdapat seorang yang berkata: “Pembagian ini tidak adil dan tidak kerana Allah.” Mendengar ucapan ini, pipi Rasulullah s.a.w. memerah dan Beliau berkata: “Semoga Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada Mūsā. Dia menghadapi gangguan yang lebih menyakitkan hati dari pada ini, namun dia tetap bersabar.”
Walaupun sabar dan lemah lembut mempunyai persamaan, namun ada sisi perbezaan di antara kedua istilah tersebut;
Lemah lembut adalah menahan diri untuk tidak membalas dendam atas perlakuan buruk orang lain yang menyakitkan hati dengan balasan yang sama. Sedangkan sabar adalah menerima dengan lapang dada keadaan yang tidak menyenangkan, separti kehilangan orang yang dicintai, sakit parah, tartimpa musibah atau kehilangan harta.
Jadi lemah lembut berkaitan dengan hal-hal yang manusia masih mampu melakukan aksi balas dendam. Manakala sabar berkaitan dengan hal-hal yang berada di luar kemampuan manusia.
Perbezaan lain adalah, lemah lembut merupakan kebalikan sifat pemarah yang merupakan pemberontakan jiwa kerana tidak kuasa menahan amarah dengan disertakan dengan sikap menentang.
Sedangkan sabar adalah kebalikan sifat mengeluh yang merupakan sikap tidak berdaya menghadapi keadaan yang menimpa dan tidak disertai sikap menantang.
Al-Qur’an meminta Rasulullah s.a.w. untuk menghiasi diri dengan sifat lemah lembut, supaya Beliau menjadi teladan bagi umat manusia. Allah s.w.t. berfirman dalam surah al-A‘rāf, 7: 199-201, yang artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma‘ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.”
Pada ayat lain Allah s.w.t. berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukakan orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Āli Imrān, 3: 133-134).
Berkaitan dengan dua rangkaian ayat di atas, ada salah seorang ulama[4] yang menerangkan bahwa: “Pada rangkaian ayat pertama terdapat perintah untuk menghiasi diri dengan sifat lemah lembut dan meminta perlindungan kepada Allah s.w.t. dari keinginan untuk marah dan balas dendam. Sedangkan dalam rangkaian ayat kedua diterangkan bahawa menahan amarah, melakukan perbuatan-perbuatan fi sabīllillah dan juga memaafkan orang lain adalah sama (pentingnya).”
Jika kita mengetahui bahawa menahan amarah menempati posisi di bawah sikap lemah lembut, maka kita dapat menyimpulkan bahawa sikap lemah lembut adalah sikap yang sangat mulia. Menahan amarah adalah usaha untuk menjadi lemah lembut. Hanya orang yang mempunyai amarah bergejolak sajalah yang memerlukan usaha untuk menahan amarah. Jika seseorang selalu berusaha menahan amarah maka sikap separti ini akan menjadi kebiasaan dan amarahnya tidak akan sering bergejolak, apabila bergejolak pun dia tidak akan kesulitan untuk mengendalikan.
Lembut, ternyata Alloh mencintai kelembutan dan itu tercermin dari perilaku Rasululloh SAW semasa hidup beliau. Berikut contoh-contoh sifat lemah lembut Rasul dalam beberapa hal :
1. Lembut terhadap istri/keluarga
Sangat banyak hadits yang menceritakan betapa Rasul sangat lemah lembut terhadap istri-istri nya. Rasul tidak pernah melotot, menaikkan nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau biasa memanggil istri-istrinya, dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Separti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Rasul juga adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Banyak teladan Rasul yang bisa menjadi inspirasi kita dalam bersikap lemah lembut terhadap istri.
2. Lembut terhadap pembantu
Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang membantu mengurus kebutuhan rumah tangga Rasul. Selama 10 tahun bekerja kepada Rasul, ia tidak pernah mendapati Rasulullah mengumpat, atau menyalah-nyalahkan pekerjaan yang telah ia lakukan.
3. Lembut terhadap anak-anak
Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sementara Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium.’ Kemudian Rasulullah memandangnya, lalu bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.’ (HR. Bukhari Muslim).
4. Lembut terhadap orang jahil/belum paham islam
Ada seseorang yang berbicara di dalam shalatnya. Dia mengira, bahwa ketika sedang mengerjakan shalat diperbolehkan berbicara. Karena orang ini jahil (tidak mengetahui hukumnya) dan mukhthi’ (keliru), maka shalatnya tidak batal. Dia telah melakukan sebuah kesalahan, namun tanpa maksud yang disengaja. Secara khusus, terdapat dalil yang menunjukkan perbuatan separti ini. Yaitu hadits Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu , yang cukup panjang, tentang diharamkannya berbicara ketika seseorang sedang shalat.
Kisah ringkasnya, tatkala Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu shalat berjama’ah bersama Rasulullah, ia mendengar orang bersin. Dan orang yang bersin itu berkata “alhamdulillah,” sehingga ia pun berkata (menjawab) “yarhamukallah”. Akhirnya, orang-orang di sekitarnya memandang kepadanya. Dia pun berteriak. Lalu orang-orang di sekitarnya memukul-mukul paha mereka sebagai isyarat agar ia diam. Maka Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu pun terdiam. Begitu shalat usai, manusia yang paling berakhlak mulia (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) memanggilnya. Akhirnya, Mu’awiyah bercerita tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan dan membimbingnya: Aku belum pernah melihat seorang pendidikpun sebelumnya maupun setelahnya yang lebih baik darinya. Demi Allah, ia tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku.
5. Lembut terhadap orang yang meminta-minta
Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”
Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”
Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”
Rasulullah SAW menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.
Rasulullah SAW memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah SAW berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah SAW pun memberinya uang untuk ongkos.
Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“
6. Lembut ketika amar ma’ruf nahi munkar
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:
“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (separti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)
Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
7. Lembut terhadap orang kafir yang memusuhi kita
Kisah Nabi ketika berdakwah ke Bani thaif, lalu beliau dicaci maki, dihina dan dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah. Akhirnya beliau menjauh dari thaif dan berdoa
” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keredzaanMu. Dalam pada itu afiatMu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau redza. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”
Demikianlah doa Baginda Rasulullahu yang penuh dengan kepasrahan dan keikhlasan kepada Allah s.w.t. Mendengar doa NabiNya ini, Allah s.w.t menurunkan Jibril AS yang langsung turun berhadapan dengan Rasulullah dan mengucapkan salam seraya berkata:” Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung-gunung disini khusus untuk menjalankan segala perintah kamu.”
Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat penjaga gunung-gunung itu dimuka Baginda s.a.w, kata Malaikat ini: “Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung yang berada sebelah menyebelah di kota ini berbenturan sehingga penduduk-penduduk dikedua-dua belah mati tartindih. Kalau tidak, Tuan perintahkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”
Namun apa jawab Rasulullahu mendengar janji-janji Malaikat itu yang sesuai dengan nafsu amarah ini? Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan ini tidak mengiakan tetapi berkata: ”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., keturunan-keturunan mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”
8. Lembut terhadap orang ahli maksiat
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan di dalamnya disebutkan:
“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang seseorang dan berkata: “Ya Rasulullah, celaka aku!”
Beliau berkata: “Ada apa dengan kamu?”
Ia berkata: “Aku menyetubuhi istriku, sedang aku dalam keadaan berpuasa.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu memiliki budak yang bisa kamu merdekakan?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Beliau bersabda: “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”
Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah kamu bisa memberi makan enam puluh orang miskin?”
Sekali lagi ia menjawab: “Tidak.”
Lalu diamlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika kami masih berada dalam keadaan hening (terdiam), didatangkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah keranjang yang berisi kurma. Beliau bersabda: “Mana orang yang bertanya tadi?” Ia berkata: “Saya.” Beliau bersabda: “Ambillah ini dan sedekahkanlah dengannya.” Orang tersebut berkata: “Apakah ada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada di antara dua kampung ini rumah yang lebih fakir dari rumahku.” Tertawalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai nampak gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Berikan ini kepada keluargamu.”
9. Lembut terhadap kesabaran dan kesusahan
Pada tahun kesepuluh kenabian, istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thlaib, wafat. Berkata Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya: Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.
Khadijah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam adalah menteri kebenaran untuk Islam. Pada saat-saat Rasulullah menghadapi masalah-masalah berat, ia-lah yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya. Akan halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah dalam menghadapi kaumnya.
Berkata Ibnu Hisyam: Setelah Abu Thalib meninggal, kaum kafir Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah, sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah. Sehingga pernah beliau pulang ke rumah berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit dan membersihkan kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Tetapi Rasulullah, berkata kepadanya, “Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.“
10. Lembut terhadap Makhluq Alloh
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)
Itulah sepuluh sikap lemah lembut Rasul dalam kehidupan, jika kita melakukan nya karena mengikuti Rasul maka sikap lemah lembut kita bernilai ibadah. Setelah mengetahui ilmu dan dalil nya, tidak ada alasan bagi tiap muslim untuk tidak bersikap lemah lembut.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”. (QS: Al Ahzab [33] : 21).
Namun, yang perlu diperhatikan bahwa sifat Ar-Rifq tidaklah menunjukkan kelemahan atau ketidaktegasan seseorang dalam berkata dan bartindak. Bahkan dalam sifat Ar-Rifq sendiri, sebenarnya telah mengandung sikap tegas dalam amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Dan tidaklah sikap tegas itu identik dengan sikap keras atau kasar. Dalam keadaan tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras. Diantara contohnya:
Celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan memanjangkan sholat tanpa memperhatikan keadaan orang-orang yang berma’mum. (HR. Al Bukhari)
Sikap keras beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang makan menggunakan tangan kiri ketika diperintah untuk makan menggunakan tangan kanan. (HR. Muslim)
Perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celaka kamu” terhadap orang yang berlambat-lambat melaksanakan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menaiki unta. (HR. Al Bukhari)
Kerasnya sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang (laki-laki) yang memakai cincin emas, setelah ia tahu bahwa perkara itu adalah perkara yang diharamkan. (HR. Muslim)
Sifat Ar-Rifq dalam menghadapi kerasnya problem kehidupan
Diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh dalam menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah hendaknya kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut), At-Ta’anni (tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).
Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq, karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.
[1] Ihyā’ Ulūm al-Dīn.
[2] Ihyā’ Ulūm al-Dīn, (3/154).
[3] Ihyā’ Ulūm al-Dīn, (2/153).
[4] Dr. Ahamd al-H!ūfī dalam kitabnya Min Akhlāq al-Nabī s.a.w.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar