Bashirah dan Firasat
Bashirah adalah satu-satunya sumber ‘irfan yang mampu menjadi petunjuk pada ranah ilham dan pikiran.
Bashirah adalah alat pertama yang digunakan roh untuk memersepsi
esensi dari berbagai hal. Bashirah adalah kesadaran batin yang mampu
mendiagnosa dan melihat nilai-nilai rohaniah pada berbagai entitas yang
sulit bagi akal untuk menjangkaunya disebabkan ketergantungannya pada
warna, bentuk, penampilan, dan kualitas. Bashirah adalah bentuk persepsi
yang disinari oleh tajaliyat Ilahiyah dan dihiasi oleh pancaran
kelembutan Dzat Allah. Pada saat kemampuan persepsi mengalami kesulitan,
atau kelelahan karena harus mengarungi lembah imajinasi; pada saat itu
ia akan menyepi bersama berbagai rahasia yang ada di balik entitas,
tanpa membutuhkan dalil atau pun saksi. Ia akan mengembara menyusuri
tempat-tempat yang pasti akan membuat akal kebingungan. Di situlah ia
akan mencapai “Haqîqah al-Haqâiq ” (hakikat segala hakikat). [1]
Al-Bashar adalah salah satu sifat nuraniyah (bercahaya) [2]
di antara sekian banyak sifat-sifat Allah yang mulia. Sementara
“bashîrah ” adalah kemampuan manusia yang kualitasnya sesuai dengan
bagian untuknya dari sifat Allah ini, dengan mengikuti timbangan “Kami
telah menentukan antara mereka (qasamnâ bainahum) penghidupan mereka
dalam kehidupan dunia ,” (QS. al-Zukhruf [43]: 32).
Rasulullah Muhammad s.a.w. adalah manusia yang mendapat bagian paling
besar dalam tajalli ini. Beliau juga menjadi manusia yang paling banyak
mengambil manfaat dari mata air ketuhanan ini. Itulah sebabnya, beliau
menjadi sumber ilham bagi semua orang yang muncul setelah beliau.
Rasulullah adalah satu-satunya cermin cemerlang bagi tajalliyat Allah
al-Haqq s.w.t. yang tidak ada seorang pun yang mampu menyamai beliau
dalam hal ini.
Allah s.w.t. berfirman: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku
dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan
hujjah yang nyata…’ .” (QS. Yusuf [12]: 108). Ayat ini menjadi
penjelasan yang menunjukkan sejauh mana keistimewaan dan keagungan dari
apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w. dan para pengikut beliau terhadap
anugerah Ilahiyah ini.
Berkat adanya kemampuan persepsi nuraniyah ini, maka dalam satu
tarikan napas seorang musafir yang melakukan mi’raj ke langit akan dapat
melihat berbagai hal yang ada di balik tirai entitas -yang menjadi
“kebutaan” bagi mereka yang tidak memiliki persepsi seperti ini. Ia akan
mengembara di dalamnya dan menelaahnya seperti layaknya sebuah buku
yang terbuka di hadapannya. Ia akan mengarungi kegaiban yang menjadi
lembaran ideal bagi Rukun Iman yang selama ini ia yakini. Di situ, ia
akan dapat mendengar suara pena takdir yang dapat membuat jantung
manusia copot dari dada jika mereka mendengarnya. Ia akan lewat di dekat
para bidadari lalu beroleh sambutan di “sejarak dua ujung busur panah
atau lebih dekat (lagi) .” (QS. al-Najm [53]: 9); di sebuah titik yang
di dalamnya terdengar senandung “tak bertempat, tak berwaktu, bukan
bumi, bukan langit.” Di situlah ia akan mendapatkan banyak hadiah dan
pemberian.
Terkadang, rasa musyahadah yang muncul di dalam bashirah
mencapai kedalaman lain bersama firasat ( al-firâsah ). Karena persepsi
mampu melihat “takwil mimpi” (maksudnya: menembus dimensi malakut yang
terkandung dalam entitas). Di tempat yang memiliki tiga dimensi ini, roh
hidup dengan beberapa dimensi sekaligus. Di situlah nurani akan menjadi
seperti mata entitas yang mampu melihat, berdegup seperti jantung, dan
berpikir seperti akal.
Adapun “firasat” ( al-firâsah ) yang berarti “intuisi” atau
“persepsi”, sebenarnya bermakna: perubahan persepsi dan bashirah yang
membuatnya semakin dalam. Mata yang memiliki bashirah yang terbuka
terhadap tajalliyat cahaya Allah adalah
milik orang-orang berwajah seperti rembulan yang tidak pernah tertipu
oleh bayangan. Mereka melihat menggunakan cahaya bashirah dengan sangat
jelas, termasuk di tempat yang sangat gelap. Mereka mampu melampaui
kebingungan, tanpa perlu bergantung pada hal-hal syubhat sama sekali,
dan mereka tidak pernah disandera oleh hal-hal parsial. Mereka mampu
mencapai hâl dan menyaksikan al-sukr (ekstase) di pangkalnya. Mereka
mampu menemukan oksigen dan hidrogen yang terkandung di dalam partikel
air. Hati mereka selalu berkelana di dalam dimensi “al-farq “.
Sesungguhnya setiap noktah dari diri manusia, penampilan kosmos,
setiap kata, atau setiap garis, adalah kata yang mengandung banyak
makna. Bahkan semua itu adalah laksana buku terbuka bagi orang-orang
yang mengembara di bawah naungan firman Allah: “Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi
orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (al-mutawassimûn) [3] .” (QS.
al-Hijr [15]: 75).
Dengan rahasia hadits: “Takutlah kalian terhadap firasat orang mukmin
karena dia melihat menggunakan cahaya Allah,”[4] kita ketahui bahwa
orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi telah bertahta di titik
pengawasan yang di situ mereka dapat melihat seluruh penjuru entitas dan
berinteraksi dengan hakikat segala sesuatu. Mereka mampu menelaah wajah
entitas yang sebenarnya yang berada di balik tabir. Mereka dapat
menebarkan cahaya kepada berbagai kejadian, sembari menatap wajah hakiki
dari segala sesuatu sehingga mereka dapat melihat semua itu dengan mata
kepala. Di dalam firdaus, mereka terus berlarian dari satu kenikmatan
ke kenikmatan yang lain, dan meninggalkan orang-orang yang menghabiskan
hidup mereka di sekitar lubang hitam yang gelap.
Dalam pandangan jiwa yang tidak membuka dan menutup matanya kecuali
dengan firasat, entitas adalah seperti lembaran-lembaran dalam sebuah
buku. Segala sesuatu, baik yang hidup maupun yang mati adalah kata-kata
cemerlang yang memiliki seribu satu makna. Sesungguhnya wajah entitas
dan perangai manusia adalah penjelasan paling gamblang yang tidak pernah
menipu. Para spiritualis ( rijâl al-qlûb ) mampu melihat ayat-ayat yang
terdapat di dalam buku itu, yang tidak dapat dilihat oleh setiap mata,
sebagaimana mereka mampu mendengar ayat-ayat yang terdapat di dalam buku
itu, yang tidak dapat didengar oleh setiap telinga; termasuk setiap
kata di dalamnya yang mengkilap oleh cahaya, yang bahkan tidak dapat
dibayangkan oleh akal yang paling cerdas sekalipun. Di setiap saat,
mereka selalu merasakan berbagai keajaiban dan memiliki firasat untuk
mengantisipasinya -setiap mukmin memiliki kemampuan seperti ini sesuai
derajat spiritual mereka. Mereka menikmati semua itu dengan sesuatu yang
tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak
pernah terbersit dalam hati manusia.
Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati yang gemar
mengaduh, luluh, dan mengadu kepadamu. Limpahkanlah selawat dan salam
kepada Sayyidina Muhammad sang pembimbing ke jalan-Mu, dan kepada
segenap keluarga serta para sahabat beliau.
[1] Haqîqah al-Haqâiq = “Hakikat segala hakikat” adalah sekat tak
kasat mata antara Wujud Ilahi dan kosmos. Lihat: Sufi Terminology ,
Amatullah Armstrong, 1995. Penj- [2]
Nûrâniyyah : berarti “bercahaya”. Dalam kosmos, sesuatu yang bercahaya (
nurâniy ) adalah lawan dari sesuatu yang gelap ( zhulmâniy ). Lihat:
Sufi Terminology , Amatullah Armstrong, 1995. Penj- [3]
Al-mutawassim : Orang yang mengetahui pertanda; ia adalah orang yang
mengetahui hal-hal yang ada di dalam relung hati dengan menggunakan
petunjuk dan tanda-tanda (al-Qusyairi). [4] Al-Tirmidzi, Tafsir Surah al-Hijr .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar