Pengertian Raja’
Kata raja’ berasal dari bahasa arab yang artinya harapan. Maksudnya,
mengharap keridhaan Allah SWT dan rahmat-Nya. Rahmat adalah segala
karunia Allah SWT yang mendatangkan manfaat dan nikmat.
Raja’ termasuk akhlakul karimah terhadap Allah SWT yang manfaatnya
dapat mempertebal iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seorang
muslim atau muslimat yang melimpahkan ampunan Allah, berarti ia mengakui
bahwa Allah itu Maha Pengampun. Muslim dan muslimat yang mengharapkan
agar Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, berarti ia
telah meyakini bahwa Alla Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Kebalikan dari sifat Raja’ adalah berputus asa terhadap ridha dan
rahmat Allah SWT. Orang yang berputus asa terhadap Allah berarti ia
berprasangka buruk kepada Allah SWT, yang hukumnya haram dan merupakan
ciri-ciri orang kafir.
Muslim dan muslimat yang bersifat Raja’ tentu dalam hidupnya akan bersikap
1. Optimis
Setiap manusia akan selalu diuji keimanan dan kepribadiannya. Dengan
segala kekurangan dan kelebihannya, manusia senantiasa menghadapi
peluang dan tantangan. Tidak jarang, kegagalan dijumpai dalam usaha
keras yang telah dilakukan. Bila peluang dan kesempatan telah tersedia,
kemudian ditambah dengan modal, potensi, kekuatan atau kelebihan
dirinya, seringkali menimbulkan rasa optimis. Sebaliknya, apabila
kemampuan yang dimiliki kurang memadai, biasanya seseorang mudah merasa
pesimis.
Optimis ialah keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang
dianjurkan dalam islam. Dengan sikap optimis, seseorang akan bersemangat
dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun dalam
menghadapi kehidupan di akhirat kelak.
Sikap optimis merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap
manusia, khususnya seorang muslim. Karena dengan optimis, seorang muslim
akan selalu berusaha semaksimal mungkin mencapai cita-citanya dengan
penuh keikhlasan karena Allah tanpa sedikitpun rasa takut dan khawatir
akan mengalami kegagalan.
Optimis sangat diperlukan dalam untuk mencapai kesuksesan. Dengan
adanya sikap optimis dalam diri setiap muslim, kinerja untuk amal akan
meningkat dan persoalan yag dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.
2. Perilaku Dinamis
Dinamis dapat diartikan sebagai satu keadaan yang selalu bergerak,
tidak pernah diam, tidak statis. Seseorang yang dinamis adalah seseorang
yang tidak kenal putus asa dalam mencapai tujuannya. Sikap dinamis ini
memacu pada kemajuan dan perkembangan.
Manusia yang baik adalah manusia yang berprestasi lebih baik dari
hari kemarin. Dan manusia yang buruk adalah manusia yang sama, bahkan
lebih buruk dari hari kemarin. Maka berusahalah utuk menjadi manusia
yang senantiasa berusaha ke arah kebaikan.
3. Berfikir Kritis
Beberapa ciri orang yang memiliki sifat berfikir kritis antara lain:
o Menanggapi atau memberikan komentar terhadap sesuatu dengan penuh pertimbangan.
o Bersedia memperbaiki kesalahan
o Dapat menganalisa sesuatu yang datang kepadanya secara sistematis
o Bersikap cermat, jujur dan ikhlas
o Adil dalam memberikan kesaksian tanpa melihat siapa orangnya walaupun merugikan
o Keadilan ditegakkan dalam segala hal
4. Mengendalikan Diri
Manusia diberi akal dan hawa nafsu oleh Allah SWT. Dua hal inilah
yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya sehingga manusia disebut
sebagai makhluk yang paling sempurna. Seringkali hawa nafsu membawa
seseorang cenderung ke arah keburukan sehingga setiap orang harus mampu
mengendalikannya. Hawa nafsu dapat membawa kebaikan selama ia mampu
diarahkan, tetapi akan menjerumuskan kepada kejahatan bila dibiarkan
tanpa arah yang jelas.
Hikmah perilaku Raja’:
o Memperoleh keridhoan Allah SWT
o Terhindar dari perbuatan dosa
o Mendapat kepuasan hidup
o Mendekatkan diri pada Allah SWT
o Sarana penyelesaian masalah hidup
o Memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat
o Menciptakan prasangka baik dan membuang prasangka buruk
o Tidak mudah berputus asa
o Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut pada siapapun kecuali Allah SWT
o Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya
o Menghilangkan rasa hasud, dengki dan sombong
Contoh Perilaku Raja’
Contoh Perilaku Raja’
– Selalu memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah dilakukan
– Tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah
– Bersikap optimis,dinamis dan selalu berfikir kritis.
Pembiasaan Roja’ dalam Kehidupan Sehari-hari
– Biasakan agar selalu berstighfar sehabis sholat lima waktu
– Meminta maaf apabila punyai kesalahan kepada orang lain
– Bersikap optimis, dinamis, selalu berpikir kritis,bekerja keras dan tidak mudah menyerah
PROBLEM SOLVING
Pada suatu ketika, ada seorang anak SMA yang sebentar lagi akan
melaksanakan Ujian Nasional. Di sekolah, ia termasuk anak kemampuan
akademiknya standar atau bahkan dibawah rata-rata. Di kelas dia pasif,
jarang mendengarkan bila guru menjelaskan, jarang menyelesaikan tugas
yang diberi bapak ibu guru di sekolah, bahkan ia sering membolos sekolah
karena bermain PS bersama teman-temannya.
Waktu terus berjalan dan Ujian Nasional sudah tinggal menghitung
bulan lagi. Iya terpikir nasibnya dan nasib orang tuanya bila ia gagal
menempuh Ujian Nasional. Dengan segala upaya, ia berusaha meminjam buku
catatan teman-temannya dan menyalinnya pada buku catatannya. Ia berusaha
memahami materi-materi itu. Tapi rasanya sangat berat, karena ia sudah
tertinggal sangat jauh. Ia berputus asa melihat kemampuannya yang hanya
sebatas itu.
Suatu saat di sekolah, ia sedang berusaha belajar dengan serius,
tetapi tetap saja materi itu tidak dapat ia pahami. Lalu ia benar-benar
menyerah dan terlihat sangat stres. Guru agamanya tidak sengaja lewat
dan melihatnya dalam keadaan kacau itu, lalu mendekati dan duduk
disampingnya. Beliau bertanya ada masalah apa dengannya hingga dia
terlihat sangat bimbang. Dia menceritakan masalahnya dalam belajar pada
gurunya itu. Lalu guru itu menjelaskan padanya tentang Raja’ beserta
hikmah Raja’. Gurunya menyarankannya untuk menerapkan perilaku Raja’
dengan tak mudah berputus asa karena sesungguhnya Allah akan membantunya
bila ia berpengharapan pada-Nya.
Ujian Nasioal semakin dekat, ia sudah menerapkan perilaku Raja’
seperti apa yang dikatakan gurunya serta dibarengi dengan usaha dan
tawakal. Sekarang ia belajar terasa tidak berat karena Allah ada untuk
membantunya. Hingga pada saatnya Ujian Nasional, iya mengerjakannya
dengan bekal materi yang telah dimilikinya dan berpengharapan positif
bahwa Allah akan membantunya. Akhirnya ia berhasil menjalani Ujian
Nasional dengan sukses dan dengan hasil yang memuaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar