Jumat, 06 Maret 2020

AKHLAK TERPUJI 10 | QANA’AH


​PEMBAHASAN QANA’AH

A. PENGERTIAN QANA’AH
Qana’ah menurut bahasa adalah merasa cukup atau rela, sedangkan menurut istilah ialah  sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.
Rasulullah mengajarkan kita untuk ridha dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, baik itu berupa nikmat kesehatan, keamanan, maupun kebutuhan harian. [1] Qona’ah adalah gudang yang tidak akan habis. Sebab, Qona’ah adalah kekayaan jiwa. Dan kekayaan jiwa lebih tinggi dan lebih mulia dari kekayaan harta. Kekayaan jiwa melahirkan sikap menjaga kehormatan diri dan menjaga kemuliaan diri, sedangkan kekayaan harta dan tamak pada harta melahirkan kehinaan diri. [2]
Di antara sebab yang membuat hidup tidak tentram adalah terperdayanya diri oleh kecintaan kepada harta dan dunia. Orang yang diperdaya harta akan senantiasa merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya,dalam apa yang dirinya lahir sikap-sikap yang mencerminkan bahwa ia sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah, Sang Maha Pemberi Rezeki itu sendiri. Ia justru merasa kenikmatan yang dia peroleh adalah murni semata hasil keringatnya, tak ada kesertaan Allah. Orang-orang yang terlalu mencintai kenikmatan dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan segala cara seperti kelicikan, bohong, mengurangi timbangan dan sebaginya. Ia juga tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian sebagaimana firman Allah ;
Artinya ;”Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni’mat dari Kami ia berkata:”Sesungguhnya aku diberi ni’mat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui” (Q.S Azumar; 49)

B. DASAR HUKUM QANA’AH
Al Qur’an
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah : 155 ) [3]
Hadis

ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﻫﺮﻯﺮﺓ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻋﻦ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻌﺮﺽ ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻏﻨﻰ ﺍﻟﻨﻔﺲ . ‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ‏)

Dari Abu Hurairah R.A berkata, Nabi SAW bersabda: bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hati. (Muttafaqun Alaih)

ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ : ﺍﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ . ﻗﺎﻝ : ﻗﺪ ﺍﻓﻠﺢ ﻣﻦ ﺍﺳﻠﻢ ﻭﺭﺯﻕ ﻛﻔﺎﻓﺎ ﻭﻗﻨﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﺍﺗﺎﻩ . ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ‏)

Dari Abdillah bin Amr sesungguhnya Rasulullah saw bersabda; sungguh beruntung orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang pemberian Allah. (HR Muslim)

C. SIKAP QANA’AH
Sudah dijelaskan bahwa qona’ah merupakan sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidak puas dan perasaan kurang. Meski demikian, orang-orang yang memiliki sikap Qana’ah tidak berarti fatalis dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang-orang hidup Qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun bukan untuk menumpuk kekayaan. Kekayaan dan dunia yang dimilikinya, dibatasi dengan rambu-rambu Allah SWT. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya tak pernah melalaikannya dari mengingat Sang Maha Pemberi Rezeki. Sebaliknya, kenikmatan yang ia dapatkan justru menambah sikap qana’ahnya dan mempertebal rasa syukurnya.
Adapun contoh bersikap qana’ah dalam kehidupan, diantaranya :
1. Selalu ikhlas menerima kenyataan hidup meskipun dengan keadaan yang sederhana.
2. Tidak banyak berangan- angan dan berharap ynag melebihi batas kemampuan dan batas yg ada.
3. Selalu berusah dan bekerja untuk memperbaiki nasib kehidupan pada masa yang akan datang.
4. Selalu berserah diri kepada Alloh SWT, baik dalam kehidupan lapang maupun sempit.
5. Tidak bersikap iri apalagi hasud kepada nikmat Alloh yang diterima oleh orang lain.
6. Berprasangka baik atas keputusan dan takdir Alloh
7. Menjauhkan diri dari sifat tamak, serakah, prasangka kurang baik .
8. Jika hasil yg diperoleh tidak sesuai dengan yg diharapkan tidak mudah kecewa dan putus asa.
9. Dapat hidup sesuai dengan kebutuhan.
10. Optimis tidak pesimis dan tidak putus asa dan Tidak berlebihan arahnya membelanjakan harta sesuai dengan kebutuhan.
11. Selalu yakin bahwa apa yang didapatnya dan yang ada pada dirinya merupakan anugerah dari Allah SWT. [4]
Perbuatan Qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas terhadap apa yang kita miliki saat ini, Maka hendaklah dalam masalah keduniaan kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah dalam sebuah hadis:

ﻋﻦ ﺍﺑﻰ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ . ﺍﻧﻈﺮﻭﺍ ﺍﻟﻰ ﻣﻦ ﺍﺳﻔﻞ ﻣﻨﻜﻢ , ﻭﻻ ﺗﻨﻈﺮﻭﺍ ﺍﻟﻰ ﻣﻦ ﻫﻮ ﻓﻮﻗﻜﻢ ﻓﻬﻮ ﺍﺟﺪﺭ ﺍﻥ ﻻ ﺗﺰﺩﺭﻭﺍ ﻧﻌﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻜﻢ . ‏( ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ‏)

Artinya; “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Muttafaqun Alaih)
Ketika berusaha mencari dunia, orang-orang Qana’ah menyikapinya sebagai ibadah yang mulia di hadapan Allah yang Maha kuasa, sehingga ia tidak berani berbuat licik, berbohong dan mengurangi timbangan. Ia yakin tanpa menghalalkan segala cara apapun, ia tetap mendapatkan rizki yang dijanjikan Allah. Ia menyadari akhir rizki yang dicarinya tidak akan melebihi tiga hal; menjadi kotoran, barang usang atau bernilai pahala di hadapan Allah. [5]
Bila kita mampu merenungi dan mengamalkan makna dan pentingnya qona’ah maka kita akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman hidup. Dan hendaknya diketahui bahwa harta itu akan ditinggalkan untuk ahli waris. [6]

D. HIKMAH QANA’AH
Tidak diragukan lagi bahwa  qona’ah dapat menenteramkan jiwa manusia dan merupakan faktor kebahagiaan dalam kehidupan karena seorang hamba yang qona’ah dan menerima apa yang dipilihkan Alah untuknya, dia tahu bahwa apa yang dipilihkan Allah untuknya adalah yang terbaik baginya di segala macam keadaan. [7]
Sikap qona’ah membebaskan pelakunya dari kecemasan dan memberinya kenyamanan psikologis ketika bergaul dengan manusia. Dzunnun al-Mashri mengatakan: “Barangsiapa bersikap qona’ah maka ia bisa merasa nyaman di tengah manusia-manusia sesamanya. ”
Sebaliknya, ketiadaan qona’ah dalam hidup akan menyeret pelakunya pada penuhanan materi sehingga kebebasannya terampas karena kerakusan dalam mencari harta duniawi yang memaksanya berbuat apapun untuk mendapatkan harta.[8]


KESIMPULAN
Jadi yang dimaksud dengan qana’ah adalah sikap sikap merasa cukup dan menerima apa yang  telah diberikan Alloh kepada kita, dan sikap merasa cukup ini dapat menjadi tonggak utama dari pada manusia untuk terus bersyukur kepada Alloh SWT.
Dengan begitu manusia akan senantiasa bertawakal kepada Allah karena sikap tawakkal sendiri yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran hidup, atau sikap pasrah akan segala hal yang dihadapi manusia dalam setiap urusan dunia. Dengan begitu manusia akan senantiasa bersikap sabar dalam menjalani hidup, taat kepada allah dan menghadapi musibah sehingga dalam hidupnya akan senantiasa mendapat ketentraman, kedamaian dan kemuliaan.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Muhammad Abdul Qadir Abu Fariz, Menyucikan JIwa, ( Jakarta: Gema Insani, 2005). Hlm. 242
[2] Muhammad Abdul Qadir Abu Fariz, Menyucikan JIwa, ( Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 244
[3] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid I, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 231
[4] Fernanda Gilsa R, “Qona’ah”, http://fernandaicha.blogspot.com/2011/02/qanaah.html, Selasa, 28 Mei 2013 Pukul 10:52 WIB
[5] Heme Adawea, “Sifat Qona’ah”, http://al-adawea.blogspot.com/2011/04/makalah-sifat-qonaah.html, Selasa, 28 Mei 2013, Pukul 11:25 WIB
[6] Saayid Bakri al Makki, Merambah Jalan Sufi Menuju Surga Ilahi, ( Bandung : Sinar Baru Algensindo, 1996), hlm. 27
[7] Said bin Musfir al-Qathani, Buku Putih Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, (Jakarta:Darul Falah, 2006), hlm. 509
[8] Muhammad Fauzi Hajjaj, Tasawuf Islam dan akhlak, (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 339

Tidak ada komentar:

Posting Komentar