PEMBAHASAN HUSNUZZAN
A. Husnuzan
Kata husnuzan berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas husnu dan
azh-zhan. Husnu artinya bai dan azh-zhan artinya prasangka, jadi
husnuzan artinya berprasangaka baik. Lawan dari husnuzan adalah suuzan,
yang artinya berprasangaka buruk.
Orang yang husnuzan ialah orang yang selalu berfikir positif dan
tidak pernah berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan orang lain.
Sedangkan orang yang suuzan ialah orang yang selalu berfikiran negatif
dan selalu berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan orang lain.
1. Pengertian Husnuzan Kepada Allah
Husnuzan terhadap Allah artinya menerima semua yang menjadi takdir dan keputusan Allah. QS. Yunus ayat:44 yang artinya:
Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya kepada manusia sedikit pun,
akan tetapi manusia itu sendiri berbuat anuaya kepada diri mereka
sendiri. (QS. Yunus: 44)
2. Sikap Husnuzan Kepada Allah
a. Meyakini bahwa Allah Maha Esa (tauhid)
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah :225 yang artinya:
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksudkan
(untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu)
yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyantujn (tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa).
(QS. Al-Baqarah: 225)
b. Bertaqwa kepada Allah
Dejelaskan dalam QS. Al –Hujrat: 14 yang artinya:
Hai mnanusia, sesunggunhnya Kami menciptakan kamu seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengengal.
(QS. Al-Hujrat:14)
c. Berserah diri kepada Allah (tawakal)
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112 yang artinya:
Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat
kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan dan tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS.
Al-Baqarah:112).
d. Menerima dengan ikhlas semua keputusan Allah
Dijelaskan dalam QS. At-Taubah:59 yang artinya:
Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan
Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah
akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian
(pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap
kepada Allah. (Tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (QS.
At-Taubah:59)
B. Hikmah Husnuzan kepada Allah
Sikap husnuzan mempunyai hikmah yang besar. Berhusnuzan kepada Allah memiliki hikmah yang banyak, diantaranya seperti berikut.
a. Selalu optimis dalam menyongsong masa depan
Dijelaskan dalam QS. Az-Zumar:54 yang artinya:
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang emlampaui batas terhadap adiri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah
yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
b. Tidak mudah putus asa
Dijelaskan dalam QS. Yusuf:87 yang artinya:
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.
c. Selalu bersyukur kepada Allah
Bersyukur dapat dilakukan dengan cara mempertebal iman dan meningkatkan takwa. Berikut diantara ciri-ciri orang bertakwa:
1) Surah al-Baqarah ayat 2-5 yaitu mempercayai yang ghaib,
menegakan salat, mengeluarkan zakat dan sedekah, mempercayai kitab-kitab
samawi, meyakini adanya hari akhir, dan mengikuti hidayah Allah. QS.
Al-Baqarah tersebut yang artinya:
(2) Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi
mereka yang bertaqwa (3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib,
ayng mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami
anugerahkan kepada mereka, (4) dan mereka yang beriman kepada Kitab
(Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah
dirurunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat. (5) mereka itulah yang tetap mendapat petunguk dari Tuhan
mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
2) Surah Ali-Imran ayat 134-135 yaitu mampu berinfak baik dalam
keadaan sulit maupun longgar, mampu menahan marah, pemaaf, selalu
berbuat baik, jika berbuat salah sadar dan istigfar serta tidak
mengulangi.
Artinya:
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan)
orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga)
orang-orang yang apabila menherjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap
dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengambuni dosa selain Allah?
Dan merekan tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka
mengetahui.
3) Surah az-Zariyat ayat 16-20, yaitu mengambil apa saja yang
diberikan Allah kepadanya, selalu berbuat baik, di waktu malam sedikit
tidurnya, istighfar di waktu sahur (tahajud di waktu sepetiga akhir
malam), selalu sedekah dan zakat, mampu mengambil pelajaran apa yang ada
di muka bumi.
Artinya:
(16) Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan
mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang
berbuat baik, (17) Mereka sedikit tidur di waktu malam (18)Dan di
akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (19) Dan pada
harta-harta mereka ada hak untuk orang moskin yang meminta dan orang
miskin yang tidak mendapat bagian. (20) Dan di bumi itu terdapat
tanda-tanda (kekuasan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
4) Hadis rasul untuk Muads bin Jabal, beliau memberi nasihat
tentang takwa, yaitu kata-kata jujur, menepati janji (termasuk
mengembalikan utang), melaksanakan amanah (tanggung jawab), menjaga
tetangga (demi baiknya), sayang kepada anak yatim, kata-katanay lemah
lembut, selalu berbuat baik, berusaha mewujudkan
Sedangkan siapa yang menyangka, husnudzan kepada Allah Ta’ala tidak
disertai amal apapun, maka ia salah besar dan tidak memahami ibadah
agung ini sesuai dengan pemahaman yang benar. Sesungguhnya husnudzan
tidak tegak dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan menjalankan
kemaksiatan-kemaksiatan. Maka siapa yang berperasangka baik kepada Allah
semacam itu, ia telah tertipu, berharap yang salah, berpaham murji’ah
yang tercela, serta merasa amal dari siksa Allah. Semua ini tercela dan
membinasakan dirinya sendiri.
Ibnul Qayyim berkata,
ﻭﻗﺪ ﺗﺒﻴﻦ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﻈﻦ ﻭﺍﻟﻐﺮﻭﺭ ، ﻭﺃﻥ ﺣﺴﻦ ﺍﻟﻈﻦ ﺇﻥ ﺣﻤَﻞ
ﻋﻞﻯ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﺣﺚ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﺎﻋﺪﻩ ﻭﺳﺎﻕ ﺇﻟﻴﻪ : ﻓﻬﻮ ﺻﺤﻴﺢ ، ﻭﺇﻥ
ﺩﻋﺎﺇﻝﻯ ﺍﻟﺒﻄﺎﻟﺔ ﻭﺍﻻﻧﻬﻤﺎﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ : ﻓﻬﻮ ﻏﺮﻭﺭ ، ﻭﺣﺴﻦ ﺍﻟﻈﻦ ﻫﻮ
ﺍﻟﺮﺟﺎﺀ ، ﻓﻤﻦ ﻛﺎﻥ ﺭﺟﺎﺅﻩ ﺟﺎﺫﺑﺎً ﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﺯﺍﺟﺮﺍً ﻟﻪ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﻌﺼﻴﺔ : ﻓﻬﻮ ﺭﺟﺎﺀ ﺻﺤﻴﺢ ، ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﺑﻄﺎﻟﺘﻪ ﺭﺟﺎﺀ ﻭﺭﺟﺎﺅﻩ ﺑﻄﺎﻟﺔ
ﻭﺗﻔﺮﻳﻄﺎً : ﻓﻬﻮ ﺍﻟﻤﻐﺮﻭﺭ
“Telah nampak jelas perbedaan antara husnudzan dengan ghurur
(tipuan). Adapun Husnuzan, jika ia mengajak dan mendorong beramal,
membantu dan membuat rindu padanya: maka ia benar. Jika mengajak malas
dan berkubang dengan maksiat: maka ia ghurur (tipuan). Husnuzan adalah
raja’ (pengharapan). Siapa yang pengharapannya mendorongnya untuk taat
dan menjauhkannya dari maksiat: maka ia pengharapan yang benar.
Sedangkan siapa yang kemalasannya adalah raja’ dan meremehkan perintah:
maka ia tertipu. ” (Al-Jawab al-Kaafi: 24)
Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Berhusnuzan kepada Allah harus
disertai dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Jika tidak, ia
termasuk merasa aman dari siksa Allah. Oleh sebab itu, behusnudzan
kepada Allah harus disertai melaksanakan sebab-sebab kebaikan yang jelas
dan mejauhi semua sebab yang menghantarkan kepada keburukan: Ini
merupakan pengharapan yang terpuji. Adapun husnudzan kepada Allah dengan
meninggalkan kewajiban dan menerjang keharaman: maka ia pengharapan
yang tercela, itu termasuk bentuk merasa aman dari adzab Allah.”
(Al-Muntaqa’ min Fatawa Al-Syaikh al-fauzan: 2/269)
C. Meningkatkan Husnudzan
Seorang muslim hendaknya senantiasa berhusnudzan kepada Tuhan-Nya. Ini harus lebih meningkat dalam dua keadaan:
Pertama, saat dia menjalankan ketaatan. Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu , Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
bersabda: Allah Ta’ala berfirman,
ﺃَﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﻇَﻦِّ ﻋَﺒْﺪِﻱ ﺑِﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻣَﻌَﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﺫَﻛَﺮَﻧِﻲ ﻓَﺈِﻥْ ﺫَﻛَﺮَﻧِﻲ ﻓِﻲ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﺫَﻛَﺮْﺗُﻪُ ﻓﻲ
ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻭَﺇِﻥْ ﺫَﻛَﺮَﻧِﻲ ﻓِﻲ ﻣَﻸٍ ﺫَﻛَﺮْﺗُﻪُ ﻓِﻲ ﻣَﻸٍ ﺧَﻴْﺮٍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻯَّﺒِﺸِﺒْﺮٍ
ﺗَﻖَﺭَّﺑْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻘَﺮَّﺏَ ﺇِﻟَﻰَّ ﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ﺗَﻘَﺮَّﺑْﺖُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺑَﺎﻋًﺎ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺗَﺎﻧِﻲ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﺃَﺗَﻴْﺘُﻪُ ﻫَﺮْﻭَﻟَﺔً
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya
selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan
mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang
maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih
bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan
mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta
maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku
dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. ” (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits di atas, husnudzan kepada Allah memiliki hubungan
kuat dengan amal shalih. Karena sesudahnya disebutkan anjuran untuk
berdzikir dan mendekatkan diri dengan amal ketaatan kepada-Nya ‘Azza wa
Jalla . Maka siapa yang berprasangka baik kepada Allah pasti ia
terdorong untuk berbuat baik.
Al-Hasan al-Bashri berkata,
ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺃﺣﺴﻦَ ﺍﻟﻈﻦّ ﺑﺮﺑّﻪ ﻓﺄﺣﺴﻦ ﺍﻟﻌﻤﻞَ ، ﻭﺇﻥّ ﺍﻟﻔﺎﺟﺮ ﺃﺳﺎﺀَ ﺍﻟﻈﻦّ ﺑﺮﺑّﻪ ﻓﺄﺳﺎﺀَ ﺍﻟﻌﻤﻞ
“Sesungguhnya seorang mukmin selalu berhusnudzan kepada Tuhannya lalu
ia memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa berpesangka
buruk kepada Tuhannya sehingga ia berbuat yang buruk. ” (Diriwayatkan
Imam Ahmad dalam al-Zuhd, hal. 402)
Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan, siapa yang memperhatikan persoalan
ni dengan benar akan tahu, husnudzan kepada Allah adalah baiknya amal
itu sendiri. Karena seorang hamba terdorong menjalankan amal baik karena
ia berperasangka bahwa Tuhan-nya akan memberi balasan dan pahala atas
semua amal-amal baiknya, serta menerimanya. Husnuzan-lah yang
mendorongnya beramal shalih. Maka jika prasangkanya baik, baik pula
amalnya. Jika tidak, husnudzan bersamaan dengan mengikuti hawa nafsu
adalah kelemahan.
Ringkasnya, husnudzan pasti disertai dengan menjalankan sebab-sebab
menuju keselamatan. Sebaliknya, jika menjalankan sebab-sebab kehancuran,
pasti ia tidak berperasangka baik. (Disarikan dari al-Jawab al-Kaafi:
13-15)
Abu al-Abbas al-Qurthubi rahimahullah berkata, dikatakan, maknanya:
berperasangka (yakin) dikabulkan doa saat berdoa, diterima saat
bertaubat, diampuni saat istighfar, dan berperasangka akan diterima
amal-amal saat menjalankannya sesuai dengan syarat-syaratnya; ia
berpegang teguh dengan Dzat yang janji-Nya benar dan karunia-Nya
melimpah. Aku katakan, ini dikuatkan oleh Sabda Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam ,
ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻹﺟَﺎﺑَﺔِ
“Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin diijabahi. ” (HR.
Al-Tirmidi dengan sanad shahih). Bagi orang bertaubat dan beristighfar,
juga orang yang beramal agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan niatan
baiknya itu dengan disetai keyakinan bahwa Allah Ta’ala akan menerima
amalnya dan mengampuni dosanya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
berjanji akan menerima taubat yang jujur dan amal-amal yang shalih.
Seandainya ia menjalankan amal-amal tersebut dengan keyakinan atau
prasangka bahwa Allah tidak akan menerimanya dan amal-amal tersebut tak
memberikan manfaat baginya, itu namanya putus asa dari rahmat Allah.
Sedangkan berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar. Siapa
meninggal di atasnya, baginya apa yang diperasangkakannya. Adapun merasa
mendapat ampunan dan rahmat dengan mengerjakan maksiat-maksiat: itu
adalah kejahilan dan tertipu. Mereka itulah yang akan masuk dalam
jeratan paham murji-ah.
Kedua, saat tertimpa musibah dan menghadapi kematian. Dari Jabir bin
Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu , ia berkata: Aku mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tiga hari menjelang wafatnya,
ﻻَ ﻳَﻤُﻮﺗَﻦَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺇِﻻَّ ﻭَﻫُﻮَ ﻳُﺤْﺴِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺍﻟﻈَّﻦَّ
“Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali ia berhusnuzan kepada Allah. ” (HR. Muslim)
Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah (10/220) disebutkan, wajib atas
seorang mukmin berperasangka baik kepada Allah Ta’ala. Tempat yang lebih
banyak diwajibkan berhusnzan kepada Allah: Saat tertimpa musibah dan
saat kematian. Dianjurkan berhusnudzan kepada Allah Ta’ala bagi orang
yang menghadapi kematian. Terus memperbagus perasangka kepada Allah dan
meningkatkannya walaupun itu terasa berat saat menghadapi kematian dan
sakit. Karena seharusnya seorang mukallaf senantiasa husnudzan kepada
Allah.
Dari penjelasan di atas, husnuzan kepada Allah tidak terjadi dengan
meninggalkan perkara wajib dan mengerjakan kemaksiatan. Siapa yang
meyakini hal itu bermanfaat baginya maka ia tidak menetapkan sebagian
dari nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan Allah yang layak dan sesuai
bagi-Nya. Sungguh ia telah mengelincirkan dirinya pada keburukan dan
perangkap syetan. Sementara orang-orang beriman, secara bersamaan
memperbagus amalnya dan memperbagus perasangkanya kepada Allah bahwa Dia
akan menerima amal-amal shalihnya. Dan saat menghadapi kematian, mereka
berperasangka baik kepada Allah bahwa Dia memaafkan kesalahan dan
mengampuni dosa-dosanya serta merahmatinya. Diharapkan, Allah mewujudkan
perangka baiknya tersebut kepada mereka sebagaimana yang sudah
dijanjikan oleh-Nya.
D. Husnuzan terhadap Sesama Manusia
Husnuzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia, merupakan sikap
mental terpuji, yang harus diwujudkan melalui sikap lahir, ucapan dan
perbuatan yang baik, diridai Allah SWT, dan bermanfaat.
Sikap, ucapan, dan perbuatan baik, sebagai perwujudan dari husnuzan
itu hendaknya diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga serta
bermasyarakat
Ø Kehidupan Berkeluarga
Tujuan hidup berkeluarga yang islami adalah terbentuknya keluarga
yang memperoleh rida dan rahmat Allah SWT,bahagia serta sejahtera baik
di dunia maupun di akhirat.
Agar tujuan luhur tersebut dapat tercapai, diperlukan adanya prasangka baik antar anggota keluarga.
Ø Kehidupan Bertetangga
Tetangga ialah orang-orang yang tempat tinggalnya berdekatan dengan
tempat tinggal kita. Antara tetangga satu dengan yang lainnya hendaknya
saling berprasangka baik dan jangan saling mencurigai.
Berikut antara lain contoh berperilaku husnuzan terhadap tetangga:
Saling Menghormati
Antara tetangga yang satu dengan yang lainnya hendaknya saling menghormati dan menghargai.
ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ
ﻓَﻠْﻴُﺤْﺴِﻦْ ﺇِﻟَﻰ ﺟَﺎﺭِﻩِ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim no. 47)
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Husnuzan artinya berprasangka baik. Sedangkan huznuzan kepada Allah
SWT mengandung arti selalu berprasangka baik kepada Allah SWT, karena
Allah SWT terhadap hamba-Nya seperti yang hamba-Nya sangkakan
kepada-Nya, kalau seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah SWT maka
buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika baik prasangka
hamba kepadanya maka baik pulalah prasangka Allah kepada orang tersebut.
Cara menunjukkan sikap husnuzan kepada Allah swt adalah:
1. Senantiasa taat kepada Allah.
2. Bersyukur apabila mendapatkan kenikmatan.
3. Bersabar dan ikhlas apabila mendapatkan ujian serta cobaan.
4. Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala penderitaan dan kegagalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar