Kedudukan Toleransi dalam Islam
[1] Islam Adalah Agama Yang Mudah dan Penuh Toleransi
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : … Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu …” [Al-Baqarah : 185]
Allah menghendaki untuk membersihkan umat Islam yang dirahmati ini
dari segala bentuk kesulitan dan belenggu, maka Allah tidak menjadikan
untuk mereka kesempitan pada agama ini. Allah Jalla Tsamauh berfirman.
“Artinya : Dan berjihadlah kamu dijalan Allah dengan jihad
sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak akan
menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang
tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang
muslim dari dahulu ….” [Al-Hajj : 78]
[2] Allah Mengutus Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam Dengan Membawa Al-Hanifiyah (agama yang Lurus) As-Samhah (yang Mudah)
Dari Aisyah Radliyallahu ‘anha dia menceritakan : “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku sementara anak-anak Habasyah
bermain tombak di masjid pada hari raya, beliau menawariku : “Wahai
Humairo ! Apakah engkau suka melihat permainan mereka ?” Jawabku : Ya !.
Maka beliau menyuruhku berdiri di belakangnya, lalu beliau menundukkan
kedua pundaknya supaya aku dapat melihat mereka, akupun meletakkan
daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku pada pipi beliau,
lalu akupun melihat dari atas kedua pundak beliau, sementara itu beliau
mengatakan : “Bermainlah wahai bani Arfadah !” Kemudian selang setelah
itu beliau bertanya : “Wahai Aisyah ! Engkau sudah puas ?” Kataku :
“Belum” Supaya aku melihat kedudukanku disisi beliau, hingga akupun
puas. Kata beliau : “Cukup?” Jawabku : “Ya”. Beliau berkata : “Kalau
begitu pergilah!”. Aisyah berkata : “Lalu Umar muncul, maka orang-orang
dan anak-anak tadi berhamburan meninggalkan mereka (Habasyah), Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saya melihat para syaithan
manusia dan jin lari dari Umar”. Aisyah mengatakan : Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu bersabda.
“Artinya : Supaya orang Yahudi tahu bahwa pada agama kita ada
keleluasaan, aku diutus dengan Al-Hanifiyah (agama yang lurus) As-Samhah
(yang mudah)”. [Muttafaq ‘Alaihi, kecuali lafadh yang dijadikan dalil
yang diriwayatkan oleh Ahmad 6/116 dan 233 dan Al-Humaidi 254 dengan
sanad yang shahih]
[3] Agama Yang Paling Allah Cintai Adalah Yang Lurus dan Mudah
Hukum-hukum Islam dibangun di atas kemudahan dan tidak menyulitkan,
norma-norma agama ini seluruhnya dicintai (oleh Allah) namun yang mudah
dari itu semualah yang paling dicintai oleh Allah.
Oleh sebab itu, tidak boleh mempersulit diri dalam menjalankan agama Allah dan tidak boleh pula membuat sulit hamba-hamba Allah.
Tiada seorangpun yang mempersulit agama ini melainkan dia pasti akan
kalah. Lihatlah perbuatan Bani Israil, tatkala mereka mempersulit diri,
Allah-pun mempersulit mereka. Kalau seandainya mereka mempermudahnya,
niscaya mereka akan diberi kemudahan, perhatikan kisah ‘Al-Baqarah!’
{Al-Baqarah : 67-71}
Dari Ibnu Abbas Radliyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah ditanya : “Agama apa yang paling dicintai oleh Allah
Azza wa Jalla ? Beliau menjawab : “Al-Hanifiyah As-Samhah” (yang mudah
dan yang lurus) {Dikeluarkan oleh Bukhari secara Muallaq (tanpa
menyebutkan sanad) 1/93 – Al-Fath dan dia sambungkan sanadnnya dalam
Al-Adab Al-Mufrad hal.44, Ahmad 1/236, dihasankan oleh Al-Hafidh dalam
Al-Fath 1/94. Disahihkan oleh Ahmad Syakir dalam At-Ta’liq ala Al-Musnad
2108 dan keduanya dikritik oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam
Ash-Shahihah 881 beliau menghasankannya dengan penguat-penguatnya.}
Oleh karena itu, Ibnu Abbas meriwayatkan, beliau ditanya tentang
seorang lelaki yang meminum susu murni, apakah dia harus berwudlu ?.
Beliau menjawab : “Bermudahlah niscaya engkau akan diberi kemudahan”
{Lafadh ini diriwayatkan secara marfu (sampai kepada Nabi) dari hadits
Ibnu Abbas, dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid-nya atas
Al-Musnad 1/248 secara wijadah (riwayat dengan kitab)}
Yakni gampangkanlah nicaya Allah akan memberi keringanan untukmu dan atasmu. [Lisanul Arab 2/498]
4. Toleransi Adalah Keimanan Yang Paling Utama
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi” [Shahih Al-Jami’ As-Shaghir 1108]
[5] Toleransi Adalah Amalan yang Paling Ringan dan Paling Utama
Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam sembari bertanya : “Wahai Rasulullah ! Amalan apakah yang
paling utama ?” Jawab beliau : “Iman kepada Allah, membenarkan-Nya, dan
berjihad di jalan-Nya”. Orang tadi berkata : “Aku ingin yang lebih
ringan daripada itu wahai Rasulullah ?” Kata beliau : “Sabar dan
toleransi” Kata orang itu : “Aku ingin yang lebih ringan lagi”. Beliau
bersabda : “Janganlah engkau menuduh Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam
sesuatu yang telah Allah putuskan untukmu” [Dikeluarkan oleh Ahmad 5/319
dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit Radliyallahu ‘anhu dan 4/385 dari
‘Amr bin Arbasah Radliyallahu anhu dia berkata : ‘Apa itu Iman ?” Beliau
menjawab : “Sabar dan toleransi”, Dia punya penguat dari hadits Jabir
Radliyallahu ‘anhu, maka hadits ini pun shahih dengan jalan-jalan dan
penguatnya]
[6] Beberapa Contoh Toleransi
(a) Termasuk toleransi dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan agama Allah untuk seluruh umat manusia.
Allah berfirman.
“Artinya : Dan tidak Kami mengutusmu melainkan untuk menebarkan rahmat di seluruh alam ….” [Al-Anbiya : 107]
Allah juga berfirman.
“Artinya : Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan kepada seluruh umat
manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan …” [Saba :
28]
(b) Toleransi Islam menolak sikap fanatisme dan perbedaan ras
Islam telah menyucikan diri dari ikatan dan belenggu jahiliyyah, maka
Islam-pun menghapus pengaruh fanatisme yang merupakan sumber hukum yang
dibangun di atas hawa nafsu.
Islam tidak meridhoi kebathilan fanatisme dan perbedaan ras yang
mengukur keutamaan dan kebenaran dengan darah fanatisme dan tanah.
Thagut itu benar-benar ada pada syari’at jahiliyah, oleh sebab itu,
Islam menghinakannya karena mencekik kemulian insan.
Dengan demikian, Islam telah menghidupkan hati dan memakmurkannya
dengan iman yang benar dan menghasungnya kepada kebajikan, petunjuk dan
keadilan. Serta menghapus perbedaan jenis, bahasa, ras, nasab dan harta
benda, menjadikan segenap keutamaan dan kemuliaan untuk ketaqwaan yang
merupakan mata air sikap toleransi, puncak tertinggi dan muara
keistimewaan dan kelebihannya.
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kamu adalah
orang-orang yang paling bertawqa di antara kamu. Sesunguhnya Allah Maha
Mengatahui dan Maha Mengenal” [Al-Hujurat : 13]
Pintu-pintu toleransi banyak sekali dan contoh-contohnya berbilang
serta jalan-jalannya beragam hingga sulit menghitung detailnya dalam
waktu singkat. Cukup bagimu sebagai dalil, bahwa toleransi mencakup
Islam baik dari segi aqidah, ibadah, budi pekerti maupun pendidikan,
bukanlah Islam itu agama yang lurus dan penuh toleransi !?
Berikut ini adalah sebagian contoh toleransi dalam Islam
1. Toleransi Dalam Jual Beli dan Hukum-Hukumya.
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan Syu’aib berkata : ‘Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan
timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap
hak-hak mereka …” [Hud : 85]
Allah Yang Maha Mulia juga berfirman.
“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu
orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta
dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain,
mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa
sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar yaitu
hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam ?”
[Al-Muthaffifin : 1-6]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Allah telah mengampuni seorang lelaki dari kalangan umat
sebelum kalian dulu, dia mudah bila menjual, mudah bila membeli dan
mudah bila memutuskan” [Hadits Riwayat Tirmidzi 1320, Ahmad 3/340 dari
hadits Jabir Radliyallahu anhu dan dishahihkan oleh Syaikh kami
(Al-Albani) dalam Shahihul Jami’ 4038]
Beliau juga bersabda.
“Artinya : Sesunguhnya Allah mencintai jual-beli dan keputusan yang
mudah” [Hadits Riwayat Tirmidzi 1319 Al-Hakim 2/56 dengan dua jalan dari
Abu Hurairah dan dishahihkan oleh Syaikh kami (Al-Albani) dalam
Shahihul Jami 1884]
Lafadh “samhun” artinya “sahlun” yakni mudah, dia adalah sifat
musyabbahah yang menunjukkan penetapan, oleh sebab itu, Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi keadaan jual-beli dan keputusan
hukum. Hal ini menunjukkan sikap mempermudah dalam hubungan sosial dan
membuang sikap kikir serta memberikan hak-hak menusia dengan segera
(tidak terlambat).
Termasuk keindahan keputusan hukum adalah bahwa orang yang meminjam
sesuatu lalu mengembalikannya dengan yang lebih baik atau lebih banyak
dengan tanpa syarat adalah orang yang berbuat baik, dan hal ini halal
bagi pihak yang meminjamkan.
Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu dia menceritakan.
“Dahulu ada seorang lelaki yang meminjami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam onta berumur setahun, lalu dia datang kepada beliau menagihnya.
Beliaupun memerintahkan : “Berikan kepadanya!” Maka para shahabat
mencarikan onta yang sama denganya, namun mereka tidak mendapatkan
kecuali onta yang lebih bagus daripadanya, beliaupun berkata : “Berikan
onta itu kepadanya !” Lelaki itupun berkata :”Engkau telah menepatiku
mudah-mudahan Allah menepatimu”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah
orang yang paling bagus keputusannya” [Hadits Riwayat Bukhari
4/482-483, 5/56-58, 22-227- Al-Fath dan Muslim 11/38 – Nawawi]
2. Toleransi Dalam Hutang Dan Tagihan
Allah yang Maha Agung berfirman.
“Artinya : Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka beri
tangguhlah sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau
semua hutang itu) labih baik bagimu, jika kamu mengetahui” [Al-Baqarah :
280]
Sungguh peletak syari’ah (Allah) yang Maha Hikmah telah menghasung
untuk memberi tangguh orang yang kesulitan hutang dan memberikan
keistimewaan agung sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pasal
‘Keutamaan Toleransi”, cukuplah bagimu untuk sekedar tahu, bahwa memberi
tangguh orang yang kesukaran dan mema’afkannya termasuk penghapus dosa
dan sebab Allah mema’afkan kesalahan-kesalahannya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Dahulu ada seorang saudagar yang biasa menghutangi orang,
bila dia melihat orang yang kesukaran (dalam membayar hutang), maka dia
memerintahkan para pegawainya : “Ma’afkanlah dia mudah-mudahan Allah
mema’afkan kita !” Maka Allah-pun mema’afkan dia …” [Hadits Riwayat
Bukhari 4/309- Al-Fath]
Termasuk cara menagih yang bagus adalah toleran dalam menagih,
menerima kekurangan sedikit yang ada padanya. Menuntutnya dengan mudah,
tidak menjilat (rentenir, -pent), tidak mempersulit orang dan mema’afkan
mereka mudah-mudahan Allah merahmati kita.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Mudah-mudahan Allah merahmati lelaki yang toleran bila
menjual, membeli dan menagih” [Hadits Riwayat Bukhari 4/206 -Al-Fath]
3. Toleransi Dengan Ilmu
Toleransi dengan ilmu di sini yaitu dengan cara menyebarkan ilmu dan
ini termasuk pintu toleransi yang paling utama dan lebih baik daripada
toleransi dengan harta, sebab ilmu lebih mulia daripada harta.
Maka seyogyanya seorang alim menyebarkan ilmu kepada setiap orang
yang bertanya tentangnya bahkan mengeluarkannya secara keseluruhan, bila
ia ditanya tentang suatu masalah. Maka dia memperinci jawabannya dengan
perincian yang memuaskan dan menyebutkan sisi-sisi dalilnya, dia tidak
cukup menjawab pertanyaan si penanya, namun dia menyebutkan contoh kasus
serupa dengan kaitan-kaitannya serta faedah-faedah yang dapat memuaskan
dan mencukupinya.
Para sahabat yang mulia Radliyallahu ‘anhum pernah bertanya kepada
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang berwudlu dengan
air laut, maka beliau menjawab.
“Artinya : Laut itu suci airnya lagi halal bangkainya” [Hadits
Riwayat Ashabus Sunan dan Malik, lihat takhrijnya secara rinci dalam
Ash-Shahihah 480]
Beliau menjawab pertanyaan mereka dan memberikan kepada mereka
ketarangan tambahan yang mungkin sewaktu-waktu lebih mereka butuhkab
daripada apa yang mereka pertanyakan.
Pintu-pintu toleransi banyak sekali dan contoh-contohnya berbilang
serta jalan-jalannya beragam hingga sulit menghitung detailnya dalam
waktu singkat. Cukup bagimu sebagai dalil, bahwa toleransi mencakup
Islam baik dari segi aqidah, ibadah, budi pekerti maupun pendidikan,
bukanlah Islam itu agama yang lurus dan penuh toleransi !?
4. Toleransi Dengan Kehormatan
Toleransi ini menunjukkan keselamatan hati, ketenangan jiwa dan kebersihan hati dari rasa permusuhan.
Dahulu, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallahu anhu memberi uang belanja
kepada Misthoh bin Utsatsah karena hubungan famili dan kefakirannya.
Tatkala Misthoh binasa bersama orang yang binasa dari kalangan
ashabul ifki (pembuat berita dusta), lalu dia tenggelam bersama orang
yang tenggelam menuduh As-Sayyidah Aisyah Radliyallahu ‘anha berbuat
mesum, maka Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallahu ‘anhu bersumpah tidak
akan memberi uang belanja kepada Misthoh. Ash-Shiddiq ditegur, beliaupun
bershodaqoh dengan kehormatannya walau dosa Misthoh sedemikian besar.
Sungguh indah ucapan penyair.
“Sesungguhnya kadar dosa Misthoh
dapat meruntuhkan bintang-bintang dari ufuknya
Sunnguh telah terjadi apa yang terjadi
Ash-Shiddiq ditegur tentang haknya (Si Misthoh)
Biarlah, wahai pembaca ! Ummul Mukminin As-Sayyidah Aisyah
Radliyallahu anha yang memberi tahu kita tentang kejelasan kasus ini ;
beliau mengisahkan : ” ….Maka Allah menurunkan (ayat) tentang
kesucianku” Abu Bakr Ash-Shiddiq Radliyallahu ‘anhu pun menyatakan : Dan
dia dulunya memberi uang belanja kepada Misthoh bin Utsatsah karena
kefamilian dan kefakirannya ” Demi Allah ! Aku tidak akan memberi uang
belanja sedikit pun kepada si Misthoh selamanya setelah tuduhannya
kepada Aisyah” maka Allah menurunkan (ayat).
“Artinya : Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan
kelapangan diantara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi
(bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang
berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang
dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang” [An-Nur : 22]
Abu Bakr mengatakan : “Ya ! Demi Allah sungguh aku suka Allah
mengampuniku” beliaupun kembali membantu Misthoh seperti sebelumnya, dan
menyatakan : “Demi Allah aku tidak akan mencabutnya dari dia selamanya”
[Hadits Riwayat Bukhari 8/455- Fath dan Muslim 17/113-Nawawi]
5. Toleransi Dengan Kesabaran dan Menanggung Beban
Hal ini termasuk bab toleransi yang paling banyak manfaatnya, tidak
ada yang mampu bersikap seperti ini kecuali orang yang berjiwa besar.
Barangsiapa yang sulit bertoleransi dengan harta benda, maka dia harus
memiliki kemuliaan dan kedermawanan model ini, sebab ia dapat
menghasilkan buah yang akibatnya terpuji di dunia sebelum akhirat nanti.
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Lemah lembut terhadap kaum mukminin” [Al-Maidah : 54]
Maksudnya, sikap mereka lembut dan lunak kepada saudara mereka kaum mukminin, namun dia tidak menghinakan dirinya.
Allah yang Maha Mulia berfirman.
“Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang
mengikutimu dari kalangan orang-orang yang beriman” [Asy-Syu’ara : 215]
Maksudnya, hendaklah engkau bersikap lemah lembut, sebab : “Sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu ….” [Ali Imran : 159]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Kaum mukminin adalah orang yang lemah lembut dan lunak,
seperti halnya onta jinak bila diikat dia terikat, bila dituntun dia
tertuntun dan bila engkau menambatkannya pada sebuah batu maka diapun
tertambat” [Lihat Ash-Shahihah : 936]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan seorang mukmin
seperti onta jinak yang tidak pernah menolak penuntunnya dalam perkara
apapun, dia menanggung beban dengan kesabaran bukan karena kebodohan dan
kedunguan, namun karena sifat kemuliaan, budi pekerti yang luhur dan
kedermawanan karena seorang mukmin adalah orang yang mulia sedangkan
orang jahat (fajir) adalah orang yang jelek lagi penipu.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri diserupakan seperti di atas, kemana-pun beliau dibawa belaiu ikut.
Dari Anas bin Malik Radliyallahu ‘anhu dia menceritakan : “Sungguh
ada seorang budak wanita dari Madinah ‘mengambil tangan’ Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengajak beliau sekehendaknya”
[Dikeluarkan oleh Bukhari 10/489 secara mu’allaq dan disambungkan oleh
Ahmad 3/98, dia memiliki jalan lain dari Anas semisalnya, dikeluarkan
oleh Ibnu Majah 4177 dan Ahmad 3/174, 215, 216 padanya terdapat Ali bin
Zaid bin Jad’an dia lemah namun dapat dijadikan penguat]
Al-Hafidh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan : “Yang dimaksud dengan
‘mengambil tangan’ adalah makna tersiratnya yaitu lemah lembut dan
tunduk/patuh … Ungkapan ‘mengambil tangan’ mengisyaratkan puncak
perlakuan walaupun kebutuhan budak tadi hingga di luar kota Madinah dan
membutuhkan bantuan beliau niscaya beliau membantunya. Ini semua
menunjukkan kelebihan sikap tawdlu’ beliau dan bersihnya beliau dari
segenap kesombongan, Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Fathul Bari 10/490]
KEUTAMAAN-KEUTAMAAN TOLERANSI
1. Toleransi Merupakan Penghapus Kesalahan
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Para Malaikat mengerumuni roh seorang lelaki dari umat
sebelum kalian. Mereka bertanya : ‘Apakah engkau pernah berbuat
kebajikan ?’ Ia menjawab : ‘Dulu aku menyuruh para pegawaiku untuk
memberi tangguh orang yang kesulitan (dalam membayar hutang, -pent) dan
mema’afkan orang yang mudah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
‘Ma’afkanlah dia” [Hadits Riwayat Bukhari 4/307 -Fath]
Beliau juga menceritakan.
“Artinya : Ada seorang lelaki sebelum kalian dihisab ternyata tidak
didapati baginya amalan kebajikan kecuali dia dulunya orang yang lapang
(berkecukupan) dia biasa berhubungan dengan orang lain, dan dia menyuruh
para pegawainya untuk mema’afkan orang yang kesulitan. Maka Allah Azza
wa Jalla memerintahkan para malaikat-Nya : ‘Kita lebih berhak untuk itu
dari dia, ma’afkanlah dia” [Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir : 3154]
Dalam riwayat lain beliau mengisahkan.
“Artinya : Sesungguhnya ada seorang lelaki sebelum kalian didatangi
malaikat maut untuk mencabut nyawanya, malaikat tadi bertanya kepadanya :
‘Apakah engkau pernah mengamalkan kebajikan ? Jawabnya : ‘Saya tidak
tahu’. Katanya : Lihat ! Jawabnya : ‘Aku tidak mengetahui sedikitpun
(amalan baik) hanya saja saya dahulu berjual beli dan berhubungan dagang
dengan masyarakat, maka aku memberi tangguh orang yang kesulitan dan
mema’afkan orang yang lapang’. Allah-pun memasukkan ke dalam Surga”
[Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 2075]
2. Toleransi Merupakan Sebab Turunnya Rahmat Allah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Mudah-mudahan Allah merahmati sorang lelaki yang toleran
bila menjual, membeli dan menagih.” [Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 3489]
3. Toleransi Dapat Menyelamatkan (Pelakunya) Dari Kengerian Hari Kiamat
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau
meletakkan hutangnya (dianggap lunas tanpa bayar, -pent) , maka Allah
akan menyelamatkannya dari kengerian di hari kiamat” [Hadit Riwayat
Muslim : 1563]
Beliau juga memberitakan.
“Artinya : Barangsiapa memberi tangguh orang yang kesulitan atau
meletakkannya, maka Allah akan menaunginya di hari kiamat pada hari
tiada naungan kecuali naungan-Nya” [Hadits Riwayat Muslim 3006, Nukilan
Hadits Jabir yang panjang]
4. Toleranasi Mengharamkan Pelakunya Dari Api Neraka
Sabda beliau.
“Artinya : Barangsiapa yang mempermudah, lemah lembut dan lunak
(perangainya), maka Allah mengharamkan api neraka atasnya” [Shahih Jami’
Ash-Shaghir 6360]
Beliau juga bersabda.
“Artinya : Maukah kalian saya beritahu tentang orang yang diharamkan
masuk neraka besok (di hari akhir) ? Yaitu orang yang lemah lembut,
familiar dan mudah (toleran)” [Shahih Al-Jami’ 2606]
BEBERAPA HAL YANG DAPAT MEMBANTU SIKAP TOLERANSI
1. Menahan Angkara Murka
Ketahuilah wahai saudaraku muslim, bahwasanya toleransi itu adalah
kerelaan hati dan kelapangan dada bukan karena menahan, kesempitan dan
terpaksa sabar melainkan toleransi adalah bukti kebaikan hati, lahir dan
bathin.
Hanya saja, toleransi tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan
menahan angkara murka dan berupaya sabar, bila seorang hamba dapat
dengan mantap melewatinya, maka dia akan memasuki -pintu-pintu
toleransi- dengan pertolongan dan taufik dari Allah.
Allah Ta’ala berfirman memuji kaum mukminin.
“Artinya : (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarah dan
mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang berbuat
kebajikan” [Ali-Imran : 134]
Dan firman-Nya yang lain.
“Artinya : … Dan apabila mereka marah, mereka memberi ma’af” [Asy-Syura : 37]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang dapat menahan angkara murkanya padahal
dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya dihadapan
khalayak guna disuruh memilih bidadari mana yang dia kehendaki untuk
Allah nikahkan dia dengannya” [Shahih Al-Jami 6394 dan 6398]
2. Mema’afkan dan Berlapang Dada
Kapan saja engkau menyaksikan wahai hamba yang toleran ! Keutamaan
dari sikap toleransi ini dan engkau telah merasakan kelezatan dan
kemuliaannya, maka engkau tidak akan berpaling darinya.
Ketahuilah ! Semoga Allah membantumu dengan pertolongan-Nya,
bahwasanya tidak ada yang berpaling darinya kecuali orang yang telah
Allah porak-porandakan hatinya dan Allah tutupi pandangan dan mata
hatinya.
Bagaimana mungkin engkau berpaling dari derajat kemuliaan menuju
tangga kehinaan ? Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari keadaan
yang demikian itu.
Para cendekiawan telah mengetahui dengan ekseperimennya dan realita
yang ada, bahwa seorang hamba bila dia melampiaskan kemarahan dirinya,
maka dia akan hina dan tergelincir, sementara pada sikap mema’afkan dan
berlapang dada terdapat kelezatan, ketenangan, kemuliaan jiwa dan
keagungan serta ketinggiannya yang tidak terdapat sedikitpun pada sikap
pembalasan dan pelampiasan angkara murka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta benda, tidaklah
Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan sikap pema’afnya kecuali
kemuliaan dan tidaklah seorang bertawadlu karena Allah melainkan Allah
mengangkat (derajat)nya” [Hadits Riwayat Muslim 2588 dan lainnya]
3. Mengharapkan Apa yang Ada di Sisi Allah dan Berbaik Sangka kepada Allah
Pengharapan adalah masalah yang urgen bagi muslim yang menempuh
perjalanan (menuju Allah) karena dia berkisar antara dosa yang
diharapkan pengampunannya, aib yang diharapkan perbaikannya, amal shalih
yang diharapkan diterima, istiqamah yang diharapkan eksitensinya dan
taqarrub kepada Allah serta kedudukan disisi-Nya yang diharapkan
tercapai. Barangsiapa yang mengharapkan apa yang ada disisi-Nya maka dia
akan mema’afkan orang lain, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebajikan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Ada seorang lelaki yang tidak beramal kebajikan sama
sekali, dulunya ia biasa menghutangi orang lain, dia menyuruh utusannya :
“Ambillah yang mudah dan tinggalkan yang kesulitan, ma’afkan semoga
Allah mema’afkan kita !” Tatkala dia meninggal, Allah bertanya : “Apakah
engkau pernah beramal kebaikan sedikitpun ?!” Jawabnya : “Tidak ! Hanya
saja saya memiliki seorang budak dan saya biasa menghutangi orang, bila
saya mengutusnya untuk menagih hutang saya perintah ia : “Ambillah apa
yang lapang biarkan yang kesulitan dan ma’afkan semoga Allah mema’afkan
kita!” Allah berfirman : “Sungguh Aku telah mema’afkanmu” [Shahih
Al-Jami’ 2074]
Alangkah indahnya ucapan Ibnul Qayyim tatkala beliau bersyair.
Kalaulah tiada bergantung dengan pengharapan
Niscaya jiwa sang pencipta
akan nelangsa dan terbelah
Begitu pula, kalaulah dia
tidak mendinginkan panasnya
Hati, niscaya akan lebur terbakar tirai
Apakah teman yang mengerumuni
tak berlihat sama sekali
Pengharapan yang terkait dengan kekasihnya
Ataukah, setiap kali kecintaan kepada-Nya menguat
Menguat pula rasa pengharapan
hingga menambah kerinduan
Kalaulah tiada pengharapan, kendaraan
berdendang berjalan
Membawa beban menuju negerinya
mengharap perjuampaan”
[Madarijus Salikin 2/42]
Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka dia akan
melupakan kebaikan terhadap orang yang pernah dia berbuat baik
kepadanya, hingga seolah-olah dia tidak pernah berbuat kebaikan. Dalam
hal ini dikatakan.
“Dia melupakan segala perbuatannya dan Allah yang menampakkannya.
Sesunguhnya perbuatan baik bila dilupakan akan nampak dengan sendirinya”
CONTOH SIKAP TOLERANSI NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Ketahuilah wahai muslimin, bahwasanya orang yang hendak memahami
makna toleransi sebagaimana mestinya, hendaknyalah dia melihat sejarah
hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bermasyarakat, maka dia
akan mendapatkan pengertian toleransi yang sesungguhnya.
Sungguh Al-Musthofa Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang
sangat lemah-lembut, bila para sahabat membicarakan masalah dunia,
beliau ikut berbicara bersama mereka, bila mereka berbicara tentang
akhirat, beliau juga ikut bercengkrama dengan mereka, dan bila di dalam
rumahnya, beliau biasa membantu keluarganya (istrinya), dan sikap beliau
ini seperti yang Allah firmankan.
“Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari
kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keselamatan dan keimanan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang
terhadap orang-orang yang beriman” [At-Taubah : 128]
Dari sini, tidak ada seorangpun yang dapat mencapai derajat
kesempurnaan sikap toleransi selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
lalu para pewarisnya menurut kadar andil mereka dalam mencapai harta
warisan beliau.
1. Toleransi Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bila Memutuskan
Dari Abu Hurairah Radliyallahu anhu, bahwasanya ada seorang lelaki
yang menagih Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam sembari bersikap
kasar kepada beliau, maka para sahabat-pun hendak menghardiknya, beliau
bersabda : “Biarkanlah dia, karena setiap orang punya hak untuk
berbicara, belikan untuknya seekor onta lalu berikan kepadanya” Para
sahabat berkata : “Kami tidak mendapatkan kecuali yang lebih bagus
jenisnya!” Beliau bersabda : “Belikanlah dan berikan kepadanya karena
sebaik-baik kalian adalah yang terbaik keputusannya” [Hadits Riwayat
Bukhari 2/482 dan Muslim 11/38]
2. Toleransi Beliau Dalam Jual-Beli
Dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membeli onta dari dirinya, beliau
menimbang untuknya dan diberatkan (dilebihkan). [Hadits Riwayat Bukhari
4/269 dan Muslim 3/1223]
Dari Abu Sofwan Suwaid bin Qais Radliyallahu ‘anhu dia berkata :
“Saya dan Makhramah Al-Abdi memasok (mendatangkan) pakaian/makanan dari
Hajar, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami dan
belaiu membeli sirwal (celana), sedang aku memiliki tukang timbang yang
digaji, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tukang
timbang tadi.
“Artinya : Timbanglah dan lebihkan !” [Hadits Riwayat Abu Dawud 3336,
At-Timidzi 1305, Ibnu Majjah 2200 dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh
kami (Al-Albani) dalam Shahih Al-Jami 3568]
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM TOLERANSI
Sebagian orang terkadang masih kabur tentang pemahaman makna
toleransi, dia mengira bahwa ada beberapa perkara yang bertolak belakang
dengan makna toleransi. Padahal perkara tersebut adalah inti dan kunci
pintu toleransi. Inti dan kunci dari pintu toleransi itu diantaranya.
[1]. Marah Ketika Keharuman Allah Dilanggar
Allah Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan
perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi ma’af dan
(bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan
mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah
antara mereka dan mereka mema’afkan sebagian rizki yang Kami berikan
kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan
dengan dholim, mereka membela diri” [Asy-Syura : 37 – 39]
Dari Aisyah Radliyallahu anha dia menceritakan.
“Artinya : Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam disuruh
memilih antara dua urusan melainkan beliau memilih yang paling mudah,
selama tidak mengandung dosa, bila mengandung dosa, beliau adalah orang
yang paling jauh darinya, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak pernah marah sekalipun kecuali bila keharuman Allah dilanggar,
beliau marah karena Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 6/419-420 dan Muslim
2327]
[2]. Menuntut Hak
Seorang lelaki datang menuntut haknya kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, dia berlaku kasar kepada belliau, para shabatpun
hendak menghardiknya, namun beliau bersabda : “Biarkanlah dia, karena
orang yang mempunyai hak untuk berbicara” [Telah lewat takhrij hadits
ini]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar