Definisi Murah Hati
1. Murah hati secara etimologi
Secara bahasa, murah hati pada awalnya berasal dari terjemahan bahasa
arab yaitu ﺍﻟﺤﻠﻢ . Kata ini mengandung pengertian yang cukup banyak
seperti lemah lembut, tidak gampang marah dan lain lain.
2. Murah hati secara terminology
Murah hati secara terminologi dapat diartikan sebagai suatu sikap
tenang dan menahan diri pada saat marah. Jadi orang yang mempunyai sikap
ini tidak akan marah oleh ejekan orang-orang yang tidak mengetahui dan
tidak juga takut dihina oleh orang-orang yang tidak menggunakan akalnya,
tetapi dia akan mengendalikan diri pada saat amarahnya bergejolak. [1]
Sifat ini akan terwujud dengan adanya kesempurnaan ilmu yang ada pada
diri kita. Kemudian setelah itu kita akan bertindak dengan sangat
hati-hati, yaitu bertindak bijak antara ketergesa-gesaan dan sikap sikap
lamban. Ini menunjukkan kecemerlangan dalam berfikir. Dari sini
kemudian muncul sikap sangat agung yang jarang dimiliki oleh orang awam
pada umumnya, yaitu segi praktis dari sikap sabar dan kehati-hatian yang
sering disebut oleh orang dengan sebutan Ar-Rifqu dimana seseorang akan
mengambil hal yang paling mudah dan lurus, sehingga kita akan melihat
orang tersebut sebagai seorang yang lemah lembut.
Ali bin Abi thalib mengatakan: “Sesungguhnya sikap Al-hilm pada diri
seseorang itu dapat diketahui ketika dia marah, orang yang marah maka
awalnya (pada saat marah itu) dia seperti orang gila, dan setelahnya
yang ada hanya penyesalan”. Karena seseorang yang marah, bisa terjadi
dua kemungkinan padanya. Yang pertama ada kemungkinan dia tidak bisa
mengendalikan emosinya dan dan ia melampiaskan rasa marahnya itu dengan
cara-cara yang buruk, yang menimbulkan banyak kerusakan baik bagi
dirinya maupun bagi orang lain. Inilah yang disebut oleh Ali bin Abi
Tholib sebagai sikap orang gila, dimana saat itu dia tidak perduli
dengan dirinya dan keadaan orang lain. Setelah marahnya hilang yang
timbul adalah penyesalan, karena seolah-olah ketika ia dalam keadaan
marah, ia tidak sadar apa yang terjadi pada dirinya.
Sementara kemungkinan kedua adalah dia bisa mengendalikan dirinya dan
tidak melampiaskan kemarahannya, dan inilah yang disebut oleh Ali bin
Abi Tholib sebagai sikap Al-Hilm.
Adapun Ahnaf bin Qois memaknai al-hilm dengan makna yang lebih luas,
yaitu beliau mengatakan Al-Hilm adalah: “engkau bersabar terhadap apa
yang engkau benci”.
Seringkali kita terpancing emosi terutama pada keadaan-keadaan yang
dapat memancing amarah. Bila seseorang dapat menahan emosinya, sewaktu
akal pikirannya lebih dominan daripada emosinya, ketika itulah dia
memiliki sifat al-hilm .
Sifat al-hilm (Murah hati) hanya dimiliki oleh orang yang memenuhi
dua syarat yaitu, kemampuan akal yang luas, dan kebesaran jiwa.
Kemampuan akal yang luas menjadikan manusia berpandangan jauh ke
depan. Sebelum mengaplikasikan perbuatan, ia menimbang terlebih dahulu
maslahat dan mudharat yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut.
Sedangkan kebesaran jiwa mampu menahan emosinya ketika ia ingin
melampiaskan amarahnya kepada orang lain.
Disisi lain murah hati beda dengan sabar. murah hati adalah menahan
diri untuk tidak membalas dendam atas perlakuan buruk orang lain yang
menyakitkan hati dengan balasan yang sama. Sedangkan sabar adalah
menerima dengan lapang dada keadaan yang tidak menyenangkan, seperti
kehilangan orang yang dicintai, sakit parah, tertimpa musibah atau
kehilangan harta.
Jadi murah hati berkaitan dengan hal-hal yang manusia masih mampu
melakukan aksi balas dendam. Manakala sabar berkaitan dengan hal-hal
yang berada di luar kemampuan manusia.
B. Dalil-dalil tentang murah hati
Ada beberapa dalil yang menerangkan murah hati diantarnya adalah
ﺇِﻥَّ ﻓِﻴْﻚَ ﺧَﺼْﻠَﺘَﻴْﻦِ ﻳُﺤِﺒُّﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺤِﻠْﻢُ ﻭَﺍﻷَﻧَﺎﺓُ
”Sesungguhnya kamu mempunyai dua akhlak yang sangat dicintai Allah
dan Rasul-Nya, yaitu sifat al-hilm (mampu menahan emosi) dan alanah
(sikap tenang) (HR.Muslim). [2]
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦُ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﻭَﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺄَﻋْﻠَﻰ ﺑْﻦُ ﺣَﻤَّﺎﺩٍ
ﻗَﺎﻟَﺎ ﻛِﻠَﺎﻫُﻤَﺎ ﻗَﺮَﺃْﺕُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﺷِﻬَﺎﺏٍ ﻋَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪِ
ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻴَّﺐِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟﺸَّﺪِﻳﺪُ ﺑِﺎﻟﺼُّﺮَﻋَﺔِ
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﺸَّﺪِﻳﺪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻳَﻤْﻠِﻚُ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻐَﻀَﺐِ
“Orang yg paling kuat bukanlah orang yg tak dapat dikalahkan oleh
orang lain. Tetapi orang yg paling kuat adl orang yg dapat menguasai
dirinya ketika ia sedang marah”.(HR. Muslim)
C. Faktor pendukung sifat murah hati
Ada beberapa hal yang bisa membantu seseorang memiliki sifat santun
dan murah hati dan mengokohkan sifat itu dalam jiwa-nya, di antaranya
sebagai berikut:
1. Memerangi kemarahan dan tidak tunduk kepada hal-hal yang
membangkitkan emosi. hal itu bisa dilakukan dengan cara berwudhu,
melakukan shalat sunnah, dan berzikir kepada allah. hal itu akan
memadamkan amarah sebagaimana air memadamkan api. karena itu, Rasulullah
memerintahkan kepada kita agar berwudhu dan shalat ketika ada orang
yang membuat emosi kita naik. dengan melakukan tuntunan Rasul itu, tidak
akan terjaid apa-apa. lalu Rasul juga memerintahkan jika emosi datang
dalam keadaan berdiri, maka duduklah. jika dalam keadaan duduk, maka
berbaringlah dengan miring atau telentang.
2. Berteman dengan orang-orang yang bersfat santun dan murah hati.
sesungguhnya orang-orang yang bermurah hai memiliki pengaruh pada jiwa
orang yang mengikutinya. karena mereka bisa belajar dan meneladani sikap
murah hati secara nyata dan meilhat hal itu dengan praktek langsung.
hal itu akan mendorong mereka untuk meneladaninya.
3. Membaca kisah-kisah orang-orang yang murah hati, mengamati sikap
mereka, dan sejauhmana pengaruhnya kepada manusia. bagaimana mereka
mengambil simpati dan mampu mengubah orang yang memusuhi jadi mencintai,
mengubah musuh jadi teman. lantas mengambil manfaat dari ini semua
serta berusaha meneladaninya. sesungguhnya ilmu didapat denga belajar
dan sifat murah hati di dapat dengan usaha untuk bermurah hati.
4. Merasakan pahala orang yang bersikap santun dan murah hati,
bagaimana Allah telah menyiapkan untuk mereka nikmat abadi dan bidadari
yang cantik jelita. hal itu dilakukan dengan cara membaca nash-nash dari
al-qur’an dan sunnah mengenai pahala orang-orang yang bermurah hati.
5. Menakut-nakuti manusia akan akibat marah dan pembalasan yang akan
diterima di dunia dan diakhirat. hendaknya ia berkata pada dirinya,
“kekuasaan Allah lebih besar dari kekuasaanku atas orang ini. jika aku
melampiaskan amarahku, maka aku tidak aman jika Allah melampiaskan
amarahnya padaku besok pada hari kiamat. aku jauh lebih membutuhkan
ampunan.” [3]
D. Pengaplikasian sifat murah hati
Ketika seseorang mampu menahan amarahnya, maka ia diberikan
keburuntungan yang besar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu ia akan
terhindar dari akibat buruk amarahnya, dia akan terhindar dari godaan
setan untuk mempermainkan dirinya, bahkan Allah akan beri cahaya dalam
pemikirannya sehingga ia bisa menimbang segala sesuatu dengan adil dan
bijak.
Pernah suatu ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang adil
dan bijak, masuk ke dalam masjid dalam kegelapan. Rupanya Umar melewati
seorang laki-laki yang sedang tidur di masjid itu. Tidak sengaja beliau
menginjak salah satu bagian dari tubuh orang itu. Spontan orang itu
berdiri lalu berkata, “Apakah kamu sudah gila? ”
Maka pengawal Umar hendak memukul orang itu. Namun Umar berkata,
“Jangan! Dia tadi hanya bertanya kepadaku, apakah aku sudah gila? Dan
aku menjawab, ‘Tidak.’ ”
Masya Allah, begitu indah sifat al-hilm yang menghiasi akhlak
Khalifah Umar bin Abdul aziz. Beliau lebih memilih untuk bersikap bijak
dan tidak tergesa-gesa, padahal beliau berkedudukan sebagai khalifah
pada masa itu. Secara logika, bisa saja beliau memerintahkan pengawalnya
untuk menghukum laki-laki itu. [4]
E. Metode mendakwahkan sikap murah hati
Dalam ilmu dakwah ada beberapa metode untuk menyampaikan pesan agar
mudah ditiru oleh Mad’u. Yaitu meode ceramah, tanya jawab, diskusi,
propaganda dan keteladanan.
Menurut hemat saya agar sikap murah hati yang dihadirkan oleh seorang
sufi bisa semaksimal mungkin dicerna, maka yang perlu digunakan sebagai
metode dakwah yaitu metode keteladanan. Maksudnya Sufi yang dalam hal
ini juga menjadi Da’i harus punya suri tauladan yang baik agar ditiru
orang lain dengan catatan tanpa diiringi sifat riya’.
Dengan menggunakan metode keteladanan atau demonstrasi berarti sutu
cara penyajian dakwah dengan memberikan keteladanan langsung sehingga
mad’u akan tertarik untuk mengikuti kepada apa yang dicontohkannya. [5]
Kesimpulan
1. Murah hati atau al-Hilm adalah
sikap tenang dan menahan diri pada saat marah
2. Salah satu dalil murah hati adalah
ﺇِﻥَّ ﻓِﻴْﻚَ ﺧَﺼْﻠَﺘَﻴْﻦِ ﻳُﺤِﺒُّﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﺤِﻠْﻢُ ﻭَﺍﻷَﻧَﺎﺓُ
”Sesungguhnya kamu mempunyai dua akhlak yang sangat dicintai Allah
dan Rasul-Nya, yaitu sifat al-hilm (mampu menahan emosi) dan alanah
(sikap tenang) (HR.Muslim)
3. Faktor pendukung sifat murah hati adalah:
a. Memerangi kemarahan dan tidak tunduk kepada hal-hal yang membangkitkan emosi.
b. Berteman dengan orang-orang yang bersfat santun dan murah hati.
c. Membaca kisah-kisah orang-orang yang murah hati, mengamati sikap mereka, dan sejauhmana pengaruhnya kepada manusia.
d. Merasakan pahala orang yang bersikap santun dan murah hati
e. Menakut-nakuti manusia akan akibat marah dan pembalasan yang akan diterima di dunia dan diakhirat
Cara mendakwahkan sifat murah hati bisa dilakukan dengan memakai metode dakwah keteladanan
Daftar pustaka
Daftar pustaka
1. Menyucikan Jiwa (Tazkiyatun Nafs) , Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris Jakarta: Gema Insani Press, 2005.
2. Shoheh Muslim, Imam Muslim, Darul Kutub Islamiyah (DKI)
4. Ilmu dakwah,drs Samsul munir Amin. M.A., Surabaya 2009.
[1] Menyucikan Jiwa (Tazkiyatun Nafs) , Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris Jakarta: Gema Insani Press, 2005.
[2] Shoheh Muslim, Imam Muslim, DKI, hal: 2165
[3] Ibid, Hal 1
[5] Drs. Samsul Munir Ain, M.A ilmu dakwaj, Jakarta: AMZAH 2009, hal. 103
Tidak ada komentar:
Posting Komentar