Jumat, 06 Maret 2020

AKHLAK TERPUJI 53 | TOLONG-MENOLONG

TOLONG-MENOLONG
​I. Pendahuluan
Sikap tolong menolong adalah ciri khas umat muslim sejak masa Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alayhi wa Sallam . Pada masa itu tak ada seorang muslim pun membiarkan muslim yang lainnya kesusahan, hal ini tergambar jelas ketika terjadinya hijrah umat muslim Mekkah ke Madinah, kita tahu bahwa kaum ansor atau Muslim Madinah menerima dengan baik kedatangan mereka yang seiman dengan sambutan yang meriah, kemudian mempersilahkan segalanya bagi para muhajirin. Hal ini juga banyak ditegaskan dalam al-Qur’an,

ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕُ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﺑَﻌْﺾٍ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤُﻨﻜَﺮِ ﻭَﻳُﻘِﻴﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓَ ﻭَﻳُﺆْﺗُﻮﻥَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ ﻭَﻳُﻄِﻴﻌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﺳَﻴَﺮْﺣَﻤُﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā: sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana..[1]
Ayat tersebut menerangkan bahwa setiap muslim adalah sama di mata Allah Subḥānahu wa Ta’ālā kecuali karena perbuatan mereka dan keimanan mereka.
Dalam makalah kami, kami hanya membahas tentang ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tolong menolong (Ta’awun) dalam hal kebaikan, dan tidak membahas tentang tolong menolong (ta’awun) dalam hal kemungkar atau kebathillan (Hal yang tidak baik).
II. Ayat Yang Menerangkan Tolong Menolong (Ta’awun) Dalam Kebaikan
A. Pengertian Tolong Menolong (Ta’awun)
Tolong menolong ( Ta’awun) dalam al-Qur’an disebut beberapa kali, diantaranya yaitu 5:2, 8:27, 18:19, 3:110, dan juga dalam beberapa ayat lainya.
B. Ayat Yang menerangkan (Ta’awun) Tolong Menolong Dan Penjelasanya

1. a. al-Maidah Ayat 2

ﻭَﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯٰ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻌَﺎﻭَﻧُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺈِﺛْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ ﴿ﺍﻟﻤﺎﺋﺪﺓ : ٢﴾

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
b. Sebab Turunya Ayat
Menurut Zaid bin Aslam menuturkn, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Rasulullah dan para sahabat saat berada di Hudaibiyyah, yang di halangi orang-orang musyrikinuntuk sami ke Baitullah, keadaan ini membuat sahabat marah, suatu ketika, dari arah timur, beberapa orang musyrikin yang akan umrah berjalan melintasi mereka. Para sahabat pun berkata, bagimana jika kita juga menghalangi mereka, sebagaimana kita pernah di halang-halangi.[2]
c. Penjelasan Ayat
Makna al-birru ( ﺍﻟْﺒِﺮِّ ) dan at-taqwa ( ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ) Dua kata ini, memiliki hubungan yang sangat erat.Karena masing-masing menjadi bagian dari yang lainnya.
Secara sederhana, al-birru ( ﺍﻟْﺒِﺮِّ ) bermakna kebaikan. Kebaikan dalam hal ini adalah kebaikan yang menyeluruh, mencakup segala macam dan ragamnya yang telah dipaparkan oleh syariat.
“Al-Birru adalah satu kata bagi seluruh jenis kebaikan dan kesempurnaan yang dituntut dari seorang hamba. Lawan katanya al-itsmu (dosa) yang maknanya adalah satu ungkapan yang mencakup segala bentuk kejelekan dan aib yang menjadi sebab seorang hamba sangat dicela apabila melakukannya”.(Imam Ibnul Qayyim)
Allah Subḥānahu wa Ta’ālā mengajak untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dengan beriringan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dalam ketakwaan, terkandung ridha Allah. Sementara saat berbuat baik, orang-orang akan menyukai. Barang siapa memadukan antara ridha Allah dan ridha manusia, sungguh kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan baginya sudah melimpah. [3]
“Allah Subḥānahu wa Ta’ālā memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar saling berta’awun di dalam aktivitas kebaikan yang mana hal ini merupakan al-Birr, kebajikan) dan agar meninggalkan kemungkaran yang mana hal ini merupakan at-Taqwa. Allah melarang mereka dari saling bahu membahu di dalam kebatilan dan tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan keharaman.”( Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anil Azhim)
Sebagai contoh sikap saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺴﺪﺩ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﻌﺘﻤﺮ ﻋﻦ ﺣﻤﻴﺪ ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ : ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ‏( ﺍﻧﺼﺮ ﺃﺧﺎﻙ ﻇﺎﻟﻤﺎ ﺃﻭ ﻣﻈﻠﻮﻣﺎ ‏) . ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺬﺍ ﻧﻨﺼﺮﻩ ﻣﻈﻠﻮﻣﺎ ﻓﻜﻴﻒ ﻧﻨﺼﺮﻩ ﻇﺎﻟﻤﺎ ؟ ﻗﺎﻝ ‏( ﺗﺄﺧﺬ ﻓﻮﻕ ﻳﺪﻳﻪ ‏)

Diriwayatkan dari Musadad, diriwayatkan dari Mu’tamar, dari Anas. Anas berkata: Rasulullah bersabda: Bantulah saudaramu , baik dalam keadaan sedang berbuat zhalim atau sedang teraniaya. Anas berkata: Wahai Rasulullah, kami akan menolong orang yang teraniaya. Bagaimana menolong orang yang sedang berbuat zhalim?” Beliau menjawab: “Dengan menghalanginya melakukan kezhaliman. Itulah bentuk bantuanmu kepadanya. [4]
Orang berilmu membantu orang lain dengan ilmunya. Orang kaya membantu dengan kekayaannya. Dan hendaknya kaum Muslimin menjadi satu tangan dalam membantu orang yang membutuhkan. Jadi, seorang Mukmin setelah mengerjakan suatu amal shalih, berkewajiban membantu orang lain dengan ucapan atau tindakan yang memacu semangat orang lain untuk beramal.
Hubungan kedua, antara seorang hamba dengan Rabbnya tertuang dalam perintah ‘Dan bertakwalah kamu kepada Allah’. Dalam hubungan ini, seorang hamba harus lebih mengutamakan ketaatan kepada Rabbnya dan menjauhi perbuatan untuk yang menentangnya.
Kewajiban pertama (antara seorang hamba dengan sesama) akan tercapai dengan mencurahkan nasehat, perbuatan baik dan perhatian terhadap perkara ini. Dan kewajiban kedua (antara seorang hamba dengan Rabbnya), akan terwujud melalui menjalankan hak tersebut dengan ikhlas, cinta dan penuh pengabdian kepada-Nya.
Hendaknya ini dipahami bahwa sebab kepincangan yang terjadi pada seorang hamba dalam menjalankan dua hak ini, hanya muncul ketika dia tidak memperhatikannya, baik secara pemahaman maupun pengamalan. [5]

2. a. Al-Anfal 73

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀُ ﺑَﻌْﺾٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﻩُ ﺗَﻜُﻦ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻓَﺴَﺎﺩٌ ﻛَﺒِﻴﺮٌ ﴿ﺍﻷﻧﻔﺎﻝ : ٧٣﴾

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.
b. Sebab Turunya Ayat
Menurut Abu Malik, ayat ini diturunkan berkenaan dengan seseorang laki-laki yang suatu ketika bertanya kepada Rasulullah, apakah kita boleh memberikan harta warisan kepada keluarga kita yang musyrik atau menerimanya dari mereka?.[6]
c. Penjelasan Ayat
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa semua orang kafir meskipun berlainan agama dan aliran, karena ada di antara mereka yang musyrik, Nasrani, Yahudi dan sebagainya dan meskipun antara mereka sendiri terjadi perselisihan dan kadang-kadang permusuhan, mereka semua itu adalah sama-sama menjadi kawan setia antara sesama mereka dalam berbagai urusan. Sebagian mereka menjadi pemimpin bagi yang lain bahkan kadang-kadang mereka bersepakat untuk memusuhi dan menyerang kaum Muslimin seperti terjadi pada perang Khandaq. Di waktu turunnya surah ini dapat dikatakan bahwa yang ada hanya kaum musyrikin dan Yahudi. Orang Yahudi sering mengadakan persekutuan dengan kaum musyrikin dan menolong mereka dalam menghadapi kaum Muslimin bahkan kerap kali pula mengkhianati perjanjian sehingga mereka diperangi oleh kaum Muslimin dan diusir dari Khaibar keluar kota Madinah. Jadi wajiblah kaum Muslimin menggalang persatuan yang kokoh dan janganlah sekali-kali mereka mengadakan janji setia kawan dengan mereka atau mempercayakan kepada mereka mengurus urusan kaum Muslimin, karena hal itu akan membawa kepada kerugian besar atau malapetaka. Allah memperingatkan bila hal ini tidak diindahkan, maka akan terjadilah fitnah dan kerusakan di muka bumi. [7]
Sementara itu dalam Tafsir Jalalain Surah Al Anfaal 73 ditafsirkan:

” ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﻛﻔﺮﻭﺍ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻭﻟﻴﺎﺀ ﺑﻌﺾ ” ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﺮﺓ ﻭﺍﻹﺭﺙ ﻓﻼ ﺇﺭﺙ ﺑﻴﻨﻜﻢ ﻭﺑﻴﻨﻬﻢ ” ﺇﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻩ ” ﺃﻱ ﺗﻮﻟﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻗﻤﻊ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ” ﺗﻜﻦ ﻓﺘﻨﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﻭﻓﺴﺎﺩ ﻛﺒﻴﺮ ” ﺑﻘﻮﺓ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻭﺿﻌﻒ ﺍﻹﺳﻼﻡ

Yang bermakna “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain”. Ditafsirkan bahwa dalam hal saling tolong-menolong dan saling waris-mewarisi, maka tidak ada saling waris-mewarisi antara kalian dan mereka. (Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu) yakni melindungi kaum Muslimin dan menekan orang-orang kafir (niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar) karena kekafiran bertambah kuat sedangkan Islam makin melemah keadaannya. [8]
C. Hikmah Tolong Menolong (Ta’awun) Dalam Kebaikan
1. Dapat lebih mempererat tali persaudaraan
2. Menciptakan hidup yang tentram dan harmonis
3. Menumbuhkan rasa gotong-royong antar sesama
III. Kesimpulan
Tolong menolong ( Ta’awun) dalam al-Qur’an disebut beberapa kali diantaranya yaitu 5:2, 8:27.
Allah mengajak untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dengan beriringan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dalam ketakwaan, terkandung ridha Allah. Sementara saat berbuat baik, orang-orang akan menyukai. Barang siapa memadukan antara ridha Allah dan ridha manusia, sungguh kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan baginya sudah melimpah.
Dalam hal saling tolong-menolong dan saling waris-mewarisi, maka tidak ada saling waris-mewarisi antara kalian dan mereka. (Jika kalian tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu).
Adapun hikmah dari tolong menolong ( Ta’awun ) antara lain yaitu, Menciptakan hidup yang tentram dan harmonis dan jugaMenumbuhkan rasa gotong-royong antar sesama.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Asuyuti, Jalaluddin. Muhammad bin Ahmad Mahali dan Jalajuddin Abdurrahman bin Abu Bakar, Tafsir Jalalain , al-Haramain Jaya Indonesia, ttp, Cet 6, 2008
Departemen agama RI , Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid, Kalim, Pondok Karya Permai, Banten, tth
Din, (al). Abu ‘AbduAllah Ibn Ahmad Ibn Abu Bakar Ibn farh al-Anshari al-Khazraji Syamsy -, Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur‘ân , tahqîq: ‘Abdur-Razzaq al-Mahdi, Dâr Al-Kitab Al-‘Arabi, Bairut, Cet 2, 1421 H
Jak”fi, (al). Muhammad bin Isma’il abu “abdullah Bukhari, tahqiq: Mustofa, al-Jami sahih al-Muhtasar , Dar ibnu Katsir, Bairut. Cetakan ke3, 1407-1987
Maghfiroh, Bahrul. “tolong menolong dalam kebaikan” dalam http://.blogspot .com/2013/09/tolong-menolong-dalam-kebaikan/.html (diunduh 02-12-2015)
Zahil. “tafsir surat al-maidah ayat 2”dalam http://blog.wordpress.com/2012/05/ 30/tafsir-surat-al-maidah-ayat-2/.html (diunduh 28-11-2014)
[1] Al-Qur’an 9:71
[2] Departemen agama RI , Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid, (Kalim, Pondok Karya Permai, Banten, tth). Hlm 111
[3] Abu ‘AbduAllah Ibn Ahmad Ibn Abu Bakar Ibn farh al-Anshari al-Khazraji Syamsy al-Din,
Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur‘ân , tahqîq: ‘Abdur-Razzaq al-Mahdi, (Dâr Al-Kitab Al-‘Arabi, Bairut, Cetakan 2, Tahun 1421H ), Juz 6, hlm. 45
[4] Muhammad bin Isma’il abu “abdullah Bukhari al-Jak”fi, tahqiq: Mustofa, al-Jami sahih al-Muhtasar , (Dar ibnu Katsir, Bairut. Cetakan ke3, 1407-1987). Juz 6, Hadits 2312
[5] Zahil, “tafsir surat al-maidah ayat 2” dalam
[6] Departemen agama RI , Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid, (Kalim, Pondok Karya Permai, Banten, tth). Hlm 187
[7] Bahrul maghfiroh, “tolong menolong dalam kebaikan” dalam http://.blogspot.com/2013/09/tolong-menolong-dalam-kebaikan/.html (diunduh 02-12-2015)
[8] Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Mahali dan Jalajuddin Abdurrahman bin Abu Bakar Asuyuti, Tafsir Jalalain , (al-Haramain Jaya Indonesia, ttp, cet 6, 2008)hlm 155

AKHLAK TERPUJI 52 | ISTIQOMAH


Pengertian Istiqomah
Istiqomah menurut bahasa adalah pendirian yang teguh atas jalan yang lurus. Sedangkan menurut istilah, istiqomah adalah bentuk kualitas batin yang melahirkan sikap konsisten (taat asas) dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik, sebagaimana kata taqwim merujuk pula pada bentuk yang sempurna.

اهدنا الصراط المستقيم

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Mustaqiim adalah ragkaian kata dari istiqomah. Kalau jalan yang lurus, shirotha mustaqiim telah diberikan, tercapailah sudah istiqomah.
Mengenai pengertian istiqomah itu sendiri, para ulama berbeda pendapat. Menurut Abu al-Qasim al-Qusyairi, istiqomah adalah sebuah tingkatan yang menjadi pelengkap dan penyempurna segala urusan. Lantaran istiqomahlah segala kebaikan berikut aturannya dapat terwujud. Orang yang tidak istiqomah dalam melakukan urusannya pasti akan sia-sia dan mengalami kegagalan.
Adapula yang berpendapat, istiqomah hanya mampu dilakukan oleh orang-orang besar karena istiqomah itu keluar dari kebiasaan, bertentangan dari tradisi, dan melakukan hakikat kejujuran di hadapan Allah SWT. Berangkat dari inilah Nabi bersabda, “istiqomahlah, sekalipun kalian tetap tidak akan mampu.” (HR. Ahmad)
Lain halnya dengan al-Wasithi, menurut beliau istiqomah adalah sifat yang bisa menjadikan sempurnanya kebaikan. Apabila ia hilang, kebaikan-kebaikan menjadi buruk.
Para ulam berbeda pendapat dalam menentukan istiqomah. Abu Bakar menafsirkan bahwa meraka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatupun. Ada yang menafsirkan bahwa mereka adalah yang masuk Islam lalu tidak menyekutukan Allah SWT dengan susuatupun hingga mereka menghadap kepada-Nya. Yang lainnya menafsirkan bahwa mereka istiqomah di atas kalimat syahadat, dan tafsiran yang lainnya bahwa mereka istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya.
Menurut Abu Ali ad-Daqqaq, ada tiga derajat pengertian istiqomah, yaitu menegakkan atau membentuk sesuatu ( taqwiim ), menyehatkan dan meluruskan ( iqomah ), dan berlaku lurus ( istiqomah ). Taqwim menyangkut disiplin jiwa, iqomah berkaitan dengan penyempurnaan, dan istiqomah berhubungan dengan tindakan mendekatkan diri pada Allah SWT.
Sikap istiqomah menunjukkan kekuatan iman yang merasuki seluruh jiwa, sehingga seseorang tidak akan mudah goncang atau cepat menyerah pada tantangan atau tekanan. Mereka yang memiliki jiwa istiqomah itu adalah tipe manusia yang merasakan ketenangan luar biasa walau penampakkannya di luar bagai seorang yang gelisah. Dia merasa tenteran karena apa yang dia lakukan merupakan rangkaian ibadah sebagai bukti mahabbah. Tidak ada rasa takut apalagi keraguan.
Kegelisahan yang dimaksud janganlah ditafsirkan sebagai resah. Ia adalah metafora ( tamsil ) dari sikap dinamis atau sebuah obsesi kerinduan untuk mengerahkan seluruh daya dan akal budinya agar hasil pekerjaannya berakhir dengan baik atau sempurna.
Dengan demikian, istiqomah bukanlah berarti sebuah sikap yang jumud, tidak mau adanya perubahan, namun sebuah kindisi yang tetap konsisten menuju arah yang diyakininya dengan tetap terbuka terhadap gagasan inovatif yang akan menunjang atau memberikan kontribusi positif untuk pencapaian tujuannya. Mengomentari masalah ini, Dr. Nurcholis Madjid berkata, “Kesalahan itu timbul antara lain akibat persepsi bahwa istiqomah mengandung makna yang statis. Memang istiqomah mengandung arti kemantapan, tetapi tidak berarti kemandekkan, namun lebih dekat kepada arti stabilitas yang dinamis”, maka itulah yang disebut istiqomah.
Pribadi muslim yang profesional dan berakhlak memiliki sikap konsisten yaitu kemampuan untuk bersikap pantang menyerah, mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya. Mereka mampu memngendalikan diri dan mengelola emosinya secara efektif. Sikap konsisten telah melahirkan kepercayaan diri yang kuat dan memiliki integritas serta mampu mengelola stres dengan tetap penuh gairah. Seorang yang istiqomah tidak mudah berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya. Dia tetap pada niat semula.
Istiqomah berarti berhadapan dengan segala rintangan, konsisten berarti tetap menapaki jalan yang lurus walaupun sejuta halangan menghadang. Iman dan istiqomah akan membuahkan keselamatan dari segala macam keburukan dan meraih segala macam yang dicintai. Orang yang istiqomah juga akan dianugerahi kekokohan dan kemenangan, serta kesuksesan memerangi hawa nafsu. Beruntunglah orang yang mampu istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Khususnya pada zaman seperti ini, saat cobaan, ujian, dan godaan selalu menghiasi kehidupan. Siapa saja yang kuat imannya akan menuai keberuntungan yang besar. Dan siapa saja yang lemah imannya akan tersungkur di tengah belantara kehidupan dan mengecap pahitnya kegagalan.
Maka mari kita senantiasa meningkatkan iman dan memohon kepada Allah SWT agar bisa istiqomah dalam beramal shaleh. Terlebih dalam dua hal, yaitu istiqomah dalam keikhlasan dan mengikuti ajaran Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dalil-dalil Istiqomah
QS. Huud (11): 112
Artinya: Maka konsisitenlah sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat bersamamu, dan janganlah kamu melalampaui batas. Sesungguhnya dia menyangkut apa yang kamu lakukan, maha melihat.
Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammmad SAW untuk konsisten dalam melaksanakan dan menegakkan tuntunan wahyu-wahyu Illahi sebaik mungkin sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana mestinya. Tuntuna wahyu bermacam-macam, ia mencakup seluruh persoalan agama dan kehidupan dunia maupun akhirat. Denagn demikian, perintah tersebut mencakup perbaikan kehidupan dunia dan ukhrowi, pribadi, masyarakat dan lingkungan. Karena itu, perintah ini sungguh sangat berat. Itu sebabnya sahabat Nabi Ibnu Abbas ra. berkomentar, tidak ada ayat yang turun kepada Nabi Muhammd SAW lebih berat dari ayat ini dan agaknya itu pula sebabnya sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa surah Huud menjadikan beliau beruban. Ketika ditanya apa yang terdapat pada surah Huud yang menjadikan beliau beruban, beliau menjawab, “Perintah-Nya, fastaqim kamaa umirta ”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika turunnya ayat ini beliau bersabda, ”Bersunggguh-sungguhlah, Bersunggguh-sungguhlah”. Dan sejak itu beliau tidak pernah lagi terlihat tertawa terbahak. (HR. Ibn Abi Hatim dan Abu asy-Syaikh melalui al-Hasan)
Ayat sebelum ini berbicara tentang kitab Nabi Musa as dan pertikaian umatnya tentang kitab suci Taurat. Ayat ini melarang umat Islam bertikai seperti halnya pertikaian itu dan memerintahkan untuk konsisten memelihara dan mengamalkan kitab suci. Semua sepakat tentang Al-Quran yang dimulai dengan surah al-Fatihah dan berakhir dengan surah an-Naas
QS. Fushilat (41): 30-32
Artinya: 
30. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata) “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kanu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu”.
31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidpan dunia dan akhirat di dalamnya surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.
32. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Allah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Inilah lanjutan dari bisikan malaikat yang disampaikan kedalam jiwa orang yang telah mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya dan tetap teguh memegang pendirian, tidak berubah dan tidak beranjak, sebab hanyalah Allah tempat berlindung, tidak ada yang lain. Allahlah tempat memohonkan pertolongan, yang lain tidak. Maka selain dari ketenteraman hati diatas dunia ini sebagai alat paling penting untuk pertahanan jiwa dalam menghadapi serba-serbi gelombang kehidupan, dijanjikan pula bahwa kelak akan dimasukkan ke dalam surga.
Sambungan bujukan malaikat-malaikat itu yakni bahwasanya dengan izin dan perintah dari Allah mereka memberikan jaminan perlindungan bagi orang yang teguh memegang pendirian bertuhan kepada Allah itu, baik semasa hidupnya di dunia terutama di akhirat kelak. Maka bertambah condonglah kita kepada pendapat yang telah kita kemukakan diatas tadi, yaitu bahwa malaikat datang bukanlah semata-mata dikala orang yang teguh pendirian itu akan meninggal saja bahkan pada masa hidup dalam kondisi apapun. Fahruddin menulis dalam tafsirnya tentang maksud ayat ini, malaikat memberikan perlindungan atau pimpinan ialah bahwa kekuatan malaikat itu ada pengaruhnya atas orang yang beriman denagn membukakan keyakinan yang penuh dalam suatu pendirian, dan memberikan ketegakkan yang hakiki, yang tidak meragukan lagi, sehingga jiwa itu berani menghadapi segala kemungkinan apapun.
Segala kepayahan dan penderitaaan mempertahankan pendirian itu dikala hidup di dunia terobatlah pada masa itu. Tercapaiklah sudah apa yang telah diperingatkan oleh Allah SWT bahwa Dia adalah Maha Pengampun. Sehingga orang yang telah terlanjur berbuat dosa selama inin asalkan dia betul-betul taubat, dosanya diampuni dan amalnya diterima. Dia Maha Penyayang, yaitu lebih senang dan memberikan ganjaran yang penuh kasih sayang terhadap hambanya yang patuh dan taat.
QS. Al-Ahqaaf (46): 13-14
Artinya: 
13. Sesungguhnya orang yang mengatakan Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita.
14. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Orang-orang yang mengaku bahwa Allah SWT adalah Tuhannya dan menjadikan Allah SWT sebagai sentral dalam segala sesuatu. Lalu mereka istiqomah, teguh, yang merupakan derajat tinggi. Derajat itu berupa ketenangan jiwa dan ketenteraman hati serta keistiqomahan perasaan. Sehingga tidak galau dan ragu-ragu karena adnya berbagai pengaruh yang keras, bervariasi dan banyak. Derajat itu berupa keistiqomahan perbuatan dan perilaku yang bersifat stabil dan dinamis meskipun banyak bisikan.
QS. Al-Furqon (25): 32
Artinya: Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan Al-Qur’an itu kepada Muhammasd dengan sekaligus?”. Diturunkan Al-Qur’an dengan cara demikian karena menetapkan hatimu (wahai Muhammad) dengannya, dan kami nyatakan bacaannya kepadamu dengan teratur satu persatu.
Ayat ini berkaitan dengan istiqomah hati, yakni senantiasa teguh dalam mempertahankan kesucian iman dengan cara menjaga kesucian hati daripada sifat syirik, menjauhi sifat-sifat cela seperti riya dan hendaknya menyuburkan hati dengan sifat terpuji, terutamanya ikhlas, dengan kata-kata lain istiqomah hati mempunyai maksud keyakinan yang kukuh terhadap kebenaran.
QS. Ibrahim (14): 27
Artinya: Allah menetapakan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimat yang tetap teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
Ayat ini berkaitan dengan istiqomah lisan, yaitu dengan memelihara lisan atau tutur kata daripada kata-kata supaya senantiasa berkata benar dan jujur setepat kata hati yang berpegang pada prinsip kebenaran dan jujur, tidak berpura-pura, tidak bermuka-muka, dan tidak berdolak-dalik. Istiqomah lisan terdapat pada orang yang beriman berani menyatakan dan mempertahankan kebenaran dan hanya takut kepada Allah SWT.
Karakteristik Perilaku Istiqomah
a. Mempunyai Tujuan
Sikap istiqomah hanya mungkin memasuki jiwa seseorang bila mereka mempunyai tujuan atau ada sesuatu yang ingin dicapai, mereka mempunyai visi yang jelas dan dihayatinya dengan penuh kebermaknaan. Merekapun sadar bahwa pencapaian tujuan tidaklah datang begitu saja, melainkan harus diperjuangkan dengan penuh kesabaran, kebijakan, kewaspadaan dan perbuatan yang memberikan kebaikan semata dengan menetapkan tujuan, mereka mampu merencanakan setiap tindakannya serta mengelola aset dirinya agar bekerja lebih efisien dan efektif. Dalam bidang pekerjaan, mereka menghayati benar apa yang menjadi batas tugas dan tanggungjawabnya dan mereka harus berperan melaksanakan tugas-tugasnya tersebut. Mereka tidak pernah menunda atau membengkalaikan tugas-tugasnya karena merasa ada tenggang waktu yang harus dikejar, karena hal itu akan menghambat bahkan menyimpang dari arah tindakan untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.
b. Kreatif
Orang yang memiliki istiqomah akan tampak dari kreatifitasnya, yaitu kemampuan untuk menghasilakan sesuatu melalui gagasan-gagasannya yang segar dan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar serta tidak takut terhadap kegagalan, melainkan ia takut terhadap kemalasannya untuk mencoba.
Ciri-ciri orang yang kreatif diantaranya memiliki kekuatan motivasi untuk berprestasi, komitmen, serta inisiatif dan optimis.
c. Menghargai Waktu
Waktu adalah aset Illahiah yang paling berharga, bahkan merupakan kehidupan yang tidak dapat disia-siakan, sebagaimana yang difirmankan dalam QS. Al-Ashr.
Ciri-ci orang yang menghargai waktu diantaranya tanggungjawab dan disiplin dan tidak menunda-nunda waktu. Kedua tanda tersebut adalah salah satu ciri orang yang mempunyai kecerdasan ruhaniyah dan etos kerja yang mengillahi, menepati waktu dengan penuh rasa waspada dan hati-hati, mempunyai tanggungjawab dengan tidak menyia-nyiakan waktu melaikan ia menjadikan waktu sebagai lapangan untuk berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya karena suatu saat hak pakai akan segera dicabut oleh Sang Pemilik Waktu.
e. Bersikap Sabar
Sabar merupakan suasana batin yang tetap tabah, istiqomah pada awal dan akhir ketika menghadapi tantangan dan mengemban tugas dengan hati yang tabah dan optimis, sehinnga dalam jiwa orang yang sabar terkandung beberapa hal, yaitu menerima dan menghadapi tantangan dengan tetap konsisten dan berpengharapan, tetap mampu mengendalikan dirinya, tidak monoton dalam menilai sesuatu.
Contoh Perilaku Istiqomah
Kita harus mampu mengambil sikap sikap keteladanan dari Rasulullah SAW dalam hal keteguhan beliau membawa misi risalah dakwahnya. Suatu saat Abu Thalib membujuk Rasulullah SAW agar berhenti berdakwah. Rsulullah SAW dengan percaya diri dan teguh pendirian menjawab, “Wahai pamanku, demi Allah, kalau mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan agama ini (dakwah) tidaklah aku akan meninggalkannya sehingga Allah memberi kemenangan agama ini atau aku hancur di dalamnya.”
Istiqomah berarti konsisten pada jalan yang lurus walaupun sejuta halangan menghadang. Ini bukan idealisme, tetapi sebuah karakter yang melekat pada jiwa pribadi seorang muslim yang memiliki semangat tauhid laa ilaaha illallahu. Sebagaimana Bilal seorang mu’adzin yang tetap mengucapkan, “Ahad..Ahad..Ahad ..!” walaupun dicambuk dan klitnya melepuh karena dibakar di atas pasir panas dan ditindih batu yang besar di atas perutnya. Istiqomah tangguh menghadapi badai berjalan sampai ke batas, berlayar sampai ke pulau. Kuliah sampai diwisuda dan kalau perlu berdagang sampai menjadi konglomerat, mengapa tidak?
Untuk mencapai semua itu, maka kuncinya adalah istiqomah.
Sikap keteguhan ini mulai pudar diantara kita. Sebaliknya, semangat serta mutiara akhlak Rasulullah telah menjadi sumber inspirasi bangsa-bangsa lain yang justru bukan muslim.
Misalnya, sikap konsisten mempertahankan pendirian atau istiqomah itu ditunjukkan oleh seorang ilmuwan yang kita kenal, yaitu Galileo Galilei (lahir di kota Pisa tahun 1564). Dia menemukan pendulum sebagai alat untuk mengatur jam. Ketika ia mengunjungi Venesia pada usia 45 tahun, suatu kejadian lain mengubah hidupnya. Ia mendengar mengenai peralatan baru yang disebut teleskopdan bergegas pulang untuk merancang sebuah, dimulai dengan pembesaran 3 kali dan meningkatnya menjadi 32 kali pembesaran. Teleskop buatannya sendiri itu ternyata sangat bagus dan merupakan teleskop pertama yang digunakan untuk astronomi, sehingga kemudian banyak diminta di seluruh Eropa. Dengan kelebihan teknologi itu, ia kemudian menyumbangkan banyak penemuan penting seperti terungkapnya permukaan Mars ternyata tidak halus atau datar (melainkan berlubang-lubang) serta galaksi Bima Sakti benar-benar merupakan gugusan bintang. Galileo juga menemukan setelit-satelit Yupiter dan cincin Saturnus.
Dukungannya terhadap teori Nikolaus Copernicus yang menyatakan bumi bukan merupakan pusat alam semesta, serta mengejutkan peradaban manusia. Dewan pimpinan Gereja Katolik yang menuduhnya melakukan pelecehan, mengadilinya pada tahun 1633 dan menjebloskannya ke dalam tahanan rumah. Dia menimbulkan perdebatan besar di kalangan ilmuwan ketika dia menerbitkan bukunya yang berjudul
Dialog Mengenai Dua Sistem Utama Dunia
( Dialogue on the Two System of the World ) yang diterbitkan pada tahun 1632. Bukunya mendukung teori yang diajukan oleh Copernicus yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Galileo tidak surut atau melacurkan diri untuk mengubah hasil penemuannya kendati dia harus menghadapi hukuman dari Kerajaan Gereja Vatikan melalui penjara dan dikucilkan ( excomunicatio). Dia tidak menyerah pada kekuasaan demi kebenaran walaupun Kardinal Bellarmine telah memperingatkannya enam belas tahun sebelumnya mengenai hal-hal yang dapat terjadi kepadanya jika berani menyatakannya. Paus sendiri lantas memerintahkan agar iia ditahan, dia kemudian diadili di Roma, dan dia menghabiskan delapan tahun dari hidupnya berada dalam tahanan rumah. Vatikan tidak pernah menyatakan bahwa mereka melakukan kekeliruan sampai tahun 1984, sekalipun mereka kemudian membatalkan tuntutan terhadapnya. Galileo telah membuktikan bahwa bumi hanyalah sebuah titik dalam suatu alam semesta yang sangat besar dan tentu bukan merupakan pusat darinya. Yang tidak banyak dikenal oleh umat Islam bahwa semangat itu pada awalnya diilhami oleh para ilmuwan muslim pada saat kejayaannya di Andalusia.
DAFTAR PUSTAKA
Hafidz, Imam al-Faqih Abi Zakariya Muhyiddin Yahya an-Nawawi. Riyaadh ash-Sholihin . Surabaya.
Mu’is, Fahrur dan Muhammad Suhadi. 2009.
Syarah Hadits Arbain an-Nawawi . Bandung: MQS Publishing
Suar, Teja. (ed.). 2004. Islam Saja! Bekal Bagi Pemuda Muslim . Bandung: Kalam UPI Press.
Tasmara, Toto. 2001. Kecerdasan Ruhaniyah (Transcedental Intellegence). Jakarta: Gema Insani Press.
Tasmara, Toto. 2002. Membudayakan Etos Kerja Islami . Jakarta: Gema Insani Press.

AKHLAH TERPUJI 51 | SHIDQ

​SIFAT SHIDDIQ
Ash-shidqu atau benar adalah sesuainya sesuatu dengan kenyataannya, baik berupa perkataan, sikap, ataupun perbuatan. Dalam bahasa kita, istilah lainnya adalah jujur. Ash-shidqu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa. Rasulullah SAW bersabda,

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ ﻓَﺎِﻥَّ ﺍﻟﺼِّﺪْﻕَ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍِﻟﻰَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari)
Dalam hadits yang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda,

ﺃَﺭْﺑَﻊٌ ﺇِﺫَﺍ ﻛُﻦَّ ﻓِﻴْﻚَ ﻓَﻼَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻣِﻤَّﺎ ﻓَﺎﺗَﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ : ﺣِﻔْﻆُ ﺃَﻣَﺎﻧَﺔٍ ﻭَﺻِﺪْﻕُ ﺣَﺪِﻳْﺚٍ ﻭَﺣُﺴْﻦُ ﺧَﻠِﻴْﻘَﺔٍ ﻭَﻋِﻔَّﺔُ ﻣِﻦْ ﻃُﻤْﻌَﺔٍ

“Empat perkara yang apabila ada padamu, tidak akan merugikan lepasnya segala sesuatu dari dunia dari padamu, yaitu: memelihara amanah, tutur kata yang benar, akhlak yang baik, dan bersih dari tamak.” (HR. Ahmad)
Keutamaan Shiddiq
1. Memperoleh Ketenangan Jiwa
Jiwa yang tenang merupakan modal yang amat berharga dalam meraih kehidupan yang bahagia di dunia ini. Manakala manusia bisa berlaku benar atau jujur dalam hidupnya, niscaya dia akan memperoleh ketenangan jiwa yang didambakannya itu. Hal ini karena dusta merupakan bagian dari dosa yang dapat menggelisahkan jiwa. Rasulullah SAW bersabda,

ﺍَﻹِﺛْﻢُ ﻣَﺎﺣَﺎﻙَ ﻓِﻰ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﻭَﻛَﺮِﻫْﺖَ ﺃَﻥْ ﻳَﻄَّﻠِﻊَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ

“Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka bila hal itu diketahui orang lain.” (HR. Ahmad)
2. Memperoleh Keberkahan Hidup
Keberkahan dalam hidup ini adalah kehidupan yang membawa manfaat dalam kebaikan yang banyak. Untuk meraih keberkahan, seorang muslim harus berlaku benar atau jujur. Rasulullah SAW bersabda,

ﺍَﻟْﺒَﻴِّﻌَﺎﻥِ ﺑِﺎﻟْﺨِﻴَﺎﺭِﻣَﺎﻟَﻢْ ﻳَﺘَﻔَﺮَّﻗَﺎ، ﻓَﺈِﻥْ ﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻌَﺎﻥِ ﻭَﺑَﻴَّﻨَﺎ، ﺑُﻮْﺭِﻙَ ﻟَﻬُﻤَﺎﻓِﻰ ﺑَﻴْﻌِﻬِﻤَﺎ، ﻭَﺍِﻥْ ﻛَﺘَﻤَﺎ ﻭَﻛَﺬَﺑَﺎ، ﻓَﻌَﺴَﻯﺎَﻥْ ﻳَﺮْﺑَﺤَﺎﺭَﺑْﺤَﺎ، ﻭَﻳَﻤْﺤَﻘَﺎ ﺑَﺮَﻛَﺔَ ﺑَﻴْﻌِﺤِﻤَﺎ .
“Penjual dan pembeli mempunyai hak untuk menentukan pilihan selama belum saling berpisah. Jika keduanya berlaku jujur dan menjelaskan yang sebenarnya, transaksi mereka diberkahi. Namun, jika keduanya saling menyembunyikan kebenaran dan berdusta, mungkin keduanya mendapatkan keuntungan tapi melenyapkan keberkahan transaksinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Memperoleh Keselamatan
Keselamatan dalam hidup di dunia dan akhirat selalu kita minta kepada Allah swt. dalam doa yang kita panjatkan. Sesudah kita berdoa, tugas kita adalah berusaha mendapatkannya. Salah satu usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan keselamatan dalam hidup ini adalah berlaku jujur meskipun kejujuran itu kadangkala membuat para pendusta menjadi tidak senang dan akan mencelakakan diri kita karena hakikat keselamatan sebenarnya adalah hal-hal yang bisa mengantarkan kita kepada surga. Rasulullah saw. bersabda,

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﻫُﻤَﺎ ﻓﻰِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ

“Kamu harus berkata benar, karena sesungguhnya ia bersama kebajikan dan keduanya adalah dalam surga.” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah)
4. Tercatat Sebagai Ahli Kebenaran
Digolongkan oleh Allah dan Rasul-Nya ke dalam kelompok orang yang benar merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kita. Sebab, bila seseorang selalu mempertahankan kebenaran dan kejujuran dalam dirinya, niscaya dia dikelompokkan ke dalam kelompok orang-orang yang benar. Rasulullah SAW bersabda,

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺼِّﺪْﻕِ ﻓَﺎِﻥَّ ﺍﻟﺼِّﺪْﻕَ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﻭَﺍِﻥَّ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍِﻟﻰَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳَﺼْﺪُﻕُ ﻭَﻳَﺘَﺤَﺮَّﻯ ﺍﻟﺼِّﺪْﻕَ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻜْﺘَﺐَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻِﺪِّﻳْﻘًﺎ

“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa pada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur.” (HR. Bukhari)
5. Terhindar dari Kemunafikan
Sangat tidak menyenangkan bila kita mengaku sebagai orang beriman tapi Allah SWT tidak mau mengakuinya dan mengelompokkan kita ke dalam orang yang munafik. Sebab, bila kita berlaku benar atau jujur, kita akan terhindar dari kemunafikan dan dikelompokkan ke dalam kelompok orang-orang munafik. Ini merupakan salah satu ciri orang munafik yakni berdusta. Rasulullah SAW bersabda,

ﺀَﺍﻳَﺔُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺛَﻼَﺙٌ : ﺍِﺫَﺍ ﺣَﺪَّﺙَ ﻛَﺬَﺏَ ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻭَﻋَﺪَ ﺃَﺧْﻠَﻒَ ﻭَﺍِﺫَﺍﺋْﺘُﻤِﻦَ ﺧَﺎﻥَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata dusta, bila berjanji mangkir, dan bila dipercaya khianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

AKHLAH TERPUJI 50 | Diam


​Dalam upaya mendewasakan diri kita, salah satu langkah awal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menjadi pribadi yang berkemampuan dalam menjaga juga memelihara lisan dengan baik dan benar. Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw:

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﻟِﻴَﺼْﻤُﺖْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam. “, (HR.Bukhari).
1. Jenis-jenis Diam
Sesungguhnya diam itu sangat bermacam-macam penyebab dan dampaknya. Ada yang dengan diam menjadi emas, tapi ada pula dengan diam malah menjadi masalah. Semuanya bergantung kepada niat, cara, situasi, juga kondisi pada diri dan lingkungannya.
Berikut ini bisa kita lihat jenis-jenis diam:
a. Diam Bodoh. Yaitu diam karena memang tidak tahu apa yang harus dikatakan. Hal ini bisa karena kekurangan ilmu pengetahuan dan ketidakmengertiannya, atau kelemahan pemahaman dan alasan ketidakmampuan lainnya. Namun diam ini jauh lebih baik dan aman daripada memaksakan diri bicara sok tahu.
b. Diam Khianat. Ini diamnya orang jahat karena dia diam untuk mencelakakan orang lain. Diam pada saat dibutuhkan kesaksian yang menyelamatkan adalah diam yang keji.
c. Diam Marah. Diam seperti ini ada baiknya dan adapula buruknya, baiknya adalah jauh lebih terpelihara dari perkataan keji yang akan lebih memperkeruh suasana. Namun, buruknya adalah dia berniat bukan untuk mencari solusi tapi untuk memperlihatkan kemurkaannya, sehingga boleh jadi diamnya ini juga menambah masalah.
d. Diam Utama (Diam Aktif). Yang dimaksud diam keutamaan adalah bersikap diam hasil dari pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa enggan bersikap menahan diri (diam) maka akan menjadi maslahat lebih besar dibanding dengan berbicara.
2. Keutamaan Diam Aktif
a. Hemat Masalah. Dengan memilih diam aktif, kita akan menghemat kata-kata yang berpeluang menimbulkan masalah.
b. Hemat dari Dosa. Dengan diam aktif maka peluang tergelincir kata menjadi dosa pun menipis, terhindar dari kesalahan kata yang menimbulkan kemurkaan Allah.
c. Hati Selalu Terjaga dan Tenang. Dengan diam aktif berarti hati akan terjaga dari riya, ujub, takabbur atau aneka penyakit hati lainnya yang akan mengeraskan dan mematikan hati kita.
d. Lebih Bijak. Dengan diam aktif berarti kita menjadi pendengar dan pemerhati yang baik, diharapkan dalam menghadapi sesuatu persoalan, pemahamannya jauh lebih mendalam sehingga pengambilan keputusan pun jauh lebih bijak dan arif.
e. Hikmah Akan Muncul. Yang tak kalah pentingnya, orang yang mampu menahan diri dengan diam aktif adalah bercahayanya qolbu, memberikan ide dan gagasan yang cemerlang, hikmah tuntunan dari Allah SWT akan menyelimuti hati, lisan, serta sikap dan perilakunya.
f. Lebih Berwibawa. Tanpa disadari, sikap dan penampilan orang yang diam aktif akan menimbulkan wibawa tersendiri. Orang akan menjadi lebih segan untuk mempermainkan atau meremehkan.
Selain itu, diam aktif merupakan upaya menahan diri dari beberapa hal, seperti:
1. Diam dari perkataan dusta
2. Diam dari perkataan sia-sia
3. Diam dari komentar spontan dan celetukan
4. Diam dari kata yang berlebihan
5. Diam dari keluh kesah
6. Diam dari niat riya dan ujub
7. Diam dari kata yang menyakiti
8. Diam dari sok tahu dan sok pintar
” Puncak perkataan yang menghantarkan ke surga. Mudah-mudahan kita menjadi terbiasa berkata benar atau diam. Semoga pula Allah ridha hingga akhir hayat nanti, saat ajal menjemput, lisan ini diperkenankan untuk mengantar kepergian ruh kita dengan sebaik-baik perkataan yaitu kalimat tauhid

AKHLAH TERPUJI 49 | integritas muslim


​Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian integritas adalah mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kewibawaan dan kejujuran.
Makna integritas muslim dapat dipahami dari 10 hal di bawah ini
Pertama adalah aqidah yang bersih, dimana keimanan kita hanyalah pada Allah SWT dan ini menunjukkan salah bentuk integritas kita yaitu komitmen dan loyalitas. Jika kita tidak loyal terhadap keimanan kita maka kita sudah pasti masuk ke dalam orang yang menyekutukan Allah SWT. Dan efek dari ketidak loyalan kita adalah azab Allah SWT yang pedih.
“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Sesungguhnya Aku-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa Sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al Hijr : 49 – 50)
Maka dari itu salah satu bentuk integritas kita terhadap Allah SWT adalah memiliki aqidah yang bersih.
Kedua adalah ibadah yang benar, disini kita diajarkan untuk melakukan ibadah sesuai dengan aturan yang telah Allah tetapkan dans sesuai dengan yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAW. apa bentuk integritas dari “ibadah yang benar”? jawabannya adalah disiplin, kita belajar untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. kita berusaha untuk tidak menambahkan bentuk ibadah atau pun mengurangi nya itu merupakan salah satu bentuk integritas kita sebagai muslim. Ini adalah salah satu bentuk ikhtiar kita untuk menunjukkan diri sebagai orang yang beriman.
Ketiga adalah akhlak yang kokoh, berarti kita harus menjadi orang yang memiliki prinsip sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mungkin ini terkesan idealis tapi disinilah salah bentuk integritas sedang diuji, mungkin tak hanya satu tapi semua bentuk integritas sedang diuji, salah satu nya adalah kejujuran, mungkin sudah banyak orang menggambarkan integritas sebagai bentuk kejujuran padahal kejujuran adalah salah satu cabang integritas. Namun hal ini pun sudah dibahas dalam Al-Qur’an
“Wahai orang-orang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan jadilah kamu (hidup) bersama orang-orang yang jujur” (QS. At-Taubah :119)
Keempat adalah kekuatan jasmani, ini adalah salah bentuk integritas dalam hal tanggung jawab, bagaimana pertanggung jawaban kita terhadap fisik yang telah Allah SWT berikan pada kita, dan suatu ujian rasa syukur akan pemberian keadaan fisik yang telah Allah SWT, karena saat kita tidak menjaga atas apa yangtelah Allah SWT titipkan pada kita, maka secara tidak langsung sikap integritas kita pun sudah luntur.
Kelima adalah berwawasan luas, ini adalah salah satu bentuk komitmen dan tanggung jawab kita terhadap kecerdasan yang telah Allah SWT berikan dan salah satu bentuk ujian agar dapat kita renungi bahwa sebenarnya dengan berwawasan luas maka kita sedang berusaha mencoba pencipta kita baik dari makhluk-Nya maupun dari fenomena alam yang terjadi seperti firman yang Allah SWT turunkan pertama kali adalah QS. Al-Alaq yaitu Bacalah! yang berarti bukan hanya sekedar membaca tapi juga mengambil ilmu dari atas apa yang kita perhatikan, fikirkan, dll.
Keenam adalah melawan hawa nafsu merupakan salah bentuk dari sikap tanggung jawab kita, saat ita tidak dapat menahan atau melawan nafsu kita maka keburukan lah yang kita dapat saat kebohongan dalam diri lebi besar maka kejujuran menjadi kecil dan mungkin bisa jadi kita pun sudah merasa bahwa kebohongan pun bukan suatu masalah besar itulah salah satu contoh dimana kita penting untuk melawan hawa nafsu karena saat bukanlah seorang muslim jika dia bersifat munafik.
Rasul Saw. bersabda : “Hendaklah kalian semua menjadi jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan menyampaikan kalian ke syurga. Bialamana seseorang itu jujur dan menguasai sifat jujur (secara terus menerus), maka Allah menetapkannya sebagai seorang yang jujur. Dan sekali-kali jangan kalian berbohong, karena sesungguhnya kebohongan itu menggiring kalian kepada berbagai kejahatan (dosa) dan sesungguhnya berbagai kejahatan itu akan menggiring kalian ke neraka. Bilamana seseorang itu berbohon dan terus menerus berbohong, maka Allah akan menetapkannya sebagai pembohong.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketujuh adalah pandai menjaga waktu salah satu bentuk dari kedisiplinan kita, saat kita mampu memanage waktu maka sesibuk apapun kita, maka secara perlahan permasalahan yang kita hadapi akan selesai dan juga menunjukka salah satu bentuk loyalitas kita dan kita pun akan menjadi orang yang amanah karena waktu tidak dapat kembali.
“Waktu bagaikan sahabat yang sangat keras diluar tapi lembut didalam, saat kita memanfaatkannya dengan baik maka dia pun akan membalas dengan hasil yang baik, namun saat kita menyia-nyiakan nya dia bersikap sangat keras, meskipun kita memohon, dia tidak akan mengembalikan masa-masa yang dimana kita telah melakukan banyak kemudharatan.”
Kedelapan adalah teratur dalam segala urusan, ini juga melatih kedisiplinan kita dan menunjukkan kualitas kita terhadap orang lain. saat kita teratur dalam urusan maka akan sedikit orang yang kita abaikan amanah nya. Dan ini bisa menjadi parameter KESUKSESAN seorang muslim, karena saat dia teratur dalam urusannya maka kesuksesan pun akan datang dengan sendirinya.
Kesembilan adalah mandiri dari segi ekonomi, ini menunjukkan tentang kualitas seorang muslim dimana seorang muslim diwajibkan untuk menjadi sosok mandiri terutama dalam segi ekonomi dan inilah salah satu cabang dimana integritas kita diuji, jangan sampai harta yang kita cari berasal dari usaha yang buruk karena akan berpengaruh terhadap ibadah kita yang lain (mungkin ini akan dibahas lebih jauh).
Kesepuluh adalah bermanfaat bagi orang lain, disini pula lah integritas bisa kita ukur dimana kualitas diri ini dapat diukur dan terlebih lagi adalah semakin kita bermanfaat bagi orang lain maka kualitas diri ini bisa jadi meningkat dan ini bisa jadi parameter tentang kefuturan diri, jika diri ini menjadi sering tidak bermanfaat bisa jadi diri ini sedang futur.
Tanpa disadari ternyata dalam setiap muwashoffat muslim ini membantu kita untuk melatih integritas kita, maka patut kita syukuri sebagai seorang muslim ternyata Islam telah mengajarkan hal itu. Sekarang tinggl bagaimana diri kita, apa kita akan segera melatih diri untuk mencapai muwashoffat ini dengan siap atas segala konsekuensinya? atau kita akan berdiam diri dan hanya faham integritas secara definisi namun tidak secara dalam kehidupan nyata.

AKHLAH TERPUJI 48 | CINTA


​Definisi Cinta
Ada beberapa pengertian tentang cinta yang disebutkan dalam berbagai sumber. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata cinta diartikan sebagai perasaan kasih dan sayang terhadap sesuatu atau orang lain. Secara istilah maka cinta dapat dimaknai sebagai suatu perasaan yang dialami manusia dan perasaan tersebut menimbulkan kasih sayang bagi yang merasakannya. 
Cinta dalam pandangan islam sendiri adalah limpahan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluknya sehingga Allah menciptakan manusia dan isinya dengan segala kesempurnaan. Adapun cinta yang sebenarnya atau cinta yang hakiki adalah hanya milik Allah SWT karena hanya Allah lah yang maha sempurna dan maha pemilik cinta. Dalam pengertian lain, islam juga memandang cinta sebagai dasar persaudaraan antar manusia dan perasaan yang melandasi hubungannya dengan makhluk lain seperti pada hewan dan tumbuhan. Ibnu Hazm sendiri menyebutkan bahwa cinta adalah suatu naluri atau insting yang menggelayuti perasaan seseorang terhadap orang yang dicintainya. (baca keutamaan menyambung tali silaturahmi )
Dalil Cinta Dalam Alqur’an
Cinta adalah salah satu pokok kehidupan dan dalam Alqur’an kata cinta juga disebutkan dengan berbagai sinonim atau persamaan kata. Adapun ayat-ayat yang menyebutkan perihal cinta adalah sebagai berikut

Al Imran ayat 14

ﺯُﻳِّﻦَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﺣُﺐُّ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺒَﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻨَﺎﻃِﻴﺮِ ﺍﻟْﻤُﻘَﻨْﻄَﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬَّﻫَﺐِ ﻭَﺍﻟْﻔِﻀَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺍﻟْﻤُﺴَﻮَّﻣَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﻌَﺎﻡِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺮْﺙِ ۗ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ۖ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋِﻨْﺪَﻩُ ﺣُﺴْﻦُ ﺍﻟْﻤَﺂﺏِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Al Imran ayat 92

ﻟَﻦْ ﺗَﻨَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﺒِﺮَّ ﺣَﺘَّﻰٰ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ۚ ﻭَﻣَﺎ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻪِ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Al Hujurat ayat 7

ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥَّ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻟَﻮْ ﻳُﻄِﻴﻌُﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﻛَﺜِﻴﺮٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮِ ﻟَﻌَﻨِﺘُّﻢْ ﻭَﻟَٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﺒَّﺐَ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥَ ﻭَﺯَﻳَّﻨَﻪُ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﻛَﺮَّﻩَ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺴُﻮﻕَ ﻭَﺍﻟْﻌِﺼْﻴَﺎﻥَ ۚ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪُﻭﻥَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, 

Maryam ayat 96

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﺳَﻴَﺠْﻌَﻞُ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَٰﻦُ ﻭُﺩًّﺍ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Al Isra ayat 24

ﻭَﺍﺧْﻔِﺾْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺟَﻨَﺎﺡَ ﺍﻟﺬُّﻝِّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺍﺭْﺣَﻤْﻬُﻤَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺑَّﻴَﺎﻧِﻲ ﺻَﻐِﻴﺮًﺍ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Ar Rum ayat 21

ﻭَﻣِﻦْ ﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﺃَﻥْ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﺃَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ﻟِﺘَﺴْﻜُﻨُﻮﺍ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢْ ﻣَﻮَﺩَّﺓً ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔً ۚ ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟَﺂﻳَﺎﺕٍ ﻟِﻘَﻮْﻡٍ ﻳَﺘَﻔَﻜَّﺮُﻭﻥَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Al Maidah ayat 54

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻣَﻦْ ﻳَﺮْﺗَﺪَّ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﺤِﺒُّﻬُﻢْ ﻭَﻳُﺤِﺒُّﻮﻧَﻪُ ﺃَﺫِﻟَّﺔٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﺃَﻋِﺰَّﺓٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻳُﺠَﺎﻫِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺨَﺎﻓُﻮﻥَ ﻟَﻮْﻣَﺔَ ﻟَﺎﺋِﻢٍ ۚ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳُﺆْﺗِﻴﻪِ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ۚ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺍﺳِﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
Cinta Menurut Pendapat Para Ulama
Cinta dalam islam sendiri adalah sesuatu yang sudci dan hal ini disebutkan dalam beberapa pendapat ulama berikut ini
Menurut Ibn Katsir
Ibn Katsir Rahimahullah menjelaskan maksud bahwa Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang sangat mencintai Allah”, dan karena kecintaannya itu maka seseorang atau orang-orang beriman akan berusaha untuk menyempurnakan pengetahuannya tentang islam dan senantiasa mematuhi dan menjauhi larangannya serta senantiasa bertawakal dan menyerahkan segala sesuatu kepada Allah SWT. (baca manfaat beriman kepada Allah SWT )
Menurut Ibn Taimiyyah
Menurut perkataan Ibn Taimiyyah yaitu “Sesungguhnya orang-orang beriman yakni mereka mereka mencintai Allah SWT lebih kecintaan orang-orang musyrik terhadap tuhan-tuhannya dan hal tersebut adalah karena orang-orang musyrik melakukan kesyirikan dalam cinta (baca syirik dalam islam) atau mahabbah, sedangkan orang-orang beriman akan senantiasa mencintai dan rasa cinta mereka pada Allah SWT adalah tulus tanpa mengharapkan suatu apapun selain rahmat dan ridhanya. (baca juga dosa yang tak terampuni oleh Allah )
Menurut Ibn Qayyim al jauziyyah
Sedangkan menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, ada empat bentuk atau empat macam cinta kepada Allah SWT, mencintai semua hal yang dicintai oleh Allah, mencintai seseuatu atau orang lain karena Allah dan mensejajarkan cinta sebagaimana kecintaannya kepada Allah SWT.
Bentuk-bentuk Cinta
Cinta memang suatu perasaan yang tidak mungkin manusia untuk tidak merasakannya. Ada berbagai bentuk cinta dalam kehidupan manusia dan setiap bentuk cinta tersebut memiliki perbedaan meskipun pada dasarnya semua bentuk cinta adalah sama. Berikut ini adalah bentuk-bentuk cinta menurut pandangan islam dan para ulama
1. Cinta kepada Allah SWT
Cinta yang paling tinggi dalam kehidupan manusia terutama umat islam adalah cinta kepada Allah SWT sang pencipta segala isi bumi dan semesta dan yang maha memiliki cinta. Umat muslim yang mencintai Allah akan merasa bahwa sebagai hamba Nya kita tidak dapat hidup tanpa adanya kasih sayang dan cinta dari Allah SWT. Maka dari itu, mencintai allah SWT adalah mutlak bagi setiap umat muslim. Orang yang mencintai tentunya akan melakukan segala sesuatu untuk yang dicintainya, termasuk jika seorang mukmin mencintai Allah SWT. Ia akan selalu berusaha untuk mengikuti segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 165 berikut

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﺘَّﺨِﺬُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻳُﺤِﺒُّﻮﻧَﻬُﻢْ ﻛَﺤُﺐِّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۖ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﺷَﺪُّ ﺣُﺒًّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ ۗ ﻭَﻟَﻮْ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻇَﻠَﻤُﻮﺍ ﺇِﺫْ ﻳَﺮَﻭْﻥَ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓَ ﻟِﻠَّﻪِ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﻭَﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat mencintai Allah .” (QS al-Baqarah: 165)
Dan jika seseorang tidak lagi memiliki rasa cinta pada Allah SWt apalagi ajarannya maka tertutuplah hatinya

ﻗُﻞْ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ۗ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang . (Surah ali-Imran: 31)
2. Cinta Terhadap Alam Sekitar
Setelah mencintai Allah yang merupakan pencipta dari seluruh isi alam semesta maka seorang hamba yang memiliki rasa cinta pada Allah SWT juga akan mencintai segala yang diciptakannya dan berusaha menjaganya (baca tujuan penciptaan manusia ). Sebagaimana kita tahu bahwa Allah SWT memerintahkan umatnya untuk senantiasa menhaga lingkungan sekitar dari kerusakan karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi yang akan melindungi alam dan memanfaatkannya dengan baik (baca hakikat penciptaan manusia ). Rasa cinta pada alam sekitar dapat diwududkan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menyayangi tumbuhan serta menyayangi hewan. Perbuatan manusia menyakiti hewan atau tumbuhan serta merusak alam adalah hal yang dibenci Allah SWT dan bukan merupakan rasa cinta yang ada dan ditanam dalam hati manusia.
3. Cinta Terhadap Sesama Manusia
Cinta adalah fitrah dan mencintai sesama manusia juga merupakan suatu fitrah yang diberikan Allah SWT. Dalam ajaran atau syaruat Islam, cinta kepada manusia adalah seharusnya merupakan perwijudan dari cinta kepada Allah SWT. Dapat dikatakan jika seseorang mencintai Allah SWt maka ia pun akan mencintai manusia lainnya dan hal inilah yang mendorong manusia untuk berbuat baik kepada sesamanya atau yang dikenal dengan akhlak. Allah juga menyebutkan dalam Alqur’an bahwa Allah menciptakan manusia agar dapat saling mengenal dan mengasihi. Sebagaimana Allah berfirman dalam yat berikut ini

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰٰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ۚ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ﺧَﺒِﻴﺮٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu sekalian saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah ialah orang-orang yang paling takwa di antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat:13).
Kesalahan tentang Cinta
Jadi pada dasarnya islam memandang rasa cinta sesama manusia adalah suatu fitrah dan wajar terjadi dan cinta tersebut dapat diwujudkan dengan saling tolong menolong dan menjalin suilaturahmi. Adapun islam tidak membolehkan umatnya untuk menyalahgunakan cinta untuk hal-hal yang dilarang dalam agama misalnya fenomena pacaran sebelum nikah yang sudah menjadi budaya masyarakat saat ini (baca pacaran dalam islam dan pacaran beda agama). 
Cinta yang semestinya dapat muncul apabila seseorang menikah dan berumah tangga atas dasar cinta kepada Allah SWT. Sedangkan cinta yang terkadang juga diselimuti nafsu justru dapat memberikan akibat yang tidak baik dan menjerumuskan pelakunya dalam perbuatan zina (baca cara menghapus dosa zina dan amalan penghapus dosa zina ). Agar dapat menghindari hal tersebut maka sebaiknya seorang senantiasa mencintai Allah SWT diatas cinta lainnya karena cinta inilah yang akan membentenginya dari segala perbuatan maksiat.
Pada hakikatnya cinta adalah menyangkut kehidupan spiritual dan emosional seseorang dan cinta yang paling benar adanya adalah cinta kepada Allah SWT. Cinta sendiri dapat menjadi energi yang menggerakkan kehidupan manusia jika dilakukan dengan cara yang benar.


AKHLAH TERPUJI 47 | Kecerdasan


​Pandangan islam mengenai kecerdasan
1. A. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan (dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka ) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami secara sempurna.
J.P chaplin merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru dengan cepat dan efektif; (2) Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif yang meliputi empat unsur seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengkritik; (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Willian stern mengemukakan bahwa intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang induvidu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohani secara umum yang disesuaikan dengan problema-problema kehidupan.
B. Macam-macam Kecerdasan
1. Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah yang berhubungan dengan proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Atau, kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemexahan masalah dengan menggunakan logika. Menurut Thurstone, dengan teori faktornya, menentukan 30 faktor yang menentukan kecerdasan itelektual, tujuh diantaranya yang dianggap paling utama untuk elabilitas -ebiliatsan mental, yaitu : 
(1) mudah dalam mempergunakan bilangan; 
(2) Baik ingatan; 
(3)Mudah menangkap hubungan-hubungan percapakan; 
(4) Tajam Penglihatan; 
(5) Mudah menarik kesimpulan dari data yang ada; 
(6) Cepat mengamati; dan 
(7) cakap dalam memecahkan berbagai problem. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan rasio ( rational intelligence ), sebab ia menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah.
Dengan kehadiran konsep-konsep baru tentang kecerdasan, maka IQ tidak lagi bermakna intelligence quotient , melainkan intellectual quotient . Perubahan ini sebagai bandingan dengan istilah EQ ( emotional quotient ), MQ ( Moral quotient), dan SQ ( spiritual quotient ).
2. Keceradan Emosional
Goleman mendefinisikan emosi dengan perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi juga merupakan reaksi kompleks yang mengkait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling) yang kuat atau disertai keadaan efektif.
Crow and Crow mendefinisikan emosi dengan suatu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang dapat dilihat melalui tingkah laku.
Salovey dan Meyer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah kemampuan mengenali emosi dari sendiri, mengenali orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain. Ciri utama pikiran emosional adalah respons yang cepat tetapi ceroboh, mendahulukan perasaan daripada pemikiran, realitas simbolik yang seperti anak-anak, masa lampau di posisikan sebagai masa sekarang, dan realitas yang ditentukan oleh keadaan.
Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja dari otak kanan, sedangkan kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut Deporter dan Hernacki, otak kanan manusia memiliki cara kerja yang logis, sekuensial, rasional, dan linier.
Kendala yang sering menghalangi kecerdasan emosi adalah rasa malu, tidak mampu mengekspresikan perasaan, terlalu emosional, perasaan yang mendua, frustasi, tidak ada motivasi diri, sulit berempati, dan sulit berteman.
3. Kecerdasan Moral
Robert Coles mengemukakan bahwa kecerdasan moral seolah-olah bidang ketiga dari kegiatan otak setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional) yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator kecerdasan moral adalah bagaimana seseorang memiliki pengetahuan tentang moral yang benar dan yang buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan moral yang benar ke dalam kehidupan nyata, dan menghindarkan diri dari moral yang buruk. Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan moral, sedangkan orang yang jahat merupakan orang yang “idiot” moral.
Poedjawijatna mendefinisikan moral dengan “sikap dan tindakan yang mengacu pada baik dan buruk. Normanya adalah menentukan benar salah sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik dan buruknya. Sementara Bourke mendefinisikan moral (sebagai pandangan etika) dengan sudut pandang studi sistematis tentang tindakan manusia dari sudut pandang benar-salah, yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan puncak. Objek material adalah tindakan manusia, sebagai objek formalnya adalah kualitas kebenaran dan kesalahan dalam perilaku.
4. Kecerdasan Spiritual
Zohar dan Marshall mendefenisikan kecerdasan spiritual sebagai puncak kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spiritual dan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spiritual lebih dalam, lebih luas dan lebih transenden daripada kecerdasan moral. Kecerdasan spiritual merupakan konsep yang berhubungan dengan bagaimana sseorang ‘cerdas’ dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna ( the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencarai makan hidup dan mendambakan hidup yang bermakna.
5. Kecerdasan beragama
Kecerdasan beragama adalah kecerdasan qalbu yang menghubungkan dengan kualitas beragama dan ketuhanan. Kecerdasan ini mengarahkan pada seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya menghasilkan ketaqwaan secara mendalam, denagn dilandasi oleh eman kompetensi keimanan, lima kompetensi keislaman, dan multi kompetensi ihksan.
C. Bentuk-bentuk kecerdasan intelektual, emosional, moral, spiritual, dan agama dalam psikologi islam
Bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah seperti kecerdasan intelektual, emosi, moral, spiritual, dan beragama sulit dipisahkan, sebab semuanya merupakan perilaku qalbu. Barangkali yang dapat membedakannya adalah niat dan motivasi yang mendorong perilaku qalbiah, apakah perilaku itu berasal dari insaniah atau ilahiah. Adapun bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah yaitu :
Pertama , kecerdasan ihkbat, yaitu kondisi qalbu yang memiliki kerendahan dan kelembutan hati, merasa tenang dan khusyu dihadapan Allah, dan tidak menganiaya orang lain. Kecerdasan ikhbat dapat diartikan sebagai kondisi qalbu yang kembali dan mengabdi denagn kerendahan hati kepada Allah, merasa tenang jika berzikir kepada-Nya, tunduk dan dekat kepada-Nya. Kondisi ikhbat merupakan dasar bagi terciptanya kondisi jiwa yang tenang, yakin dan percaya kepada Allah.
Kedua , kecerdasan zuhud. Secara harfiah zuhud berarti berpaling, menganggap hina dan kecil, serta tidak merasa butuh terhadap sesuatu. Kecerdasan zuhud memiliki tiga tingkatan : pertama, zuhud dari hal-hal yang syubhat. Kedua, zuhud dari penggunaan harta yang berlebihan. Dan ketiga, zuhud dalam zuhud.
Ketiga, kecerdasan wara’. Wara’ adalah mejaga diri dari perbuatan yang tidak baik, yang dapat menurunkan derajat dan kewibawaan diri seseorang.
Keempat , kecerdasan dalam berharap baik (Raja’). Raja’ ialah berharap terhadap sesuatu kebaikan terhadap Allah SWT dengan disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tawakkal. Hal itu tentunya berbeda dengan al-Tamanni (angan-angan), sebab merupakan harapan dengan bermalas-malasan tanpa disertai dengan usaha.
Raja’ dapat berupa harapan seseorang terhadap pahala setelah ia melakukan ketaatan kepada Allah SWT, atau harapan ampunan darinya setelah ia bertobat dari dosanya. Menurut Ibnu Qayim raja’ memiliki tiga tingkatan; pertama harapan yang mendorong seseorang untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, sehingga melahirkan kenikmatan batin dan meninggalkan larangan. Kedua, harapan orang-orang yang mengadakan latihan, agar ia dapat membersihkan hasratnya dan terhindar dari kemudhorotan masa depan. Ketiga, harapan kalbu seseorang untuk bertemu pada Tuhannya dan kehidupannya dimotivasi oleh kerinduan kepadanya.
Kelima, kecerdasan Ri’ayah. Ialah memelihara pengetahuan yang pernah diperoleh dan mengaplikasikannya dengan perilaku nyata. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah, ilustrasi ini menunjukkan bahwa pendekatan perolehan ilmu bukan hanya melalui fakultas piker belaka, tapi juga harus menyertakan fakulta dzikir. Gabungan keduanya akan melahirkan ulu al-bab , yaitu orang yang beriman dan beramal shaleh. Dan kecerdasan ini merupakan bentuk kecerdasan intelektual-qalbiah.
Menurut Ibnu Qayyim, orang yang telah berilmu memiliki tiga tingkat; pertama, Riwayah yaitu seseorang yang hanya sekedar menerima dan meriwayatkan ilmu pengetahuan dari orang lain. Kedua, Dirayah, yaitu orang yang berusaha memahami, menganalisa, mengkritisi, dan memikirkan maknanya. Ketiga, Riayah, yaitu orang yang mengaplikasi apa yang diketahui melalui perbuatan nyata.
Keenam, kecerdasan Muqorrobah. Yaitu berarti kesadaran seseorang bahwa Allah SWT mengetahui dan mengawasi apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diperbuatnya baik lahir maupun batin. Sehingga tidak sedetikpun waktu yang terbuang untuk mengingat-Nya.
Ketujuh, kecerdasan Ikhlas. Yaitu kemurnian dan ketaatan yang ditujukan kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan baik lahir maupun batin. Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, ikhlas dikaitkan pada kondisi ibadah seseorang yang terhindar dari perbuatan penyekutuan Tuhan dengan sesuatu. Sedangkan menurut Qayyim, ikhlas dibagi kedalam tiga tingkat; pertama, tidak menganggap bernilai lebih terhadap perbuatan yang dilakukan. Kedua , merasa malu terhadap perbuatan yang telah dilakukan sambil berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya. Ketiga, berbuat dengan ikhlas melalui keihklasan dalam berbuat yang didasarkan atas ilmu dan hukum-hukum-Nya.
Kedelapan, kecerdasan istiqomah. Ialah berarti melakukan suatu pekerjaan baik melalui prinsip kontinuitas dan keabadian. Ibnu Qoyyim membagi istiqomah dalam tiga tingkatan; Pertama, istiqomah dalam arti kesederhanaan dalam bersungguh-sungguh sehingga tidak melampaui batas pengetahuan, ikhlas dan sunnah. Kedua, Istiqomah keadaan, dengan menyaksikan hakikat sesuatu berdasarkan ilmu dan cahaya kesadaran. Hakikat ini meliput hakikat Kauniyah dan hakikat Diniyyah. Ketiga, istiqomah dengan cara tidak menganggap berarti istiqomah yang pernah dilakukan, sehingga ia terus berusaha untuk beristiqomah pada jalan yang benar.
Kesembilan, kecerdasan Tawakkal, yaitu menyerahkan diri sepenuh hati, sehingga tiada beban psikologis yang dirasakan. Dalam hal ini tawakkal yang dimaksud adalah mewakili atau menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT, sebagai Zat yang mampu menyelesaikan semua urusan.
Tawakkal menghindarkan seseorang dari sikap meterialis, dikatakan demikian karena tawakkal menuntut seseorang untuk menggunakan harta benda secukupnya, meskipun batas kecukupan itu relatif. Untuk memperoleh tawakkal yang sesungguhnya, Ibnu Qayyim memberikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut; >memiliki keyakinan yang benar tentang kekuasaan dan kehendak Allah, mengetahui hokum sebab akibat akan urusan yang dikerjakan, memperkuat qalbu dengan tauhid, menyandarkan qalbu kepada Allah SWT dan merasa tenang disisinya, memiliki persangkaan yang baik terhadap Allah SWT, menyerahkan Qolbu sepenuhnya kepada Allah dan menghalau apa saja yang merntanngi, pasrah atau menyerahkan segala urusan kepada-Nya.
Ibnu Qayyim lebih lankut mengemukakan tiga tingkatan tawakkal; pertama,tawakkal yang disertai dengan permohonan dan menempuh sebab-sebab memperoleh permohonan tersebut. Kedua, tawakkal yang tidak disertai dengan permohonan sehingga ia meninggalkan sebab-sebabnya. Ketiga, tawakkal dengan mengetahui hakikat tawakkal, sehingga dapat membebaskan dari penyakit dan menambah kepercayaan akan keagungan Tuhan.
Kesepuluh , Kecerdasan Sabar. Berarti menahan, maksudnya menahan diri dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar tidak mengeluh. Sabar dalam pandangan ibnu Qayyim terbagi atas dua macam pengertian; Pertama, sabar adalah menahan diri dari segala yang tidak menyenangkan, Kedua sabar adalah ketabahan yang disertai sikap berani, melawan dan menentang terhadap sesuatu yang mnimpah.
Ibnu Qayyim selanjutnya mengemukakan tiga terminology sabar yang mencerminkan stratifikasinya. Pertama, stratifikasi al-tashabbur, yaitu sabar terhadap kesulitan dan tidak merasakan adanya kesedihan. Kedua, al- shabr yaitu sikap yang tidak merasa terbebani terhadap adanya musibah dan kesulitan. Ketiga, al-ishtibar yaitu menikmati musibah dengan perasaan gembira.
Lebih lanjut Ia menyebut tiga jenis sabar; petama, sabar bi-Allah yaitu sabar yang lazim diperankan oleh kebanyakan orang, yang selalu mengharap pertolongan dari-Nya. Kedua, sabar li-Allah yaitu sabar yang diperankan oleh al-muridin yang motif sabarnya tidak lain karena Cinta kepada Allah. Ketiga sabar ma’a-Allah yaitu sabar yang dilakukan oleh orang-orang yang menempuh jalan spiritual dengan cara tunduk dan senang melaksanakan perintah-Nya.
Kesebelas, kecerdasan Ridho, adalah rela terhadap apa yang dimiliki dan diberikan. Ridho merupakan kedudukan spiritual seseorang yang diusahakan setelah ia melakukan tawakkal. Untuk mengukur benar tidaknya ridho seseorang, Ibnu Qayyim memberikan batasan-batasan, tiga diantaranya adalah; Pertama, sebagai pihak yang pasrah seorang hamba harus rela terhadap pilihan Allah SWT karena hal itu mengandung hikmah. Kedua, hamba yakin bahwa takdir Allah SWT baik tentang nikmat atau cobaan tidak akan berubah. Ketiga, sebagai hamba, seorang tidak boleh benci atau marah terhadap pilihan atau pemberian Tuhannya.
Keduabelas, kecerdasan Syukur, adalah menampakkan nikmat Allah SWT. Syukur dilakukan dengan tiga tahap; pertama, mengetahui nikmat, dengan cara memasukkan dalam ingatan bahwa nikmat yang diberikan oleh pemberi telah sampai pada penerima. Kedua, menerima nikmat dengan cara menampakkan pada pemberi bahwa ia sangat butuh terhadap pemberian-Nya dan tidak minta lebih. Ketiga, memuji pemberian-nya dengan cara membaca hamdalah.
Ibnu Qayyim membagi syukur kedalam tiga tingkatan; pertama, sukur terhadap sesuatu yang dicintai. Kedua, syukur terhadap sesuatu yang dibenci. Ketiga, syukur tanpa mengenal objek yang diterima.

AKHLAH TERPUJI 46 | BASHIRAH DAN FIRASAT


​Bashirah dan Firasat
Bashirah adalah satu-satunya sumber ‘irfan yang mampu menjadi petunjuk pada ranah ilham dan pikiran.
Bashirah adalah alat pertama yang digunakan roh untuk memersepsi esensi dari berbagai hal. Bashirah adalah kesadaran batin yang mampu mendiagnosa dan melihat nilai-nilai rohaniah pada berbagai entitas yang sulit bagi akal untuk menjangkaunya disebabkan ketergantungannya pada warna, bentuk, penampilan, dan kualitas. Bashirah adalah bentuk persepsi yang disinari oleh tajaliyat Ilahiyah dan dihiasi oleh pancaran kelembutan Dzat Allah. Pada saat kemampuan persepsi mengalami kesulitan, atau kelelahan karena harus mengarungi lembah imajinasi; pada saat itu ia akan menyepi bersama berbagai rahasia yang ada di balik entitas, tanpa membutuhkan dalil atau pun saksi. Ia akan mengembara menyusuri tempat-tempat yang pasti akan membuat akal kebingungan. Di situlah ia akan mencapai “Haqîqah al-Haqâiq ” (hakikat segala hakikat). [1]
Al-Bashar adalah salah satu sifat nuraniyah (bercahaya) [2] di antara sekian banyak sifat-sifat Allah yang mulia. Sementara “bashîrah ” adalah kemampuan manusia yang kualitasnya sesuai dengan bagian untuknya dari sifat Allah ini, dengan mengikuti timbangan “Kami telah menentukan antara mereka (qasamnâ bainahum) penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ,” (QS. al-Zukhruf [43]: 32).
Rasulullah Muhammad s.a.w. adalah manusia yang mendapat bagian paling besar dalam tajalli ini. Beliau juga menjadi manusia yang paling banyak mengambil manfaat dari mata air ketuhanan ini. Itulah sebabnya, beliau menjadi sumber ilham bagi semua orang yang muncul setelah beliau. Rasulullah adalah satu-satunya cermin cemerlang bagi tajalliyat Allah al-Haqq s.w.t. yang tidak ada seorang pun yang mampu menyamai beliau dalam hal ini.
Allah s.w.t. berfirman: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…’ .” (QS. Yusuf [12]: 108). Ayat ini menjadi penjelasan yang menunjukkan sejauh mana keistimewaan dan keagungan dari apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w. dan para pengikut beliau terhadap anugerah Ilahiyah ini.
Berkat adanya kemampuan persepsi nuraniyah ini, maka dalam satu tarikan napas seorang musafir yang melakukan mi’raj ke langit akan dapat melihat berbagai hal yang ada di balik tirai entitas -yang menjadi “kebutaan” bagi mereka yang tidak memiliki persepsi seperti ini. Ia akan mengembara di dalamnya dan menelaahnya seperti layaknya sebuah buku yang terbuka di hadapannya. Ia akan mengarungi kegaiban yang menjadi lembaran ideal bagi Rukun Iman yang selama ini ia yakini. Di situ, ia akan dapat mendengar suara pena takdir yang dapat membuat jantung manusia copot dari dada jika mereka mendengarnya. Ia akan lewat di dekat para bidadari lalu beroleh sambutan di “sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi) .” (QS. al-Najm [53]: 9); di sebuah titik yang di dalamnya terdengar senandung “tak bertempat, tak berwaktu, bukan bumi, bukan langit.” Di situlah ia akan mendapatkan banyak hadiah dan pemberian.
Terkadang, rasa musyahadah yang muncul di dalam bashirah mencapai kedalaman lain bersama firasat ( al-firâsah ). Karena persepsi mampu melihat “takwil mimpi” (maksudnya: menembus dimensi malakut yang terkandung dalam entitas). Di tempat yang memiliki tiga dimensi ini, roh hidup dengan beberapa dimensi sekaligus. Di situlah nurani akan menjadi seperti mata entitas yang mampu melihat, berdegup seperti jantung, dan berpikir seperti akal.
Adapun “firasat” ( al-firâsah ) yang berarti “intuisi” atau “persepsi”, sebenarnya bermakna: perubahan persepsi dan bashirah yang membuatnya semakin dalam. Mata yang memiliki bashirah yang terbuka terhadap tajalliyat cahaya Allah adalah milik orang-orang berwajah seperti rembulan yang tidak pernah tertipu oleh bayangan. Mereka melihat menggunakan cahaya bashirah dengan sangat jelas, termasuk di tempat yang sangat gelap. Mereka mampu melampaui kebingungan, tanpa perlu bergantung pada hal-hal syubhat sama sekali, dan mereka tidak pernah disandera oleh hal-hal parsial. Mereka mampu mencapai hâl dan menyaksikan al-sukr (ekstase) di pangkalnya. Mereka mampu menemukan oksigen dan hidrogen yang terkandung di dalam partikel air. Hati mereka selalu berkelana di dalam dimensi “al-farq “.
Sesungguhnya setiap noktah dari diri manusia, penampilan kosmos, setiap kata, atau setiap garis, adalah kata yang mengandung banyak makna. Bahkan semua itu adalah laksana buku terbuka bagi orang-orang yang mengembara di bawah naungan firman Allah: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda (al-mutawassimûn) [3] .” (QS. al-Hijr [15]: 75).
Dengan rahasia hadits: “Takutlah kalian terhadap firasat orang mukmin karena dia melihat menggunakan cahaya Allah,”[4] kita ketahui bahwa orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi telah bertahta di titik pengawasan yang di situ mereka dapat melihat seluruh penjuru entitas dan berinteraksi dengan hakikat segala sesuatu. Mereka mampu menelaah wajah entitas yang sebenarnya yang berada di balik tabir. Mereka dapat menebarkan cahaya kepada berbagai kejadian, sembari menatap wajah hakiki dari segala sesuatu sehingga mereka dapat melihat semua itu dengan mata kepala. Di dalam firdaus, mereka terus berlarian dari satu kenikmatan ke kenikmatan yang lain, dan meninggalkan orang-orang yang menghabiskan hidup mereka di sekitar lubang hitam yang gelap.
Dalam pandangan jiwa yang tidak membuka dan menutup matanya kecuali dengan firasat, entitas adalah seperti lembaran-lembaran dalam sebuah buku. Segala sesuatu, baik yang hidup maupun yang mati adalah kata-kata cemerlang yang memiliki seribu satu makna. Sesungguhnya wajah entitas dan perangai manusia adalah penjelasan paling gamblang yang tidak pernah menipu. Para spiritualis ( rijâl al-qlûb ) mampu melihat ayat-ayat yang terdapat di dalam buku itu, yang tidak dapat dilihat oleh setiap mata, sebagaimana mereka mampu mendengar ayat-ayat yang terdapat di dalam buku itu, yang tidak dapat didengar oleh setiap telinga; termasuk setiap kata di dalamnya yang mengkilap oleh cahaya, yang bahkan tidak dapat dibayangkan oleh akal yang paling cerdas sekalipun. Di setiap saat, mereka selalu merasakan berbagai keajaiban dan memiliki firasat untuk mengantisipasinya -setiap mukmin memiliki kemampuan seperti ini sesuai derajat spiritual mereka. Mereka menikmati semua itu dengan sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbersit dalam hati manusia.
Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati yang gemar mengaduh, luluh, dan mengadu kepadamu. Limpahkanlah selawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad sang pembimbing ke jalan-Mu, dan kepada segenap keluarga serta para sahabat beliau.
[1] Haqîqah al-Haqâiq = “Hakikat segala hakikat” adalah sekat tak kasat mata antara Wujud Ilahi dan kosmos. Lihat: Sufi Terminology , Amatullah Armstrong, 1995. Penj- [2] Nûrâniyyah : berarti “bercahaya”. Dalam kosmos, sesuatu yang bercahaya ( nurâniy ) adalah lawan dari sesuatu yang gelap ( zhulmâniy ). Lihat: Sufi Terminology , Amatullah Armstrong, 1995. Penj- [3] Al-mutawassim : Orang yang mengetahui pertanda; ia adalah orang yang mengetahui hal-hal yang ada di dalam relung hati dengan menggunakan petunjuk dan tanda-tanda (al-Qusyairi). [4] Al-Tirmidzi, Tafsir Surah al-Hijr .

AKHLAH TERPUJI 45 | MEMAAFKAN




​PEMBAHASAN
A.    Arti Maaf dalam Beberapa Pandangan
Kata “maaf” merupakan kata yang sering kita dengar apalagi menjelang hari Raya Idul Fitri. Tapi, apakah kita tahu arti dan makna dari kata “maaf” itu sendiri? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “maaf” memiliki tiga arti, arti yang pertama yaitu “pembebasan seseorang dr hukuman (tuntutan, denda, dsb) krn suatu kesalahan”, arti yang kedua yaitu “ungkapan permintaan ampun atau penyesalan” serta arti yang ketiga yaitu “ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu”. Dari ketiga arti tersebut, kita biasanya mengetahui arti maaf sebagai arti yang kedua, yaitu ungkapan permintaan ampun atau penyesalan.
Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa istilah yang berdekatan maknanya untuk mengistilahkan kata “maaf”. Kata yang pertama yaitu “al-afuw” yang secara bahasa berarti maaf atau ampun (pengampunan), bisa dilihat dari Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 52 yang berbunyi
ﺛُﻢَّ ﻋَﻔَﻮْ ﻧَﺎ ﻋَﻨﻜُﻢِ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُﻭﻥَ

Artinya: Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.
Kata yang selanjutnya yaitu ﺍﻟﺼﻔﺢ (al-shafh), ﻣﻐﻔﺮﺓ (maghfirah) yang keduanya memiliki arti maaf/ampunan.
Filosofis “maaf” dalam Islam menurut Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin yaitu sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. Islam mengajak umat Islam untuk saling memaafkan karena manusia sehari-harinya tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan. Orang yang memberi maaf memiliki keistimewaan yang tinggi di hadapan Allah SWT. seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syura ayat 40 yang berbunyi:
ﻓَﻤَﻦْ ﻋَﻔَﺎ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺢَ ﻓَﺄَﺟْﺮُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ

Artinya: “. . . maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. . . .”
Terkadang sulit bagi kita untuk memaafkan kesalahan orang lain, apalagi kalau kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang besar yang biasanya sampai menyakiti hati kita. Tapi, apabila kita terlalu lama menyimpan rasa dendam, benci dan marah di dalam hati kepada orang yang bersalah kepada kita, maka kita tidak akan pernah menikmati indahnya saling memaafkan antar sesama makhluk Allah SWT.
Dari hasil penelitian para psikolog di negeri maju menemukan bahwa mereka yang mampu memaafkan ternyata lebih sehat baik jasmani/raga maupun rohani/jiwa mereka. Gejala-gejala pada raga dan kejiwaan seperti susah tidur, sakit perut, dan sakit punggung akibat stress/tekanan jiwa, hal tersebut justru sangat berkurang pada para pemaaf. Di samping itu memaafkan juga mampu merendam emosi negatif, mematangkan mental, menjernihkan pikiran, menyiram perasaan dendam, serta meluaskan hati dan perasaan. Dengan memaafkan kita sedikit mengurangi penderitaan kita.
B.   Urgensitas
“Dengan memaafkan diri sendiri dan orang lain, kesehatan emosi kita akan meningkat”.(Forgiveness Institute)
Ada dua sisi dalam “Memaafkan”:
1.         Untuk diri sendiri.
2.         Untuk orang lain.
Kesalahan kita di masa lalu terkadang menjadikan kita takut untuk melangkah lebih maju. Padahal, sudah sewajarnya kita sebagai manusia melakukan kesalahan. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau menerimanya dan berubah menjadi lebih baik atau tetap terkungkung dalam “perasaan berdosa” yang terus kita rasakan?
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerima/memahami diri sendiri yaitu:
1.    Kita bukan manusia sempurna, yang bisa salah. Pahami baik buruknya yang sudah kita lakukan. Apakah ada pilihan lain saat itu….?
2.    Mungkin kita tidak mengerti konsekuensinya saat itu. Maksudnya baik tapi akibatnya bisa buruk. (contoh: ibu membelikan anaknya motor, tapi kemudian anaknya kecelakaan dan meninggal…..).
3.    Transformasikan kesalahan masa lalu. Daripada penyesalan berkepanjangan, lebih baik menebus kesalahan masa lalu dengan melakukan yang terbaik mulai sekarang. (contoh: ayah stroke karena dimarahin anaknya, si anak bisa memberikan perhatian penuh ke ayahnya yang sakit sekarang).
Lantas bagaimana kalau kesalahannya dilakukan oleh orang tua (kekarasan orang tua) ? inilah beberapa hal yang sebaiknya dilakukan :
1.    Mengakui bahwa masih ada rasa sakit dalam hati kita.
2.    Terus selanjutnya mau ngapain…? (langkah transformatif).
Lakukan sesuatu misalnya:
  a.    Minta pendapat orang lain
b. Bicarakan langsung dengan orangtua, katakan kalau kamu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi dan ungkapkan harapanmu ke orang tua.
c. Ekspresikan dalam bentuk lain , misalnya: prestasi yang istimewa, jadi orang terkenal, dsb.
d.    Tangani rasa sakit dengan baik
3.    Maafkan orangtua. Mungkin tidak bisa melupakan kesalahannya, pikirkan hal itu dengan cara yang berbeda, misalnya: apa manfaat dari sikap keras orangtua, misanya kita menjadi lebih tangguh menghadapi tantangan hidup, bagaimana supaya kita bisa menjadi orangtua yang lebih baik terhadap anak-anak kita (tidak mengulang kesalahan yang sama dari orangtua).
Kenapa memaafkan orang lain itu penting?
Setidaknya ada lima alasan kenapa kita sebaiknya memaafkan orang lain :
1.    Self-Help. Membantu diri sendiri, kenapa kita harus selalu dihantui kesalahan orang lain sementara dia sendiri sudah lupa dan lagi bersenang senang (kita buat diri kita sengsara ditengah kesenangan orang yang bersalah sama kita…, ngapain….!)
2.    Self-Speed. Kita bisa hidup lebih lapang, lega dan lancar. (maaf yang tertunda ibarat beban yang kita panggul mendaki puncak kesuksesanMkita…..)
3. Self-Health. Untuk kesehatan diri kita sendiri. Kata pakar kesehatan kalau kita merasa kesal, “racun” akibat kesal itu masih beredar didalam diri kita selama 5 jam. (ini cara hemat untuk hidupMsehat……)
4.    Self-Spiritual. Untuk kehidupan spiritual dan beragama yang lebih baik, lebih dekat kepada Tuhan. (orang yang berbuat jahat kepada kita sebetulnya dia telah mengurangi dosa-dosa kita… jadi, maafin aja & ucapkan terima kasih…)
5.    Self–Happiness. Dengan melepaskan “belenggu” amarah, kita akan menjadi lebih bahagia. Apa rahasia orang Jepang berumur panjang? karena mereka hanya mengingat memori yang menyenangkan saja. (jadi orang Jepang itu pemaaf …)
C. hikmah-hikmah
Dalam bahasa Arab, maaf diungkapkan dengan kata al-afwu . Kata al-afwu , berarti terhapus atau menghapus. Jadi, memaafkan mengandung pengertian menghapus luka atau bekas-bekas luka yang terdapat dalam hati. Dengan memaafkan kesalahan orang lain berarti berhubungan antara mereka yang bermasalah kembali baik dan harmonis karena luka yang ada di dalam hati mereka, terutama yang memaafkan, telah sembuh.
Islam mendorong Muslim untuk memiliki sikap pemaaf. Sifat ini muncul karena keimanan, ketakwaan, pengetahuan dan wawasan mendalam seorang Muslim tentang Islam. Seorang Muslim menyadari bahwa sikap pemaaf menguntungkan, terutama mebuat hati lapang dan tidak dendam terhadap orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga jiwanya menjadi tenang dan tentram. Apabila ia bukan pemaaf, tentu akan menjadi orang pendendam. Dendam yang tidak terbalas menjadi beban bagi dirinya. Ini penyakit berbahaya karena selalu membawa kegelisahan dan tekanan negatif bagi orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang bodoh yang tidak memiliki sikap pemaaf. Allah Subhanahu wa Ta-ala berfirman, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang baik, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS 7: 199).
Sikap pemaaf yang menjadi tradisi Muslim jauh lebih baik dari sedekah yang diberikan dengan diiringi oleh ucapan atau sikap yang menyakitkan bagi orang yang menerimanya. Allah Subhanahu wa Ta-ala berfirman, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakikan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyatun.” (QS 2: 263)
Seorang Muslim bukan hanya dituntut memberikan maaf. Ia juga diperintahkan berbuat baik kepada yang pernah berbuat salah kepadanya. Mereka yang mampu berbuat demikian mendapat kedudukan tinggi, pujian dan pahala yang baik dari Allah Subhanahu wa Ta-ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta-ala, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS 42: 40)
Suka memberi maaf kepada orang yang berbuat salah merupakan ciri orang bertakwa. Orang yang demikian akan memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya, meskipun yang bersalah tidak pernah minta maaf kepadanya. Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orasng-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang orang yang menahan amarahnya dan memmaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (QS 3: 1330134).
Sikap pemaaf perlu melekat pada diri Mulsim dan menjadikan akhlak karimahnya sebagai buah iman, takwa dan ibadahnya kepada Allah. Dengan sikap pemaaf, seorang Muslim di cintai Allah dan disenangi manusia. Dengan sikap pemaaf yang dimiliki setiap Muslim akan memperkokoh silaturahim antara sesama kita.
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam al-Quran adalah sikap memaafkan, yang bermaksud: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yangNcerdikBsungguh.”
Dalam ayat lain Allah s.w.t berfirman yang bermaksud: “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahawa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun,NMahaMPenyayang.”M(An-Nur:22)
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia al-Quran akan merasa sukar memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap apa pun kesalahan yang diperbuat. Padahal, Allah s.w.t telah menganjurkan orang beriman bahawa memaafkan adalah lebih baik: “… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (At-Taghaabun:14)
Juga dinyatakan dalam al-Quran bahawa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.”
Berlandaskan hal tersebut, orang beriman adalah orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran, “… menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan)MorangMlain.”M(Ali-Imran:134)
Para pengkaji percaya bahawa pelepasan hormon stres, keperluan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah daripada keping-keping darah, yang mengarah kepada pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan akan mengakibatkan kemungkinan terkena serangan jantung.
Pemahaman orang beriman tentang sikap memaafkan amat berbeza daripada mereka yang tidak menjalani hidup berlandaskan ajaran al-Quran. Meskipun banyak orang mungkin berkata bahawa mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti hati mereka, namun memerlukan waktu yang lama untuk membebaskan diri daripada rasa benci dan marah dalam hati mereka itu. Sikap mereka cenderung memperlihatkan rasa marah itu.
Oleh sebab mereka tahu bahawa manusia diuji di dunia ini, dan belajar daripada kesalahan mereka, maka mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih daripada itu, orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah. Ketika memaafkan, mereka tidak membezakan antara kesalahan besar dengan yang kecil. Seseorang boleh saja menyakiti mereka tanpa sengaja. Bagaimanapun, orang beriman sedar bahawa sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan beriringan sesuai dengan takdir tertentu, dan oleh sebab itu itu, mereka berserah diri dengan peristiwa.ini, tidak pernah. terbelenggu MolehSamarah.
Menurut kajian mutkahir, para ilmuwan Amerika Syarikat membuktikan bahawa orang yang mampu memaafkan adalah lebih sihat, baik jiwa mahupun anggota tubuh badannya. Orang (responden) yang dikaji menyatakan bahawa penderitaan mereka berkurangan setelah memaafkan orang yang menyakiti mereka. Kajian tersebut menunjukkan bahawa orang yang belajar memaafkan merasa lebih baik, tidak hanya secara batiniah, tetapi juga jasmaniah. Sebagai contoh, telah dibuktikan bahawa berdasarkan pengkajian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit belakang akibat stress (tekanan jiwa), susah tidur, dan sakit perut berkurangan pada golongan ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuatkan orang tetap sihat, dan merupakan sikap mulia yang seharusnya diamalkan oleh setiap orang. Dalam bukunya, “Forgive for Good” (Maafkanlah Demi Kebaikan), Dr. Frederic Luskin menjelaskan bahawa sifat pemaaf merupakani resepi yang telah terbukti bagi kesihatan dan kebahagiaan hidup. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf merupakan dasar terciptanya keadaan baik (elok) dalam fikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat, dan stress. Menurut Dr. Luskin lagi, kemarahan yang dipelihara menyebabkan kesan pada anggota badan dapat dilihat pada diri seseorang.
Sebuah tulisan berjudul “Forgiveness” (Memaafkan), yang diterbitkan dalam Healing Current Magazine (Majalah Penyembuhan Masa Kini) edisi September-Oktober 1996, menyatakan bahawa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri seseorang, dan merosakkan keseimbangan emosional, bahkan kesihatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menjelaskan bahawa orang menyedari setelah beberapa ketika bahawa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerosakan hubungan. Jadi, mereka mengambil pelbagai langkah untuk memaafkan orang yang menyakiti mereka.
Disebutkan juga bahawa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga daripada hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri sertaorang lain.
Semua kajian yang telah dilakukan menunjukkan bahawa kemarahan merupakan suatu keadaan fikiran yang merosakkan kesihatan manusia. Memaafkan, dari sisi lain, meskipun terasa berat, adalah suatu bahagian daripada akhlak terpuji, yang menghilangkan segala kesan yang boleh merosakkan daripada kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sihat, baik secara lahir mahupun batin.
D.   Dalil
“Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS Al-Nûr [24]:22)
“Di dalam Al-Quran Al-Karim diisyaratkan pentingnya memelihara “shilaturrahim”, seperti pada Surah Al-Nisâ’ [4], ayat 1, Bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain (dan peliharalah hubungan) rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
“Selain ayat tadi, ada juga ayat yang mengecam orang yang suka memutuskan tali persaudaraan, seperti, Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa akan membuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya pula mata mereka (QS Muhammad [47] : 22-23).”
“Bahkan, Al-Quran mewajibkan hubungan yang serasi setelah terjadi keretakan. Cobalah kamu perhatikan ayat berikut, Allah mengetahui bahwa kamu tadinya mengkhianati dirimu sendiri (tidak dapat menahan nafsumu sehingga bersetubuh di malam hari bulan Ramadhan dengan dugaan bahwa hal itu diharamkan), maka Allah memaafkan (QS Al-Baqarah [2]: 187).”
Seraya membuka sebuah buku tebal Ilman Nursyifa kemudian melantunkan ayat yang lain, Balasan dari kejahatan adalah kejahatan setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syûrâ [42]: 40).
“Nah, tidak ditemukan satu ayat pun yang menggunakan kata harus menunggu permintaan maaf sesama manusia. Yang ada hanya perintah memberi maaf, Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS An-Nuur [24]: 22). Dalam ayat ini, kamu dianjurkan untuk memberi maaf (al-afw) dan berlapang dada (al-shaft), yakni perintah memberi maaf sebelum berlapang dada menandakan pentingnya memberi pengampunan kepada seseorang.”
Seperti dijelaskan Al-Quran, Maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Maaidah [5]: 13).

Kesimpulan
Kata “maaf” merupakan kata yang sering kita dengar apalagi menjelang hari Raya Idul Fitri. Tapi, apakah kita tahu arti dan makna dari kata “maaf” itu sendiri? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “maaf” memiliki tiga arti, arti yang pertama yaitu “pembebasan seseorang dr hukuman (tuntutan, denda, dsb) krn suatu kesalahan”, arti yang kedua yaitu “ungkapan permintaan ampun atau penyesalan” serta arti yang ketiga yaitu “ungkapan permintaan izin untuk melakukan sesuatu”. Dari ketiga arti tersebut, kita biasanya mengetahui arti maaf sebagai arti yang kedua, yaitu ungkapan permintaan ampun atau penyesalan.
“Dengan memaafkan diri sendiri dan orang lain, kesehatan emosi kita akan meningkat”.(Forgiveness Institute)
Ada dua sisi dalam “Memaafkan”:
1.         Untuk diri sendiri.
2.         Untuk orang lain.
Kesalahan kita di masa lalu terkadang menjadikan kita takut untuk melangkah lebih maju. Padahal, sudah sewajarnya kita sebagai manusia melakukan kesalahan. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau menerimanya dan berubah menjadi lebih baik atau tetap terkungkung dalam “perasaan berdosa” yangmterusmkitajrasakan?
DAFTAR PUSTAKA
Al-Munzhiri, Z.D. (2002). Ringkasan Shahih Muslim . Bandung: Penerbit Mizan
Baron, R.A. & Byrne, D. (2004). Social Psychology: Undersatnding Human Interaction . Boston: Allyn and Bacon.
Enright, R.D. (20 Martin, Anthony Dio. 2003. Emotional Quality Management: Refleksi, Revisi dan Revitalisasi Hidup Melalui Kekuatan Emosi . Jakarta: Penerbit Arga.
Martin, A.D. (2003). Emotional Quality Management: Refleksi, Revisi dan Revitalisasi Hidup Melalui Kekuatan Emosi . Jakarta: Penerbit Arga.